Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (Part 16)

(click here and read Unfinished Love Part 15)

Rasanya tadi malam, waktu berjalan begitu lambat. Lara berusaha memejamkan matanya, namun rasanya sulit sekali. Semua bayangan masa lalu nya silih berganti. Lara kembali mengingat jatuh bangun dirinya menata hati setelah di hancurkan Damma hingga berkeping-keping. Untunglah saat itu Lara punya banyak motivasi untuk segera menyelesaikan kuliahnya dan pergi dari Bandung sejauh-jauhnya.

Sebelum wisuda, Lara mengirimkan beberapa lamarannya ke perusahaan-perusahaan besar yang kebanyakan di pedalaman. Selain itu dia juga hunting beasiswa ke luar negeri, namun Lara selalu gagal di beberapa tes. Akhirnya Lara diterima di sebuah pabrik semen terbesar di Indonesia timur yang berlokasi di Maros, Sulawesi Selatan. Hanya perlu beberapa minggu sampai akhirnya Lara bisa benar-benar larut dalam pekerjaannya dan melupakan semua masa lalunya di Bandung. Melupakan Damma.

Pagi ini Lara dengan mudahnya terbangun pukul 5 pagi setelah tidur hanya 2 jam. Kemudian Lara langsung bersiap-siap. Setelah sarapan dia harus langsung check out. Dia ingin segera memulai semuanya dari awal. Setelah bertemu Damma dan mengingat semuanya, kini perasaannya sudah lebih ringan. Lara yakin dia bisa punya semangat seperti 7 tahun lalu. 

Untunglah saat itu jalanan ke arah Bandung tidak macet sama sekali, dengan menempuh perjalanan sekitar satu setengah Jam, akhirnya Lara sampai di rumahnya dengan menggunakan fasilitas jemputan dari Hotel.

Lara turun dari avanza silver milik hotel tempatnya menginap, dan Lara kanget setengah mati ketika mendapati Gray sedang duduk di depan pagar rumahnya. Gray sedang asik memainkan handphone nya. Saat melihat ada mobil berhenti di depan nya, Gray langsung mendongak. Dan tersenyum ketika melihat sosok Lara berjalan ke arahnya.

“Hai..” Kata Gray sambil tersenyum.

Tanpa banyak kata-kata, Lara langsung berhamburan memeluk Gray. Meskipun sebal karena Gray menggantungnya beberapa hari ini, tapi rasa rindu nya semakin membuncah ketika melihat Gray. Dia sadar betul kalau dia sangat membutuhkan Gray dalam keadaan apapun.

“Kemana aja sih..” Hampir saja Lara menitikan air mata saat dalam pelukan Gray.

“Maaf ya, kemarin aku batalin janji. Waktu sampai Jakarta aku langsung ke Bandung, pas sampe katanya Mama kamu nginep di rumah Indy.. Yaudah aku balik ke hotel. Baru balik kesini tadi pagi. Langsung tunggu disini…” Jelas Gray.

“Ga jadi. Aku nginep di Ciater sama Indy..” Potong Lara cepat. Berusaha sekasual mungkin.

“Ohh.. Yaudah masuk yuk. Laper..” Ajak Gray.
Lara dan Gray masuk ke dalam rumah, langsung disambut oleh Mama yang baru saja selesai membuat pisang goreng dan gehu pedas.

Begitu mudahnya berbaikan dengan Gray. Selalu ada yang mengalah, tidak perlu banyak usaha untuk mewujudkan semuanya supaya berhasil. Gray selalu siap mengarahkan Lara. Itulah yang membuat Larapun siap untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka berdua.

* * * *

From : Sonny – Basket, Jaya
“Ra, Gue ada temen nih, lagi seeking job juga di Bandung. Lo masi cari orang yang bisa jadi head chef kan? Gue udah bilang sama dia, nanti lo hubungi aja dia 08562015537. Kayaknya sih cocok buat lo. Gue balik ke KL hari Jum’at, kalau lo perlu gue kabarin aja ya. Kalau kosong tinggal ketemu aja ntar..”

Lara tersenyum senang. Akhirnya setelah beberapa hari menunggu kabar dari Sonny, ada secercah harapan juga akhirnya. Dan Lara juga hampir mendapatkan tempat yang enak, tinggal mencari harga yang cocok saja.
To : Sonny – Basket, Jaya
“Oke Son, Nanti gue hubungin dulu aja orangnya.. Mucho Gracias ;)”

Lara buru-buru mengambil organizernya kemudian mencatat nomor handphone nya. Setelah itu Dia menelepon orang yang belakangan baru Lara tahu namanya Yudi. Lara mengobrol denganya cukup lama. Dia mendengar samar-samar suara Mamanya mengobrol dengan seseorang di ruang tamu.

