Jalan-jalan · Jogjakarta · TIPS

Ke Borobudur Naik Kendaraan Umum? Siapa Takut…

Ke Jogja tak lengkap rasanya kalau tidak ke Borobudur, meskipun sebetulnya Borobudur sudah masuk ke wilayah Magelang, tetap saja Jogja = Borobudur. Banyak travel agent dan rental-rental mobil yang menawarkan banyak paket menuju Borobudur, biasanya sih sepaket dengan Kraton, Taman Sari dan Candi Prambanan. Awalnya hari itu kami juga berniat untuk pergi ke keempat tempat itu, namun ternyata waktu tidak cukup karena kami juga keluar GH terlalu siang, dan demi menghemat beberapa ratus ribu, kami memutuskan untuk naik Bus ke Borobudur.

DSCN5154 copy

D ari Prawirotaman kami jalan “sedikit” menuju  halte Sugiono kemudian naik Trans Mojo, menuju ke Terminal Giwangan. Trans Mojo akan berhenti di dalam terminal, dan tinggal jalan sedikit menuju tempat mangkal Bus jurusan Borobudur. Jika merasa bingung, tinggal tanya saja orang-orang di sana, tapi biasanya mereka akan menawari kita untuk naik taksi (tentu karena mereka supir taksi)

Bus yang kami naiki saat itu masih kosong melompong. Tak berapa lama setelah kami naik, Bus ini langsung jalan, karena ternyata mereka fokus pada penumpang yang turun-naik di tengah jalan. Bus nya sendiri tidak terlalu besar, semacam Kopaja atau bus-bus Madona. Sama seperti kedua Bus itu, Bus ini juga sudah reyot.

mungkin kamu pernah naik Bus ini?
mungkin kamu pernah naik Bus ini?

Sebelum sampai di Terminal Borobudur, Bus ini berhenti di  dua atau tiga terminal. Yang pertama terminal Jombor, yang kedua dan ketiganya saya tidak tahu 😀

Menurut saya perjalanannya cukup menyenangkan asal kebagian tempat duduk :D. Bus ini tidak berAC dan hanya mengandalkan semilir angin yang menggebu-gebu saat Bus ini dipacu dengan kecepatan tinggi. Rasanya tidak perlu saya jelaskan lebih jauh mengenai seberapa nyaman Bus ini, Bus ini hanyalah tipikal Bus kelas ekonomi di Indonesia pada umumnya. Reyot, tidak ber AC dan ongkosnya hanya  20.000 rupiah perkepala.

Yang paling saya suka dari Jogjakarta adalah jalan yang mulus, semulus pantat bayi. Hal ini juga dibenarkan oleh driver mobil yang saya rental waktu ke GK keesokan harinya. Katanya di Jogja bisa dibilang ga ada jalan jelek, karena kalau sedikit rusak langsung diperbaiki. Kalau gitu berarti pemda nya sadar betul ya kalau infrastruktur terutama jalan itu penting banget buat daerah yang sebagian besar penghasilannya dari sektor pariwisata. Ayook pemda Bandung, kapan nih ditiru :D. Jalanan menuju Borobudur ini setipe dengan jalan Bypass Soekarno Hatta di Bandung. Bedanya,  jalan Soekarno Hatta ini banyak lubang dan tambalan di mana-mana, sementara Jalan menuju Borobudur… syedap.

Kami akhirnya sampai di terminal Borobudur sekitar pukul 11 siang saat matahari sedang galak-galaknya. Sebelum turun dari Bus, banyak orang mengerubungi Bus yang saya naiki. Ternyata mereka adalah para tukang becak dan delman, setelah kami turun, kami dibuntuti oleh mereka yang terus menerus mempromosikan jasanya.

Karena kami tidak tahu seberapa jauh dari pasar / terminal itu, akhirnya kami naik salah satu delman seharga 15ribu rupiah/ delman. Dan ternyata jaraknya tidak terlalu jauh dong. Sepertinya sih paling jauh juga sekitar 1 kilometer. Kami berhenti di depan gerbang terdepan, dan masih harus  menuju  pintu masuk yang rasanya jauh sekali.

