curhatsampah

MLZ

Kadang saya suka gagal paham dengan sistem persaudaraan di NKRI. Saat kita lagi susah, melirikpun nggak, tapi ketika kita melakukan sebuah dosa yang menggemparkan masyarakat terus dibilangin.”Mereka telah mempermalukan keluarga!” Lha, sekarang kita keluarga nih?

Setelah bertahun-tahun belajar, saya udah nggak haus akan penerimaan. Kami udah move on, dan ketika ada drama baru, rasanya kok ya agak malesin gitu. Kalau tujuannya hanya untuk sebuah penghakiman, ya mending nggak usah jadi keluarga aja sih, dari kemarin kan hubungan kita baik-baik aja kan ya bro?

Diomongin orang wes biasa. Karena kita juga sadar nggak sadar ngomongin orang lah. Asal nggak ketahuan kan semua akan baik-baik aja.. Hahahah…. Cuma bagian paling menyedihkan dari semua ini adalah ketika orang yang selama ini mendengarkan kita, memberikan kata-kata mutiara dan support malah jadi pemicu perang puputan ini. Orang yang justru kita percaya nggak akan ngomongin kita karena kita BFF banget, malah jadi orang dibalik layar yang mempermalukan kita di tengah-tengah forum. Yah, mungkin seharusnya kami udah bisa memprediksi semua ini akan terjadi melihat dari karakter orang-orangnya.

Harusnya kalau nggak suka atau nggak setuju ya nggak usah bermanis-manis di depan. Diem aja. Kalau nggak enak ngomongnya ya tunjukin aja dari sikapnya. Toh kami juga males kok ngomonginnya, males cerita. Kami juga nggak mau kayak gini, kami juga nggak suka kayak gini. Tapi pernah nggak sih mikir, kalau ini semua terjadi di keluarga kalian? Eh tapi nggak mungkin kali ya, secara keluarga kalian tuh islami banget, beriman bangeet… 🙂

Dan sampailah pada sebuah kalimat “Punya keponakan kok memalukan!”. Wess chill out brooo, we don’t want to be your nieces in the first place. Yah hanya karena ibu bapakmu kebetulan adalah orangtua dari orangtuaku sorry kita harus sodaraan, well my bad… We don’t want to have each other as a family, so why are we so ribet?

Saya nggak membenarkan semua yang terjadi. Masing-masing punya andil dalam kejadian yang akhirnya menghebohkan ini. Saya pun begitu. Mungkin saya abai, mungkin saya melewatkan banyak hal dan mungkin saya kelewat nggak peduli sehingga ini terjadi. Kalau kejadiannya udah kayak gini, aku kudu piye?

Kadang saya mikir, ada berapa banyak orang yang bener-bener peduli? Saya yakin Sebagian besar cuma haus drama, ngebahas hanya karena ini adalah gosip super hot aja. Dan sebagian lagi akan ngerasa kasihan, bukan karena sayang, tapi hati kecilnya merasa bersyukur, karena hidup mereka lebih baik. Itu aja sih.

Kami udah nggak pengen tahu sih mana yang bener siapa yang salah. Versi mana yang asli dan siapa yang ngebajak. Saya mungkin udah kebanyakan nonton Law and Order dan sebagainya, makanya saya bisa kok menarik kesimpulan dari denger cerita dari saksi dan lihat karakter orang-orangnya. *tsaaaahhh~* dan terserah sih. Sakarepmu lah, saya cuma gendok aja atas nama anak shalehah hahaha… Badai pasti berlalu, begitupun dengan gossip-gossip ini. Nanti juga ada gosip baru orang pasti lupa. Yah sekali-kali jadi artis di gang sempit, latihan siapa tahu nanti jadi selebgram.

Mungkin semua kejadian ini nggak ada efeknya sama saya pribadi, tapi sedih sih lihat Mamah, karena deep down in her heart dia sedang sangat sensitif. Saya cuma berdoa semoga kejadian ini nggak terlalu berpengaruh sama kesehatannya, gula darah stabil dan tekanan darah normal.

Kadang orang terlalu sibuk menjadi orang paling Islam, paling beriman. Sampai lupa caranya jadi manusia.

Advertisements