“Ada kok di dalem.. Kemana aja udah lama gak kesini.. Lara pasti nggak kasih tau kalau udah pulang beberapa bulan yang lalu ya? Sok duduk dulu.. Udah gede ya sekarang gendutan hahaha..”

Setelah suaranya semakin jelas, Lara semakin tidak konsen mengobrol di telepon, karena Lara tahu kalau itu tamu untuk Lara. Semakin penasaran rasanya ingin mengetahui siapa tamunya. Dari isi obrolannya Lara yakin kalau ini teman lama nya. Dia buru-buru membuat janji dengan Yudi besok, kemudian langsung menghampiri Mamanya.

“Siapa Ma?” Tanya Lara saat Mamanya masuk ke dapur untuk membuat minuman.

“Damma tuh Ra, cepet kesana kasian udah nunggu..” Kata Mamanya excited.

Lara langsung lemas seketika, tidak bisakah Damma berhenti mengganggunya sebentar saja? Dia benar-benar ingin menghapus Damma dari ingatannya. Di saat Lara setiap menata hatinya, Damma selalu datang untuk mengobrak-abrik semuanya.

Mau tidak mau Lara akhirnya menemui Damma tanpa banyak bicara. Dia tidak mungkin menolak Damma karena Mamanya tidak tahu permasalahan sebenarnya. Apalagi Mamanya tipe orang yang selalu menomorsatukan tamu, maka Larapun harus selalu bermanis-manis di depan tamu. Termasuk Damma yang datang hari ini. Lara juga tidak akan pernah mau menceritakan masalahnya dengan Damma pada Mamanya. Bisa-bisa Damma langsung diusir. Jadi pilihannya hanya satu. Menemui Damma.

Dengan langkah yang berat, Lara berjalan menuju ruang tamu dengan membawa minuman yang telah dibuat Mama. Ingin rasanya Lara melemparkan minuman itu ke wajah Damma. Namun akhirnya Lara hanya menaruh nya di atas meja, kemudian duduk di hadapan Damma.

“Apa kabar Ra?” Tanya Damma basi.

“Mau apa lo kesini?” Lara langsung to the point.

“Mau nengokin lo aja. Udah lama ga ketemu Oom sama tante juga” Jawab Damma.

Lara sudah ingin memaki Damma, tapi sejak tadi Mamanya mondar-mandir sambil sesekali menanyakan keadaan Damma dan kegiatannya.

“Pindah Ke gazebo aja. Tapi kalau lo mau langsung balik sih lebih bagus” ujar Lara. Dia mengambil minumannya kemudian berjalan menuju Gazebo.

Damma mengikuti Lara dari belakang. Mereka berdua akhirnya sampai di gazebo, tempat mereka dulu biasa menghabiskan waktu. Lara duduk tanpa banyak bicara. Perasaannya kini tak karuan. Namun untungnya kini semuanya lebih terkendali.

“Ra.. Maafin gue..” Ujar Damma memecah keheningan.

“Kenapa sekarang minta maaf?” Tanya Lara “Dulu kayaknya enak banget lo ngomong kayak gitu. Pernah mikirin perasaan gue kayak apa?”

“Iya, gue nyesel banget Ra.. Kalau aja gue bisa mengulang semuanya, gue nggak akan sampe nyakitin lo..” Ujar Damma.

“Klise banget. Apa nggak ada kata-kata yang lain Dam? Yang begini sih sering gue denger..” Sindir Lara.

“Kalau emang semua bisa diulang, gue juga nggak mau kenal orang kayak lo. Ga tau balas budi. Pake nyakitin segala lagi..” Tambah Lara

“Ra, please.. Apapun bakal gue lakuin supaya lo maafin gue..” Kata Damma.

“Kalau gue minta lo untuk ga ganggu hidup gue lagi dan ga muncul depan mata gue tapi gue maafin. Lo mau? Lo bisa jamin?” Tanya Lara.

Damma hanya terdiam. Selain kata maaf yang dia inginkan, dia juga ingin kembali seperti dulu. Damma tahu kalau banyak yang sudah berubah tapi ia hanya mengharapkan satu kesempatan saja. Dan jujur, memang sejak saat Lara meninggalkan Damma di gerbang rumahnya, saat itu juga Damma sadar kalau ia sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Dia tidak pernah bisa melupakan Lara, bahkan akhirnya dia harus mengakui kalau dia punya perasaan yang sama dengan Lara. Dama mencintai Lara.