Nah.. Saat pulang, saya dan yang lainnya memutuskan untuk berjalan saja dari Borobudur menuju terminal, sekalian mencari makan siang. Dan ternyata kami cukup beruntung karena menemukan sebuah tempat makan yang murah meriah tepat di pertigaan Kawasan Candi Borobudur arah ke Terminal.  Kalau tidak salah nama tempat makannya ada Mbok’ De Mbok De’ gitulah. menu nya banyak, dan lumayan enak, apalagi kalau sedang lapar. dan yang terpenting. Muraaahh. Daripada makan di kawasang Borobudur yang rasanya belum tentu enak dan harganya biasanya lebih mahal. Maklumlah, tempat wisata 😀

di seberang jalan sebelah kiri yang ada pagar dan banyak pohon itu kawasan Borobudur. Jadi tempat makan ini memang tepat di seberang Borobudur.
di seberang jalan sebelah kiri yang ada pagar dan banyak pohon itu kawasan Borobudur. Jadi tempat makan ini memang tepat di seberang kompleks Borobudur.

Sekitar jam 1 lebih kami meluncur lagi ke Terminal dan ternyataaaa, saya naik Bus yang sama dengan yang saya naiki saat pergi. Si Kernetnya senyam-senyum saat melihat kami  dan bilang “ini yang tadi yah.. hehehe..” What a coincidence.

Lama perjalanan pulang sama dengan lama perjalanan saat pergi. Saya lebih banyak tidur karena badan rasanya capeeeek sekali setelah jalan kaki-naik –turun-tangga seharian. Dan akhirnya Entah karena lebih banyak yang turun di terminal Jombor, atau karena rute nya memang begitu, semua penumpang turun di Terminal Jombor. Terus saya bingung karena saya pikir Bus ini akan berhenti di Giwangan lagi. Untungnya sih saya lihat peta wisata yang saya dapetin dari yogyes.com (lumayan lengkap loh peta wisatanya , ada informasi penginapan, rental sampai rute dan informasi lengkap Trans Mojo)  ada halte Trans Mojo juga di terminal Jombor. Kalau ada Trans Mojo mah berarti tenang. Tinggal cari saja jalur menuju Malioboro. Sampai Malioboro sih sambung apa lagi kek gitu.

Awalnya kami mau langsung ke Prambanan, tapi katanya Prambanan tutup sekitar jam 4 sore dan saat itu sudah pukul 3 sore, sepertinya waktu kami tidak cukup, bisa-bisa nanti jam 3 dari Jombor, sampai Prambanan malah diusir. Yasudah akhirnya kami naik Trans Jogja, mau wisata kuliner ke daerah UGM, ternyata malah nyasar. Dan akhirnya kami memutuskan mencoba Raminten yang super hits itu. Apalagi jaraknya Raminten ini hanya beberapa meter saja dari Halte Kota baru (kalau tidak salah itu nama haltenya). Gampang datang-gampang pulang.

Buat saya yang tinggal di Bandung dan sehari-hari hanya perlu menjentikan jari telunjuk a.k.a nyegat angkot ke segala jurusan dan bisa turun sembarangan sedekat mungkin dengan tujuan, liburan di jogja tanpa menyewa kendaraan macem mobil dan motor agak lumayan nyiksa. Susah ke mana-mana, apalagi kalau pengen murah, kan kalau pengen mahal mah tinggal nyegat taksi yah. Tapiiii… Kalau bersedia jalan kaki agak banyak, si Trans Mojo ini bener-bener membantu banget, seru juga sih jalan-jalan naik Bus yang pewe dan jarang penuh, terus dibawa muter-muter. Jadi tahu tempat ini di sini, tempat itu di situ.

Tapi lagiii…. mungkin kalau buat orang Jogja nya sendiri malah sedikit malesin ya, kayak waktu saya ketemu sama Mbak Bun, dia cerita katanya nyoba ke Prambanan naik Trans Mojo yang ada malah lebih lama, muter-muter dan si Trans Mojo nya berhenti jauuuh dari kawasan Prambanan nya.  Ihik. Sayapun mungkin begitu, kalau gak lagi liburan dan lagi di rumah pasti pengennya kemana-mana serba cepet atuh. Maklum orang sibuk *dikepret berjamaah*

Advertisements

44 thoughts on “Ke Borobudur Naik Kendaraan Umum? Siapa Takut…

    1. ke Makassar Agustus yuk Teeeehhh!!!!
      kita ke tanjung bira. ini seriuuuusssshh!
      Papah pulang ke Bandung ga? Mending pada lebaran di Makassar aja semua *ih.. maksa..ih*

  1. Jadi inget waktu teteh sama momih ke Jogja tahun lalu, saking senengnya pake Beca, sempet nanya gini :
    Mas jauhan mana Borobudur sama Prambanan..??
    Mas beca : prambanan lebih dekat mbak..
    Teteh : bisa naek Beca ngga..??
    Mas Beca : Ketawaaaa
    Dalam hatinya “bisa mbak..tp gantian genjot becanya” hahahaa

  2. Waaah… ini sangat perlu dicoba!! *jadipengincoba. Haduuuh… kapan ya aku ke Jogja lagi? udah lama gak ke Jogja. Pasti nyobain rute ini deh!

