Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (part 15)

(click here and read Unfinished Love Part 14) 

Kembali ke hotel tempat Lara menginap, dia masih berendam air hangat di bath tub. Masih sambil mengenang masa lalu. Entah karena chemistry, meskipun bermil-mil jauhnya, Lara juga memikirkan hal yang sama seperti Damma. Dia membayangkan hari terakhirnya bersama-sama dengan Damma. Hari pertamanya punya SIM dan hari terakhirnya dia sanggup untuk bermain dengan Damma.

Di Parijs Van Java Mall, Damma dan Lara makan bersama, bertukar kabar dan menceritakan hal-hal konyol. Entah hanya perasaan Lara saat itu, tapi Lara merasa betul kalau situasi saat itu agak canggung. Entah karena mereka sudah jarang bertemu, entah memang ada yang berubah dengan Damma.

“Abis ini lo mau kemana?” Tanya Damma.

“Gak tahu. Lo mau kemana?” Lara balik bertanya.

“Balik kampus kayaknya. Anterin yaaahh eheheh. Motor gue kan masih disana..” Kata Damma.

Lara hanya tersenyum sambil mengiyakan. Jawaban Damma sangat disayangkan oleh Lara, padahal Ia mengharapkan Damma mau main dengan Lara. Tapi Damma malah minta diantar pulang ke kampus, padahal mereka sudah lama tidak bertemu.

Akhirnya setelah makan, mereka berdua pergi ke kampus Damma lagi. Selama perjalanan mereka lebih larut dalam kesunyian. Damma juga tidak banyak menyumpah ketika Lara menerjang semua polisi tidur dengan gagahnya. Sementara Lara sendiri larut dalam pikirannya. Ada yang ingin dia sampaikan pada Damma hari ini. Harus hari ini.

Setengah jam kemudian, Mobil yang ditumpangi Damma dan Lara sudah parkir di tempat Lara parkir tadi sebelum pergi. Mereka berdua masih diselimuti kebisuan. Entah mungkin karena chemistry lagi, Damma seolah tidak bisa berpamitan dan turun dari mobil Lara.

“Dam, jangan dulu turun ya.. ada yang mau gue omongin sama lo..” Kata Lara akhirnya memberanikan diri.

“Kenapa?” Keringat dingin seolah membanjiri tubuh Damma. Perasaannya kini tidak enak sekali.

“Do you realize that things going so awkward between us? Gue ngerasa ada yang aneh sama lo. Nggak tau kenapa. Kayak lo ngehindarin gue..” Kata Lara.

“Ngga kok Ra.. Gue biasa aja kok beneran. Cuma lagi sibuk aja…” Kata Damma mengelak.

“Dam..” Lara menghela nafas panjang.

“Ya?” Damma sedikit gugup. Perasaannya kini semakin tidak menentu.

“Hubungan lo sama gue tuh gimana sih?” Tanya Lara.

“Maksudnya?” Damma pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Lara.

“Entah mungkin gue yang keGRan atau memang feeling gue bener.. Yaaaa rasanya itu beda aja Damm.. Waktu pulang nonton simple plan dan lo bilang gue jangan deket-deket Sama Corry, gue ngerasa aja lo jealouse..” Kata Lara.

Damma hanya terdiam. Entah bagaimana caranya mengelak. Situasi di dalam mobil semakin menegang. Lara tidak pernah ngobrol seserius ini dengan Damma. Kecuali saat Damma meringkuk dalam tahanan.

“Semua perhatian lo, gue rasain beda, bukan kayak perhatian lo jaman SMA. Pokoknya beda. Tapi sekarang lo malah ngehindarin gue.” Kata Lara “Gue sedih Dam, aplagi gue nggak tahu salah gue apa.” Ujar Lara.

“Hubungan kita itu kayak apa sih kalau bisa lo sepertikan? Karena menurut gue untuk jadi sahabat lo doang gue udah gak bisa. Gue udah jatuh terlalu dalam..

Gue nggak lagi minta lo jadi pacar gue. Gue cuma pengen tahu aja, posisi gue di hati lo tuh kayak apa…” Tambah Lara. 