“Nggak. Gue mau dimaafin dan pengen semuanya kembali lagi kayak dulu.” Ujar Damma.

“Kembali bikin gue sakit hati?” Tanya Lara

“Ra, please..” Ucap Damma.

Lara hanya terdiam. Di satu sisi dia sudah tidak mendendam lagi pada Damma meski dia masih sangat marah, Sementara di sisi lain, egonya menolak untuk menerima Damma semudah itu. Dan memang yang dia inginkan Damma pergi dan tak muncul lagi, tapi sepertinya sudah tidak mungkin karena Damma yang bertekad untuk kembali ke hidup Lara akan mewujudkan tekadnya bagaimanapun caranya.

“Gak tahulah gue Dam.. Rasanya semuanya datang terlalu cepet. Serba Mendadak. Gue nggak menyiapkan hati gue untuk menerima semua kejadian ini..” Kata Lara, kini Nada bicaranya sudah mulai pelan. Tanpa nada sinis, hanya ada kesedihan yang begitu mendalam.

“Yaudah.. Maafin gue ya Ra. Gue gak akan berhenti ngeyakinin lo kalau gue menyesal dan sekarang gue udah berubah..”

Lara tidak mengatakan apapun, dia hanya terdiam menatap minumannya yang sejak tadi tidak disentuhnya sedikitpun. Damma akhirnya berpamitan pada Lara dan Mamanya. Kemudian pergi dari rumah Lara.

Beberapa saat kemudian, setelah Damma pergi, Handphone Lara berbunyi karena ada sms masuk. Dari nomor tak dikenal

From : 082130121277
“Ra, maafin gue ya karena bikin lo sedih lagi. Gue cuma pengen kita bisa chit-chat kayak dulu. Iya betul gue orang yang ga tahu balas budi, perlu hampir 7 tahun untuk gue bisa mengakuinya. Gue menyesal. Maaf…”

Suka-suka lo deh Dam… Lara menaruh kembali handphone nya di atas meja. Semua persoalan ini sangat menguras pikirannya bahkan Lara tergoda untuk meninggalkan proyek restorannya ini hanya untuk tidur-tiduran di kamar sambil meratapi masalahnya.

Ditambah lagi Gray lebih sibuk dari biasanya. Sejak pulang dari Manado Gray sulit sekali dihubungi. Kalau Lara mengirimkan pesan lewat messanger biasanya baru dibalas beberapa jam kemudian. Jangankan untuk curhat, untuk menanyakan kabaarnya saja sudah sulit sekali.

“Pokoknya kalau aku bisa melewati pekerjaan ini, luar biasa banget deh Ra.. U will be proud of me too..” Begitu kata-kata Gray saat terakhir datang ke Bandung. Lara hanya bisa mempercayainya.

Lara tidak banyak bertanya, mungkin Gray sedang dalam masa promosi, atau sedang dalam suatu proyek, makanya dia begitu sibuk dan sulit sekali dihubungi. Lara tidak mau mengeluh padahal dia butuh sekali Gray.

* * * *

Lara mencorat-coret organizer nya, ada beberapa lokasi yang cocok dengan Lara tapi harganya gila-gilaan. Tidak masuk akal karena banyak yang bagian yang harus diperbaiki. Sementara Lara inginnya dengan harga setinggi itu dia bisa mendapatkan tempat yang siap dipakai dan tinggal di dekorasi sesuai keinginannya.

Indy yang sejak tadi berada di samping Lara hanya duduk diam sambil memperhatikan tingkah laku Lara yang sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

“Susah amat sih Ra..” Kata Indy.

“Ya emang susah Ndy.. Mereka minta harganya gila-gilaan. Gue musti pilih lokasi yg bener2 strategis biar gue keluar duit ga sia-sia.. Hahahaha” Kata Lara.

Handphone Lara tiba-tiba bergetar, ada sms masuk. Saat Lara buka ternyata dari Damma. Sms ke 21 dalam minggu ini. Damma mengirimkan sms nya 3 kali sehari kadang lebih, dan Lara tidak pernah membalasnya.

From : Jangan Diangkat
“Lagi apa Ra? Lo sehat2 aja kan?”

