curhatsampah

The Quarter Life Crisis

“Kalian ngalamin quarter life crisis gak sih?”

Ternyata semudah itu bikin gengbull-ku 9aL4u. Cukup lontarkan sebuah pertanyaan.. out of the blue, lalu keluarlah semua isi hati mereka. Ya gitulah, 5 tante-tante dan 1 oom-oom yang diem-diem suka baper.

Saya pikir saya nggak akan mengalami yang namanya quarter life crisis. Karena hidup saya ya kayanya baik-baik aja. Tapi kemudian ia seolah merangkak perlahan-lahan dan menghantuimu tanpa kamu sadari. *errrr…. berlebihan sih*. Ya intinya sih saya jadi bertanya-tanya, “apakah ini yang dinamakan quarter life crisis?”.

Saya suka mikir aja sih, umur 25 ini saya belum punya “apa-apa”, belum punya karya apapun, palingan karyanya ya itu aja sih share 1000 lebih moment di path selama 2 tahun dan nyampah di sini. Terus belum melakukan apapun yang berguna buat orang lain. Sementara orang-orang udah pada punya rencana pindah ke Mars.

Kalau masalah penghasilan temen-temen yang posisi kerjaannya bagus mungkin nggak bikin baper. Tapi kalau temen-temen yang kelihatannya udah tahu mau ngapain, menjalani hidup sesuai passion dan hidup untuk berbagi sama orang lain… ini suka bikin saya agak mellow sih. HAHAHAHAHA

Semua hal di atas kadang bikin saya mikir kalau saya udah menyia-nyiakan beberapa tahun belakangan, and now… I’m getting old. Kemarin-kemarin ngapain aja ya? Dan waktu kok kayak cepet banget dari umur 20 ke 25, dan Februari besok saya udah mau 26 aja.

Menurut saya, umur 25 itu bener-bener kayak gerbang kedewasaan banget dan semuanya tampak semakin nyata. Dan disitulah saya ngerasa kayak udah terlambat dan jauh banget buat ngejar orang-orang yang udah pada bikin sesuatu.

Terus sebulan sebelum ulangtahun saya yang ke-25, saya punya bayi. Makinlah terasa tuntutan untuk jadi “dewasa”. Mungkin saya yang lebay, karena kenyataannya kan banyak yang punya anak lebih muda daripada saya. Tapi perasaan ini tak bisa dihindari. *ciye* gimana dong?

Waktu the gengs saya tanyain tentang krisis versi mereka, udah bisa saya tebak jawabannya. Yang keluar ya masalah klise para dewasa muda kayak akoh getoh.

Personel GengBul si Kakak Pemikir bingung karena merasa belum punya pekerjaan yang pasti dan merasa tersesat karena nggak kerja sesuai passion dan belum dapat kepastian kapan nikah dari pacarnya, sementara keluarganya udah mulai bikin gerah. Terakhir curhat malah sampai berderai air mata, karena memendam perasaan selama 9 tahun pacaran. *haciye*

Kakak Pedas sedang menuju pernikahan dan semua itu lumayan menyita pikirannya. Pekerjaan menjadi salah satu yang dikhawatirkan Kakak Pedas, karena meskipun sudah bekerja di 4 klinik, ia merasa masih sulit rasanya buat DP KPR. Hueheueheheh… Dan ia juga akan dihadapkan antara LDM tapi bayak uang, atau hidup barengan tapi pertamina *mulai dari 0*. Tapi kayaknya kalian sudah memutuskan ya kak?

Kakak DDM (diam-diam menghanyutkan) merasa belum bisa membuat orangtuanya bangga dan ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Ia juga berharap untuk segera resign dari pekerjaannya dan bekerja di tempat yang lebih “halal” *eh dia bukan pengedar narkoba ya…*. Dan diam-diam dia juga sudah mempersiapkan rencana pernikahannya, tinggal nunggu delivery jodoh terbaik dari Allah SWT.

Dan Pria satu-satunya, Kakak Selebritis merasa belum punya pekerjaan yang pasti. semua cita-citanya jadi terasa seperti bias. Apalagi dia seorang pria, banyak sekali ternyata beban pikirannya. Mulai dari ketakutan mengahadapi calon mertua karena “belum punya apa-apa”, biaya resepsi pernikahan sampai KPR sukses membuatnya masih menjomblo hingga kini… qeqeqeqe….

Kita semua sama-sama merasa nggak siap untuk jadi bener-bener dewasa. Nggak siap untuk memikul tanggung jawab sebesar itu. Dan merasa nggak ada siapa-siapa lagi untuk bergantung. Orangtua? Bukankah seharusnya sekarang kita jadi tumpuan orangtua kita setelah bertahun-tahun kita yang menyusahkan mereka. Sekarang kita pengennya ngebahagiain orangtua dong, bukan malah membebani pikiran mereka dengan masalah kita….

Kini kita akan dipaksa untuk menjadi dewasa. Dan harus bisa. Ini fase transisi yang harus dilewati dan kelak akan bikin kita menjadi lebih kuat. *ciye…*

Mungkin intinya adalah, semua orang punya masalah masing-masing. Sebagian mengeluh, sebagian lagi pura-pura hepi dan sebagian lagi memilih diam dan belajar lebih banyak bersyukur. Kita tinggal pilih aja mau jadi yang mana. Karena quarter life crisis atau bukan, masalah nggak akan ada habisnya. Umur 40 nanti, kamu bisa ucapkan selamat datang pada midlife crisis…. bahahahahaha…..

Setelah bikin galau sahabat-sahabat saya, terus saya nanya sama Teteh saya, Ndoro Putri.

“Ndoro, kamu pernah mengalami quarter life crisis nggak sih?”

“Hmmmmmmm… pernah….”

“Dan apa yang kamu lakukan?”

“Lebih banyak bersyukur aja…”

Ohhh.. tidak. Dia bukan manusia yang religius. Dia cuma sudah banyak makan asam-garam kehidupan dunia *tsaahh*. Dia bilang, kalau bersyukur bukan cuma dimulut aja. Tapi dia selalu meluangkan waktu 10 menit di pagi dan malam hari untuk merenungi apa saja yang dia punya, apa saja yang udah dia capai, dan gimana perjalanan yang udah dia lalui selama ini. Dan itu semua harus disyukuri. Bener-bener diresapi sampai ke hati.

Dia juga bilang, ya nikmati aja hidup kita sekarang. Dia bilang kalau dia nggak mau jadi mellow karena umur 28 belum nikah, karena sebetulnya memang itu yang dia pengen. Karena masih pengen have fun, masih pengen belanja-belanji nggak jelas, masih pengen jalan-jalan. Nggak usah terlalu dipikirin, yang penting kita bersyukur dan menikmati apa yang ada di depan mata.

Yapp! Sebetulnya hidup memang semudah itu. Bersyukur. Jadi apapun kamu sekarang, masalah apapun yang sedang dihadapi. Jangan pernah lupa untuk bersyukur. Mungkin hidup yang sering kita keluhkan ini adalah hidup yang diinginkan orang lain, begitulah kata kutipan entah siapa.

Iya, saya harus lebih banyak bersyukur, sehingga kelak krisis usia berapapun nggak akan mengalahkan saya…

*horeeee..* *tepuk tagan…*

Advertisements

2 thoughts on “The Quarter Life Crisis

Comments are closed.