curhatsampah

Banjir, Sudah Biasa. Tapi Jangan Jadi Kebiasaan

Kemarin hujan turun sangat deras. Rasanya sih ini kali di tahun 2012 hujan turun sederas ini dan menyebabkan banjir yang cukup besar di lingkungan rumah saya. Yang pertama sampai masuk ke rumah, hmmm.. karena keteledoran sih, saat itu Mamah bilang “santai aja..” Jadi saya ikut santai juga. Waktu saya tinggal ke ruang tengah Mamah tiba-tiba histeris “Niaaaa!! Niaaa cepet ambil lilin, sedikit lagi masuk!” . Inginnya sih saya bilang “who’s laughing now Mom?” Tapi saat itu tidak ada waktu, karena ujung-ujungnya saya juga yang harus bersih-bersih. *ngikik*

ini saya ambil ketika hujan sudah mulai reda. Ketika hujan masih lebat saya sedang sibuk. Sibuk panik.

Nah kemarin saya harus lebih bisa mengantisipasi semuanya. Karena kejadian banjir pertama sebetulnya adalah tragedi yang tidak perlu terjadi, dan airnya itu hanya masuk sedikit sekali. Air yang bening ini turun dari talang belakang merembes lewat pintu kemudian menyebar dan mengenai karpet sedikit. meski sedikit tapi sukses membuat karpet di ruang tengah saya jadi apek . Dan untunglah lantai rumah yang sering dikeluhkan Mamah karena tidak rata malah menjadi anugerah saat itu, air masuk dan mengalir ke tengah rumah lalu menggenang disitu saja. komputer saya dan Fajar yang ada di sudut ruangan aman. Oh ya, banjir hanya masuk ke ruang  tengah saja karena air masuk dari halaman belakang. Sementara ruang tamu sekaligus ruang kerja Mamah aman karena pintu sudah ditempeli lilin duluan.

banjir selalu membuat sebagian orang bahagia

Kemarin siang hujan benar-benar turun dengan ganas. Petir menyambar disertai kilat yang sesekali membuat saya semakin paranoid. Pikiran saya sudah kemana-mana. Terbayang saya harus jadi korban banjir dan tinggal di tenda pengungsian. Sedih. Saya berjanji tidak akan pernah antipati terhadap korban banjir atau korban bencana apapun.

Buliran air yang turun memang besar-besar dan kecepatannya tinggi plus waktu hujan yang cukup panjang kontan membuat air di depan rumah saya semakin naik. Kalau sudah masuk ke tangga pertama teras depan, saya langsung tidak konsen. Alhasil tiap detik mengecek ketinggian air. Mamah saya? Dia sih anteng saja menjahit. Jangankan banjir yang biasa begini, Saat ada gempa yang cukup besar di tahun 2009 dia melenggang keluar dengan tenang. Ah Mamah :’)

Kalau sudah lewat tangga teratas ini dan hujan masih lebat, maka dipastikan air akan segera memasuki rumah saya.

Untunglah kemarin tidak sampai masuk ke rumah, hanya tinggal beberapa senti lagi dari tangga ke dua. Saya sudah siap-siap menempel lilin ke pintu depan dan pintu belakang tapi syukurlah meski jadinya tidak berguna, yang terpenting tidak terjadi banjir besar. Kalau saya sih agak santai karena rumah saya tinggi, kalaupun masuk ke rumah paling hanya beberapa senti saja. Tapi tetangga-tetangga saya yang lain akan kewalahan.

Pernah di Tahun 1996, banjir nya benar-benar besar. Rumah saya kemasukan air. Bukan karena keteledoran tapi memang airnya masuk lewat jendela rumah saya yang memang memanjang ke bawah. Saat itu banjir nya setinggi perut orang dewasa. Tetangga sebelah saya barangnya habis semua kebanjiran. Waktu itu saya masih umur 6 tahun. Belum cukup mengerti tapi yang saya ingat saat itu banyak yang menangis.

motor tetangga saya, jelas tidak diparkir diluar ketika banjir

Tapi masih ada yang bisa saya syukuri. Lingkungan rumah saya memang di gang. Tapi bukan gang tak berujung jadi dekat ke jalan besar. Meskipun banjir setinggi apapun, biasanya surutnya cepat sekali. Pokoknya bila hujan sudah reda, maka ketinggian air akan segera berkurang dengan cepatnya. Mungkin akan surut kurang dari satu jam.

Saya tidak tahu keadaan seperti ini akan berlangsung berapa lama. Saya takut nanti Bandung seperti Jakarta. Atau daerah saya nantinya seperti daerah Dayeuh Kolot yag banjirnya bisa sampai atap rumah dan hanya menunggu keajaiban Tuhan kapan akan surut. Saya sendiri dan keluarga sudah berusaha untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tapi ini masalahnya bukan sampah kok. Lebih ke drainase nya.

Kalau ada  orang yang bilang “Banjir ngeluh ke pemerintah, itu kan salah sendiri..” Entahlah, tapi ya bukankah seharusnya pemerintah yang mengurusi masalah drainase? Bukanya pemerintah yang seharusnya lebih tegas dalam menegakan peraturan? Kalau ada satu bangunan didirikan dekat saluran air seharusnya langsung ditindak bukannya ditunggu sampai ada puluhan bangunan dan terjadi banjir besar dulu baru dibereskan, setelah itu akan banyak drama seperti di TV-TV ketika pemilik bangunan di  pinggir kali  tidak mau bangunannya di bongkar sebab sudah merasa memiliki tanah dan bangunan itu.

Mari berdoa untuk masa depan tata air di kota Bandung yang lebih baik.

Advertisements

2 thoughts on “Banjir, Sudah Biasa. Tapi Jangan Jadi Kebiasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s