Lara menaruh handphone nya dengan gusar. Kemudian kembali ke organizer nya. Indy yang melihat perubahan pada wajah Lara langsung meraih handphone Lara tanpa banyak bicara. Setelah tahu apa yang terjadi dia kembali diam. Indy tidak mau berkomentar tentang masalah Damma, kecuali Lara duluan yang bicara. Dan sebetulnya Indy juga tidak menceritakan tentang pertemuannya dengan Sonny dan Damma sepulang reuni, seperti juga Lara tidak menceritakan pelarian dirinya ke Ciater sepulang Dari reuni.

“Sebel banget! Ga tau gue ini sms yang keberapa, tiap hari dia smsin gue terus. Isinya kayak begitu mulu, kayak abege tahun 2000an.. Ga ngerti gue maunya dia apa..” Lara membuka suara.

“Ra..” Panggil Indy santai.

“Apee?!” Jawab Lara gusar.

“Sadar ga sih lo udah baikan sekarang?” Tanya Indy.

Lara tiba-tiba terdiam. Indy benar, meskipun dia masih sebal dengan dikirimi sms sebegitu banyaknya oleh Damma, tapi kini perasaannya baik-baik saja. Tidak ada rasa takut, trauma dan tidak ada rasa sedih. Bahkan untuk benci pun tidak ada. Mungkin hanya ada rasa gengsi yang tersisa.

“Masa sih?” Lara berusaha meyakinkan diri.

“Iya, lo udah nggak pernah sedih kalau denger nama Damma, nggak kelihatan depresi, nggak kelihatan sakit hati.. You are totaly awesome..” Jawab Indy.

“Hmmmm.. Mungkin juga sih, atau karena semua kerjaan gue mengalihkan pikiran negatif kali ya..” Kata Lara.

“Mungkin juga..” Kata Indy sambil tersenyum.

Apapun alasan yang dilontarkan Lara, Indy yakin alasan ‘sembuhnya’ Lara adalah Damma. Dia yang menyakiti Lara dan dia jugalah yang bisa menyembuhkan Lara.

“Bisa gak lo hilangin sedikit lagi sebel lo sama Damma. Demi diri lo juga. Bersihkan hati biar lo tenang..” Kata Indy

“Kayaknya sih ngga..” Jawab Lara santai.

“Bandel banget sih..” Indy menimpali. “Eh iya, sabtu ini Gray gak ke sini Ra?” Tanya Indy.

“Katanya sih mulai sekarang dia kesini tiap hari minggu aja. Pulang-Pergi.” Jawab Lara.

“Jarang banget gue liat dia update twitter, atau bbm..” Kata Indy.

“Gue aja jarang denger kabarnya dia..” Jawab Indy.

“Jangan-jangan punya selingkuhan Ra” Goda Indy.

“Haahahah amit-amit. Ngga lah mudah-mudahan. Dia bukan tipe orang kayak gitu..” Kata Lara santai.

Lara tidak pernah berpikir sampai ke situ, Lara betul-betul mengenal Gray meskipun intensitas pertemuan mereka sangat sedikit tidak ada sikap Gray yang berubah sedikitpun. Lara hanya penasaran pekerjaan apa yang sedang Gray kerjakan hingga harus merahasiakannya dan menjadikannya kejutan jika kelak selesai.

Beberapa saat kemudian Hp Lara berbunyi lagi, ada sms masuk. Pasti Damma. Karena tidak ada yang mengirimkan sms selain Damma.

From : Jangan Diangkat
“Ra, gue mau ketemu lo hari ini. Gue ke rumah lo ya? Apa kita ketemu diluar?”

Lara buru-buru membalas sms Damma untuk pertama kalinya. Dia tidak mau kalau sampai Damma tiba-tiba datang ke rumah. Kejadiannya akan secanggung kemarin. Lara tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Mamanya disitu.

To : Jangan diangkat
“Ga usah, gue gak mau ketemu lo.”

From : Jangan diangkat
“Yaudah gue kesana jam 7an”

Lara gusar bukan main, Ada-ada saja akal Damma untuk membuat Lara menemuinya. Akhirnya mau tak mau Lara membalas lagi smsnya.

To : Jangan Diangkat
“Yaudah ntar malem kita ketemu di Bosa cafe.”

Lara tidak menyebutkan pukul berapa tepatnya mereka akan bertemu meskipun setelah itu Damma menanyai nya hingga 3 sms. Ada sisi jahat Lara yang ingin mengerjai Damma karena Lara sendiri masih mempertimbangkan untuk datang atau tidak.

Indy menanyai Lara perihal siapa yang mengirimkannya sms, Lara memberitahu Indy cerita lengkapnya. Dan Indy benar-benar tidak setuju dengan ide mengerjai Damma.

