curhatsampah

REBLOG: How To Survive A Broken Heart

“Sebenernya udah lama juga pengen nulis tentang ini, baru keinget lagi setelah baru aja tadi siang seorang temen curhat dan sharing, juga nanya gimana caranya gw survive broken heart. Kasusnya di dia saat ini adalah pacar beberapa tahunnya ada hubungan dengan wanita lain. Well, pretty bad, isn’t it? Maybe some of you had experienced this painful betrayal. Some of you maybe forgive him/her and continue your relationship, and some of you just leave and move on. Ga ada yang salah menurut gw. Latar belakang dan pengalaman orang berbeda, beda juga cara penyelesaian masalahnya.  Pacaran (termasuk perkenalan, hubungan-tanpa-status-pokoknya-langsung-nikah, temen-rasa-pacar, tunangan, jadi selingkuhan, perjodohan dan jenis hubungan lain yang menimbulkan HARAPAN *sekecil apapun* akan jenjang yang lebih serius) selalu punya kemungkinan untuk berakhir. Kalau Sang Maha Pembolak-balik Hati berkata kalian tidak berjodoh, apa boleh buat? 

Apa yang gw tulis ini adalah pandangan gw sendiri, berdasarkan apa yang gw rasakan, pengalaman sendiri dan orang-orang terdekat yang sharing, dan teori yang dipelajari dari ilmu kesehatan jiwa waktu kuliah, terutama tentang 5 stages of grief. Lima tahap berduka ini bukan cuma dirasakan karena ditinggalkan seseorang yang telah meninggal, tapi juga dirasakan oleh orang dengan jenis kehilangan yang lain, termasuk perceraian, juga “hilangnya kesehatan” karena terminal disease.

The first thing you’ll feel about the end of the relationship is… You don’t believe it ended. Banyak yang bertahan dengan suatu hubungan yang tidak menyenangkan (apapun alasannya, entah diselingkuhin/jadi selingkuhan, dijahatin, beda agama, udah ga nyaman, ga disetujui orangtua, merasa berjuang sendirian, dsb) dengan alasan sayang sama orang itu. Atau karena merasa sayang karena udah lama pacaran. Atau karena mungkin merasa seseorang itu telah memberikan (atau mengambil) hal yang berharga dalam hidupnya. Atau kalian merasa pasangan kalian itu sudah provide kebutuhan kalian baik physically maupun financially (ada loh ini). Tapi benarkah karena itu? Bukan karena ngerasa “kalau ga sama dia gw sama siapa lagi”? Bukan karena “gw rasa ga ada akan ada lagi yang sayang sama gw”? Biasanya yang bertahan adalah wanitanya. Pria biasanya mudah untuk melepaskan, tapi jangan salah, proses melupakan dan move on di pria (yang bener-bener sayang ya, bukan yang emang hobi kesana kesini) lebih lama.

Yang pertama dirasain adalah ga percaya, denial. Rasanya “kenapa ya kok jadi kayak gini?” “kok dia tega banget ya sama gw?” “Gw salah apa ya”…

Nah caranya buat melewati fase ini adalah sadari bahwa hubungan kalian sudah berakhir. Ga ada orang yang bilang patah hati rasanya enak. Ga enak. Rasanya kayak zombie gatau mau ngapain. Capek nangis. Atau bisa juga saking sakitnya ga bisa nangis. Your world seems empty. Everything you had with him/her seems like a lie.

“Ah, gw mau bertahan aja, masalah pernikahan nanti bakal jauh lebih berat kan..”

Ini ada benernya juga, tapi menurut gw ini ga berlaku kalau pasangannya selingkuh. Gini, selingkuh mungkin ada alasannya ya, entah kalian lagi ada masalah berat terus orang ketiga hadir memberi kenyamanan, entah emang ada sesuatu dari kalian yang ga ada di orang ketiga itu sehingga dia berpaling, atau emang pasangannya doyan aja mudah tergoda, kalian harus mikir juga bahwa pasangan kalian telah menyerah pada hubungan kalian. Pasangan kalian menyerah dengan mencari orang lain. Saat pacaran ada masalah atau ada yang kurang saja mencari orang lain, bayangkan masalah pernikahan yang nanti akan terjadi… Apakah dia akan menyelesaikannya dengan mencari orang lain juga? Bukan dengan berdiskusi kemudian sama-sama memperbaiki diri… Atau seberat-beratnya berpisah secara BAIK-BAIK? Pikirkan, kalian sudah memberikan apa yang kalian bisa, yang terbaik, setia, menyayangi orang itu, namun toh ternyata tidak cukup untuk dia setia sama kalian. Apalagi yang harus kalian perbaiki?