    1. Ayoook ke Jogja lagi Mbak Tika, deket ini dari Jakarta hihihihi. cobain deh Mbak, asik juga ketemu banyak orang dan bisa merhatiin mereka satu-satu sepanjang perjalanan.. hihihih x)

    1. Mase ini kayak e jenakawan, aku seneng mboco tulisane sampeeyan seger tenan. Sbg org Magelang (yg juga tinggal d Bamdung, sempat keronto2 (semacam nelongso) saat dibilang busnya tua reyot (serupa dg bus jurusan Pangalengan Majalaya) tp lantas terhibur saat dibilang jalannya semulus pantat bayi setara lebarnya jl S.Hatta d Bdg. Ya, pemerintah yg sadar wisata tentuengutamakan infrastruktur yg prima dong, coba saja bandingkan dg jalur ke Situ Patenggang ..alamaaakkk.

      Bgmanpun saya suka ulasan sampeyan mas NyaPurnama. Lanjuttttt.

  3. Aku yg orang Jogja kalau disuruh naik bus di sini malah bingung, Mbak. Soalnya jarang banget naik bus. Ke mana-mana naik sepeda motor, termasuk warga lainnya juga. Makanya bus kota di sini biasanya jarang penuh…..

    1. Iya juga sih ya. Naik motor emang paling enak sebenrnya. Temenku yg orang jogja juga gitu kemana2 naik motor begitu ditanya jalur dan jurusan bus langsung bingung :)))

    1. Oh ya sama kok Mas Trans jogja sama trans Mojo.. trans Mojo itu apa gitu singkatannya kalau ga salah Trans Mo……. Jogja.. 😀

      Tapi enak ya kl naik Trans jogja pun mereka pada berhenti di tempat2 wisata dalam kota.. jadi gampang x)

  4. Haha. Saya tiap hari naik bus macem begitu. Perasaan biasa aja, Mbak. Apa saya yang tidak peka ya? saya juga sering tuh, gak kebagian tempat duduk.

    1. Bus yang mana nih? trans Jogja atau Bus yang buat ke Borobudur? 😀
      gak tahu sih ya, kalau temen-temen saya yang biasa naik motor sih katanya repot, kalau saya yang biasa naik angkot juga lumayan repot, karena dari tempat turun biasanya jauh dari tempat tujuan, harus jalan kaki lamaaa.. hahahah emang dasar males aja… karena kalau bus macam Trans Jogja ini di Bandung masih bisa berhenti sembarangan juga x)

    1. Kemarin saya perginya bertiga nih soalnya, yang dua gak bisa bawa motor.. 😀
      Eh tapi impian saya juga ke Borobudur pas sunrise, katanya mataharinya cakep ya, dan masih sepi pastinya…

  5. Mau tanya donk rencana aku mau ke borobudur buat pertama kali #sedih,,kalau dari marlioboro kira2 naik bus berapa kali yah plus harga? Enak nya dari giwangan atau jombor yah sy bingung soal nya,,,, terus kalau dari borobudur ke prambanan naek berapa kali juga ,,maaf banyak pertanyaan nya ,,makasih sebelum nya

    1. Kalau ke prambanan bisa naik Trans Jogja yang arah prambanan. Tanya aja sama mas Trans Jogja nya.. Nah kalau ke borobudur mending dari Jombor kayaknya biar nunggunya ga terlalu lama , naik trans jogja arah jombor aja mbak, tanya dulu juga sama mas trans jogja nya 😉
      maap lama blsnya hihihihi

    1. Kalau gak salah sekitar 2 jam.
      Nah kalau ngejar sunrise saya kurang tahu apa bisnya udah ada atau belum. Tapi kayaknya kalau pengen ngejar sunrise mending rental mobil aja. Soalnya setelah ngobrol sama sopir rental, katanya ke borobudur sebenernya gak jauh-jauh amat, dan emang si bus nya ngetemnya lumayan ngeselin sih apalagi kalau misalkan kita dikejar-kejar waktu. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s