“Tapi kan dia jahat sama gue Ndy..” Kata Lara.

“Plis deh Ra, you are not 18 years old anymore..” Ujar Indy. “Kalau lo gak mau dateng bilang aja gak mau, nggak usah ngejailin dia gitu. Jahat amat..” Ujar Indy.

Lara hanya membisu. Percuma saja kalau dia bilang dia tidak mau datang, Damma akan datang ke rumahnya. Kalau Lara membuat alasan akan pergi, maka Damma tetap akan datang dan menunggu Lara sampai pulang. Ya itulah Damma yang Lara kenal. Pantang menyerah, keras kepala dan menyebalkan. Lara penasaran juga dengan apa yang ingin disampaikan Damma. Maka dia menimbang lagi untuk bertemu dengan Damma.

“iyaaa… gue dateng deeehh..” Kata Lara akhirnya.

Pukul 7 tepat Lara masih berada di kamarnya dalam keadaan sudah mandi, tapi masih berpiyama. Dengan santainya dia tiduran di kasur sambil berbincang dengan Gray lewat messenger di handphone nya. Sudah 3 sms dari Damma yang masuk ke Hp Lara. Pertama Damma menanyakan pukul berapa mereka akan bertemu, tidak dibalas oleh Lara. Yang kedua Damma bilang dia akan berangkat, tidak dibalas oleh Lara dan yang terakhir Damma bilang kalau dia sudah sampai. Masih tidak dibalas juga oleh Lara.

‘gue kan nggak bilang jam berapa..‘ Ucap Lara dalam hati.

Pukul 19.45, dengan malas-malasan Lara berjalan menuju lemari pakaiannya memilih pakaian satu persatu yang kira-kira cocok untuk pertemuannya malam ini. Lara membutuhkan pakaian yang bisa membuat Damma merasa terintimidasi sekaligus menyesal karena telah menolak Lara 7 tahun lalu.

Pertama-tama Lara memilih mini dress berwarna hitam tanpa lengan dengan potongan dada yang agak rendah dipadukan dengan cardigan berwarna gading. Setelah melihat refleksi dirinya dalam cermin Lara merasa kalau pakaian ini akan mengesankan dirinya ‘terlalu niat’. Kemudian ia mengganti pakaiannya lagi. Kali ini dengan celana harem panjang berwarna cokelat muda berbahan  katun dipadukan dengan blus berwarna putih. terlalu biasa, pikir Lara setelah bercermin.

Butuh waktu sekitar 45 menit sampai akhirnya Lara menemukan pakaian yang dia rasa cocok baginya. Pilihannya jatuh kepada rok berwarna salem dipadukan dengan blus polos berwarna abu misty tua. Dia kemudian mengambil wedges hitam kesayangannya. Dia lalu mengambil tas yang warnanya senada dengan rok nya.

Saat mengambil tasnya, Lara melihat bayangan tempat tidurnya dengan tumpukan pakaian yang sudah dia coba di cermin. isinya mungkin sekitar dua pertiga isi lemarinya. Sesaat ia tertegun kemudian menanyai dirinya sendiri di dalam hati. Apa yang dia cari, Damma bukan siapa-siapa baginya. Kenapa dia harus berusaha tampil maksimal, padahal dengan Gray saja dia tidak pernah seniat ini, bahkan saat awal-awal mereka pacaran, Lara tidak pernah dengan sengaja membuat Gray terkesan.

Dia segera menepis bayangannya lalu bergegas keluar kamar untuk segera menemui Damma yang sudah menunggunya sejak pukul 7 malam. Lara harus segera menyelesaikan ini semua.

Tidak sulit menemukan Damma di Bosa Cafe malam itu. Lara sampai pada pukul 9, suasana Cafe saat itu masih cukup ramai namun sosok Damma sangat mudah Lara kenali diantara meja-meja yang sudah full itu. Damma duduk di bagian open air ditemani secangkir kopi sambil merokok dan sibuk dengan handphone nya. Lara segera menghampiri Damma kemudian berdiri di hadapannya.

Damma langsung mendongak ketika menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Damm langsung tersenyum hangat ketika melihat Lara yang tenyata datang.

“Duduk Ra..” Kata Damma mempersilahkan Lara duduk.

Tanpa banyak bicara Lara langsung duduk di hadapan Damma. Lara kira Damma akan marah ketika melihat Lara baru muncul setelah 2 jam menunggu, tapi respon Damma yang seperti ini di luar perkiraan Lara. Ia justru bingung harus bersikap bagaimana. Kalau saja Damma marah semuanya akan terasa lebih mudah bagi Lara.