Terimalah bahwa hubungan kalian akan telah berakhir, dan kalian sudah mengusahakan yang terbaik yang kalian bisa. 

Hal berikutnya yang mungkin akan kalian rasakan, adalah merasa kesel dan marah setengah mati sama orang itu karena udah nyakitin kalian. Rasanya pengen bales dendam supaya dia sakit juga. Marah boleh, tapi jangan sampai menghancurkan aspek kehidupan kalian yang lain, misalnya kalian marah-marah di depan umum/teman2/keluarga/temen kerja sampe akhirnya justru masalah kalian terekspos lalu menyulitkan diri kalian sendiri. Marahlah dengan classy. Hahahaha.

Lalu, saat marah itu berlalu, yang berikutnya akan dirasakan adalah kesedihan yang mendalam… Yang ini disebut fase depresi. Ada saat-saat dimana rasanya sepi, sedih, sendirian… Kalian bisa aja cerita, sharing sama seluruh dunia kalau kalian patah hati, tapi sebenernya itu ga bikin jadi baik. Saat hal-hal yang biasanya dilakukan bareng pasangan sekarang harus dilakukan sendirian. Saat waktu kosong yang biasanya kalian isi dengan ketemuan atau teleponan jadi hampa, saat ada kabar gembira atau sedih yang pengen kalian kasih tau pertama adalah dia… Rasanya pengen ngulang waktu aja, supaya ga sayang sama dia, atau ga ngelakuin kesalahan yang bikin orang itu ninggalin kita. Tapi kita ga bisa berbuat apa-apa lagi. Itu pasti menyedihkan…  Ga sedikit orang yang ga bisa mengungkapkan perasaannya dengan leluasa jadi sakit jiwa di RSJ karena patah hati. Ada yang lari ke hal-hal merusak diri kayak minum-minum, dugem, ngobat, dll. Ada juga yang bunuh diri (duh!) saking beratnya depresi.  Buat yang belum mengalaminya atau yang mudah melaluinya mungkin bakal mencibir. Tapi buat beberapa orang patah hati bisa jadi hal yang sangat berat lho.

Saat-saat ini yang paling baik dilakukan adalah mencari kegiatan positif, menyibukkan diri, refreshing… Kalau punya kerjaan fokus aja kerja sebaik mungkin… Yang tadinya kerja sesuai yang dikerjain terus mepet deadline, kerja lebih rajin dan lebih baik. Yang tadinya ga punya waktu ngurus diri, coba ke salon… Atau liburan… Atau fitness???? Hahahaha. Katanya sih aktivitas fisik yang cukup bikin pikiran lebih jernih. Waktu itu sih gw kebetulan mau ujian, jadi setidaknya ada hal yang bisa mengalihkan fokus. Dan saat-saat gini, jangan lupa inget sama Tuhan. Sebenernya kita ga boleh mendekatkan diri sama Allah hanya saat-saat susah. Tapi mungkin yang tadinya ga inget bahwa perasaan ada yang mengatur, jadi inget dan berdoa.. Berdoa mohon ketenangan hati. Berdoa mohon segalanya dimudahkan dan semoga apapun pilihan kalian adalah jalan yang terbaik. 

Hal yang kemudian dialami adalah  bargaining atau proses tawar menawar. Ada keinginan mendesak buat balikan. “Aku perbaikin diri aku, kita balikan ya..”. Ada saat-saat pengen banget nelepon dan ga tahan akhirnya neleponin dia berulang-ulang. Tapi tetep ga dipeduliin. Ada yang ngancem bunuh diri kalo ga balikan, ga mau makan kalo ga balikan dan hal absurd lain. Sebenernya cara mencegah ini, dari awal saat memutuskan hubungan akan berakhir, itu lebih baik hapus semua kontaknya. Bukan memutus silaturahmi, tapi itu perlu, untuk menyadari bahwa semua sudah berakhir. Supaya ga kegoda buat kepo. Supaya bisa berpikir lebih jernih. Bukan berarti ga bisa temenan setelah putus, tapi itu ga bisa terjadi gitu aja. Jaga jarak sesaat setelah putus itu perlu.