“Ada apa?” Tanya Lara langsung pada intinya.

“Lo udah maafin gue?” Tanya Damma

“Gue dateng bukan berarti gue udah maafin lo ya..” Kata Lara

Saat mereka berdua masih diselimuti kecanggungan, tiba-tiba seorang pelayan datang dan mengantarkan segelas milkshake vanilla dengan es krim cokelat di atasnya lalu menaruhnya di depan Lara.

“loh, saya belum pesen mbak..” Kata Lara.

Si pelayan terlihat bingung, kemudian menatap Damma dan Damma hanya memberikan isyarat supaya pelayan itu segera pergi. Pelayan itu kemudian hanya mengangguk pada Lara sebagai tanda kalau dia berpamitan.

“Udah gue pesenin, lo masih suka milkshake vanilla pake es krim cokelat kan?” Tanya Damma.

Lara membeku. Tubuhnya terasa panas dingin. Setelah bertahun-tahun Damma masih ingat minuman kesukaan Lara. Perasaan Lara kini campur aduk, pertahanan yang selama beberapa tahun ini dia bangun sedikit demi sedikit mulai terkikis karena milshake dengan topping es krim cokelat ini. Lara hanya menatap es krim itu tanpa ekspresi.

“Kalau lo nggak suka gak apa-apa kok Ra, ntar gue aja yang habisin hehe.. lo pesen lagi aja..” Kata Damma kikuk

“Nggak apa-apa.. I’m okay” Jawab Lara.

Lara mengambil gelas milkshake itu dan menyeruputnya perlahan. Damma bisa merasakan kalau Lara kini sudah mulai sedikit welcome terhadap Damma.

“Jadi.. Ada apa?” Tanya Lara lagi.

“Oke ini agak sedikit basi tapi gue bener-bener minta maaf Ra. Kalau sekarang gue mau klarifikasi udah telat banget kan? Tapi kalau lo mau denger klarifikasi dari gue, maka gue akan dengan senang hati menjelaskannya sama lo..” Ujar Damma.

“Gak usah Dam, kejadian waktu itu udah jelas kok. Gue kan bukan denger cerita dari orang atau denger gosip-gosip doang. Waktu itu kita berdua ngobrol empat mata dan semua kata-kata itu keluar dari mulut lo langsung..” Kata Lara “kalau lo jelasin sekarang cuma bakal jadi pembelaan diri lo yang nggak berdasar..”

Damma hanya tertunduk. Malu, marah dan menyesal semua perasaan itu kini berhimpitan memenuhi lubuk hati Damma. Entah bagaimana lagi caranya supaya Lara mau berbaikan dengannya. Kejadian saat itu sepertinya sudah terlalu berbekas di hati Lara.

“Gue harus gimana lagi Ra?” Tanya Damma “Gue bener-bener nyesel. Gue pengen kita temenan lagi. Gue nggak pernah nemuin temen kayak lo Ra..”

“Lo nggak inget dulu lo ngomong apa sama gue? Sekarang setelah lo nggak nemu temen yang kayak gue, dengan entengnya lo minta gue balik jadi temen gue.. Ga malu lo?” Tanya Lara.

“Malu Ra! MALU!” Nada bicara Damma langsung meninggi. Dia sudah kehabisan akal bagaimana caranya supaya Lara mengerti kalau Damma benar-benar menyesal dan malu. Namun Damma berusaha menelan itu semua demi Lara.

Beberapa orang di duduk di meja dekat mereka menengok sebentar, namun langsung kembali ke kegiatan masing-masing setelah memastikan tidak ada drama yang bisa mereka tonton. Damma dan Lara langsung memperbaiki posisi duduk sekaligus ekspresi mereka.

“Gue malu Ra sama lo. kalau inget waktu gue ditahan cuma lo yang nggak pernah absen nyempetin mampir ke kantor polisi, lo yang ngisiin bensin motor gue, lo yang kasih gue makan. Secara materi mungkin memang bisa gue ganti sekarang, tapi kesediaan lo untuk nemenin gue itu gak semua orang bisa. Gak semua orang mau..” Kata Damma.

Lara hanya terdiam. Dia merasakan matanya mulai panas dan pengelihatannya kabur karena air mata yang mulai berdesakan ingin keluar. Lara merasakan ketulusan dalam suara Damma. Semua potongan kenangan yang ia lalui bersama Damma muncul dengan tiba-tiba, membuat air mata Lara tidak terbendung lagi.

“Gue nggak tahu harus ngomong apa..” Kata Lara dengan suara yang tertahan.

“Kalau ada yang bisa gue lakuin supaya lo maafin gue, gue lakuin Ra. Apapun..” Ujar Damma.

“Gue nggak tahu apa kita masih bisa temenan kayak dulu.” Kata Lara.

“Semuanya bisa pelan-pelan kok Ra, asal lo maafin gue dulu.” Kata Damma bersemangat.

Lara kembali terdiam. Di lubuk hatinya dia sudah ingin memaafkan Damma apalagi dia melihat ketulusan Damma di setiap kata yang terucap. Lara mengingat setiap kebaikan Damma. Semua ini hanyalah kesalahan masa remaja. Lara yakin bisa melupakan semuanya.

“Oke, tapi semuanya butuh proses. Gue bakal coba maafin lo..” Kata Lara akhirnya.

Damma tersenyum penuh kelegaan tanpa sadar dia meraih tangan Lara , namun Lara langsung menariknya dengan cepat. Damma akhirnya menarik kembali tangannya dengan kikuk. Kemudian hanya tersenyum kaku.

“Ra, coba deh  lo jujur sama diri sendiri, apa yang bikin lo semarah ini sampai sekarang. Gue pernah punya masalah sama orang lebih-lebih dari kejadian kita ini – tanpa bermaksud menyepelekan urusan kita – Tapi setelah dewasa gue sadar, itu semua cuma kesalahan masa lalu. Dunia terlalu luas untuk lo bikin sempit hanya karena benci sama satu orang…” Ucap Damma.

“Sekarang lo ngatain gue nggak dewasa? Mau lo apa siiiihh..” kata Lara gemas.

Damma hanya tergelak. Kini gunung es di mata Lara perlahan-lahan sudah meleleh. Damma tahu meskipun wajah Lara masih jutek, tapi Lara sudah mulai bisa menerima kehadiran Damma. Lara sudah tidak terlalu marah  lagi. Ini saatnya gencatan senjata.

“Lo nggak berubah ya. Masih aja suka narik kesimpulan seenak udel..” Kata Damma.

“Gue udah tau isi hati lo..” Ujar Lara.

“Sori, maksud gue, gue aja udah dewasa Ra, apalagi elo. Semua kejadian yang menimpa lo, semua masalah yang berhasil lo selesaikan, dan lo masih berusaha terlihat tangguh waktu lo bener-bener down, gue bisa lihat itu semua kok Ra, Ga mungkin Ra lo sampai kayak gini kalau udah gak nyimpen apa2..” Kata Damma.

Mereka berdua tahu betul yang Damma maksud “semua masalah lo” itu adalah masalah mereka yang membuat mereka berdua akhirnya berpisah.

Untuk beberapa saat Lara hanya terdiam. Dia tahu benteng pertahanan di hatinya yang sudah dibangun bertahun-tahun untuk menghalau kemunculan Damma sudah luluh lantak. Ia terlanjur membiarkan Damma masuk terlalu dalam. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Lara tahu kalau ia sudah menerima Damma kembali.

“Just tell me.. Gue nggak akan marah, atau bahkan ketawa dan nyepelein lo kalaupun alasannya ternyata sangat konyol.” Desak Damma.

Lara menghela nafas, ia menahan desakkan kuat di dalam hatinya yang memaksa dirinya untuk mengungkapkan isi hati yang sebenarnya pada Damma, namun di sisi lain ia ingin menumpahkannya sekarang.

“Selama ini Menurut lo kenapa gue bisa sampai gini sama lo?” Tanya Lara.

“Yaaa.. Karena gue nggak tahu terimakasih dan gue nggak ngasih tahu lo kalau gue udah punya pacar saat itu, ditambah pacar gue sedikit sinting saat itu..” Ujar Damma.

“Hahaha, butuh berapa lama sampai lo akhirnya sadar pacar lo gila?” Tanya Lara.

“Sayangnya, sekitar 2 tahun…” Mereka berdua kemudian tertawa. Situasi saat itu benar-benar sudah mencair. Mereka berdua bisa kembali mengobrol dengan santai.

“Lo salah Dam, bukan cuma itu kok. Gue emang marah sama lo gara-gara itu, gara-gara kata-kata lo semua, tapi ini lebih dalem.” Kata Lara. Kepalanya kini menunduk, rasanya berat sekali untuk mengungkapkan itu semua langsung pada Damma.