Yah.. Kemudian.. Akhirnya setelah empat proses itu.. Denial, angry, depression, bargaining, tibalah saat acceptance, penerimaan… Akhirnya kita bisa ikhlas melepaskan. Proses dalam stagenya bisa cepet, bisa lambat, bisa diloncat, kebolak-balik, bisa ulang lagi dari awal. Tapi kita harus punya keyakinan bahwa THIS SHALL PASS. Semua kesedihan dan rasa sakit akan berakhir.

Percaya atau ngga, sebagian besar orang yang selingkuh pada akhirnya menyesal, dan pengen balik ke hubungan sebelumnya (baik diungkapkan maupun tidak), saat orang yang diselingkuhinnya itu sudah menata hati dan baik-baik saja. Bagaimana kalau itu terjadi??

“Katanya dia nyesel, dia mau balikan lagi sama gue, katanya dia janji ga akan kayak gitu lagi… “

Terus harus gimana dong? Ini terserah diri kita masing-masing. Lebih mudah emang ga balik dan move on aja.  Tapi menurut gw, don’t go back to him/her if you couldn’t stand the possibilities that they will do the same thing in the future. Jangan kembali dan berharap dia ga akan melakukan hal yang sama. Mau balikan lagi sah-sah aja, tapi kalian harus punya plan jika pasangan kalian melakukan kesalahan yang sama, apa yang akan kalian lakukan. Misal “Kalo dia kayak gitu lagi, gw akan ninggalin dia.”, atau “Yaudah gw terima dia dengan dia yang suka kayak gitu.” Atau yang ekstrim dan agak konyol kayak temen gw “Gw kalo punya rumah atau apapun propertinya harus atas nama gw supaya kalo dia pas kawin sama gw selingkuh lagi, gw setidaknya dapet rumah!” Hahahahahha.

Karena menurut gw, lebih mungkin merencanakan apa yang akan kita lakukan jika dia begitu lagi, dibandingkan dengan memastikan pasangan kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Karena akan sangat melelahkan jika kita terus curiga dan ketakutan pasangan akan menyakiti kita lagi.

Tapi perlu gw tekankan bahwa mungkin kejadiannya akan berbeda ketika kita sudah menikah dan memiliki anak… Karena pasti kita akan memikirkan kebahagiaan anak diatas kebahagiaan kita, bukan? Nah selama kalian belum menikah dan memiliki anak dan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diingiinkan, tidak ada salahnya kita memilih baik-baik pasangan hidup kita diimbangi dengan berdoa dan berusaha.

Hargailah diri kalian sendiri dengan memilih pasangan hidup yang baik. Kalau kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri, siapa lagi? Udah banyak banget quotes yang bilang jika kita tidak melepaskan hal yang tidak baik untuk kita, maka kita akan mencegah diri kita sendiri untuk mendapatkan yang terbaik. Hal yang baik dateng saat tidak terduga, saat justru kita sudah tidak mengharapkannya lagi dan menikmati apa yang kita punya dan bersyukur. Yang ini berdasarkan pengalaman sendiri.

Yang berlalu ya mau gimana lagi. Maafkan orang yang menyakiti kita. Anggap sebagai pelajaran. Tidak perlu benci dan bilang sana sini tentang kejelekan dia karena mau bagaimanapun juga dulu kita memilih dia. Tapi percaya atau engga, lebih sulit memaafkan diri sendiri. Jadi sudahlah, jangan juga menyalahkan diri sendiri… Kalau kita tidak pernah salah, mungkin kita tidak belajar untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih kuat.   

Love is our response to our highest values- and can be nothing else. –Ayn Rand”

Ini adalah postingan lama di tumblrnya temen saya www.megamuzdalifah.tumblr.com. Baru kepikiran untuk direblog karena seorang teman sedang membutuhkan jenis bacaan macam ini, huahahaha.. dan langsung saya copas blass-blass biar nggak kehilangan esensinya dan semuanya udah jelas banget, gak perlu saya tambah-tambahin.. *padahal males* hihihihi

Advertisements