“I loved you, so much. Mungkin saat itu memang gue yang ke-ge-eran sehingga semua yang lo lakuin sama gue, gue anggap itu harapan. Gue tetep keep in touch walaupun lo udah nolak gue, karena saat itu gue pikir ya masih ada kesempatan untuk bikin lo merasakan hal yang sama kayak gue. Dan ternyata selama ini gue bukan cuma ditolak, tapi gue di bohongin. Itu yang bikin gue hancur. Pertama gue ditolak dan kedua gue di bohongin..

Meskipun sebetulnya mungkin kalau lo jujur sama gue juga kayaknya gue bakal tetep sedih meskipun ngga sampai hancur berkeping-keping. Harusnya lo ngomong lebih awal.

Gue sampai kehilangan percaya diri, ngerasa nggak berharga. And yes, ini cuma tentang patah hati, karena saat itu gue bener-bener jatuh cinta sama lo..” Jelas Lara panjang lebar.

Dia menunduk, ini hal paling memalukan yang pernah Lara ceritakan. Setelah bertahun-tahun Lara memendam semua ini, akhirnya Lara menceritakan juga bagian terpenting ini langsung pada orang yang dituju.

Ini sangat memalukan, tapi entah kenapa Lara merasa lega sekali. Ruang di hatinya yang penuh oleh segala kenangan buruk di masa lalu kini hanya  terasa sebagai kenangan yang biasa saja. Tidak ada kebencian, tidak ada lagi rasa perih yang selalu muncul ketika Lara melihat atau memikirkan Damma. hati dan pikirannya terasa sangat ringan.

Damma terdiam sesaat. Dia tidak tahu kalau ternyata perasaan Lara sedalam itu. Dia kira itu semua yang terjadi saat itu hanya cinta monyet yang hanya terjadi karena situasinya sangat mendukung.

“Sori yaaa, lo bener gue emang irasional banget. Gue jadi marah-marah sendiri karena gue nyimpen sesuatu. Gue malu banget mmakanya sampai kayak gini. Tiap nginget itu gue selalu merasa gue jadi loser. But now I feel so great. Maaf ya Dam..” Lara kini merasa semua beban yang membelenggunya sudah terlepas. Sudah saatnya dia memaafkan Damma.

Damma masih terdiam. Dia memikirkan semua ucapan Lara barusan dan dia menyimpulkan kalau dia adalah Cinta pertama Lara. Benarkah itu?

“harusnya gue juga bilang makasih sama lo, karena kalau nggak ada kejadian ini gue nggak akan kabur ke Makassar dan ketemu sama Gray. Oh ya, He is my fiancee, nanti kalau dia kesini gue kenalin yah..” Kata Lara, kini Lara sudah bisa tersenyum dengan sangat tulus.

“eh iya, ntar kenalin gue ya!” Lamunan Damma tiba-tiba buyar “Gue sebenernya ngajak lo ketemu disini karena gue mau pamit juga sih. Pengennya sebelum pergi gue bisa menyelesaikan semua permasalahan dulu sama lo.” Kata Damma.

“Loh memangnya mau kemana? Kuliah ke luar negeri?” Tanya Lara.

“Hahahaha… nggak koook, gue di promosiin ke kantor pusat. Jakarta doang sih” Damma nyengir

“Ya elaaah Daaam, Jakarta doang. Sekarang semua orang kerja di Jakarta bisa pulang pergi tiap weekend. 2 jam perjalanan pake pamit segala.” Kata Lara.

“hehehe, ya takutnya lo udah bener-bener gak bisa maafin gue..” Kata Damma.

Lara tersenyum simpul.

“Maafin gue ya, gue udah bisa melupakan semua dendam gue kok. Lo juga jangan marah sama gue ya..” Kata Lara.

Mana mungkin Ra gue sanggup marah sama lo ketika sepasang mata itu menatap gue dengan semangat. Mata yang selalu kasih gue spirit selama ini dan gue dengan tololnya melewatkannya gitu aja.. 

“Hahahaha.. gue pikir-pikir dulu ya!” canda Damma.

“Sial lo!” Lara ikut-ikutan tertawa.

Kedua sahabat lama itu akhirnya larut dalam obrolan hingga larut malam. Banyak sekali yang ingin mereka ceritakan satu sama lain. Sudah terlalu banyak yang mereka lewatkan selama ini, meskipun waktu 3 jam ini tidak cukup untuk merangkum kisah selama 7 tahun.

…..Bersambung

Advertisements

3 thoughts on “Unfinished Love (Part 16)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s