Damma terdiam lama sekali. Ada kebimbangan yang menggelayuti hatinya. Di satu sisi dia ingin mengakui kalau dia punya perasaan yang sama pada Lara, di sisi lain dia juga memikirkan Shilla dan respon orang-orang nantinya kalau dia sampai pacaran dengan Lara.

“Hmm.. Gue sayang sama lo Ra, gue juga nyaman untuk selalu berbagi sama lo. Lo udah kayak adek gue sendiri..” Kata Damma pelan.

DEG! Jantung Lara seolah berhenti berdetak. Di detik Damma mengatakan ‘lo udah kayak adek gue sendiri” Lara sadar kalau ini adalah penolakan baginya. Lara bukan siapa-siapa bagi Damma, makanya dia dengan mudahnya menghilang dari hidup Lara karena ‘kesibukannya’. Lara berusaha tetap tenang meskipun keringat dingin seolah keluar dari setiap pori-pori tubuhnya.

So… Are we okay?” Tanya Damma akhirnya memecah keheningan diantara mereka. Damma benar-benar ingin mengakhiri ketegangan ini.

“Jadi.. Adik yah?” Kata Lara matanya menatap kosong ke depan.

Damma terdiam. Dia tidak sanggup menatap Lara. Ada rasa sedih dan menyesal ketika ingat kata-katanya barusan. Damma tahu persis bagaimana perasaan Lara sekarang dan hati kecilnya menolak untuk menyakiti Lara, namun semuanya sudah terlanjur terjadi.

“Dam, lo tahu nggak kalau perempuan punya waktu ebih sedikit daripada laki-laki?” Tanya Lara datar.

“Dua tahun lagi gue akan lulus. Mungkin paling tua juga selesai umur 22. Setelah bekerja gue akan dituntut untuk segera menikah, atau at least punya pasangan yang punya visi yang sama kayak gue.” Lara melanjutkan tanpa peduli bagaimana reaksi Damma.

“Gue juga nggak minta lo jadi pacar gue, lebih-lebih jadi calon suami gue. Tapi sekarang lo udah tahu perasaan gue. Gue nggak mau punya pacar tapi gue masih punya feeling sama lo. You know I have to move on. Mungkin lo udah move on duluan, gue juga nggak tahu, aksi menghindar lo itu karena apa, tapi yang jelas ini harus jadi lebih mudah buat gue..” Lara menambahkan.

“Ya ampun Ra, demi Tuhan gue nggak ngehindarin lo. Gue nggak move on. Gue nggak kemana-mana. Gue juga nggak mau jauh dari lo…” Kata Damma kini nampak putus asa.

Lara hanya tersenyum, apapun yang dikatakan Damma kini terasa percuma saja. Penolakan yang terang-terangan itu sudah terlalu membekas di hati Lara. Ia menyayangkan kenapa begitu mudahnya Damma menolak Lara setelah semua yang terjadi, apakah tidak ada sedikit saja sudut hati Damma yang ditempati oleh Lara? Apakah Damma tidak ingin meyakinkan hatinya dulu sebelum menolak Lara mentah-mentah dengan mengatakan posisi Lara tak ubahnya seorang adik bagi Damma.

“Hmm..yaudahgini aja Sekarang kita usaha cari jodoh sendiri-sendiri aja dulu, ya kalau memang jodohnya nanti pasti bakal ada jalan..” Kata Damma canggung.

Kini senyuman perih Lara berubah menjadi tawa sinis. Setelah menolak Lara, kini berani-beraninya dia menjadikan Lara sebagai cadangan ketika dia tidak berhasil menemukan jodohnya kelak.

“Udah Dam, nggak usah ngasih harapan kosong sama gue. Gue bukan anak kecil lagi yang bisa puas dengan kata-kata yang lo kasih barusan. Kata-kata lo barusan malah tambah bikin gue nggak merasa berharga..” Kata Lara berusaha tenang.

Kini giliran hati Damma yang tak karuan. Rasa-rasanya semua kata-kata yang Damma keluarkan akan menjadi bumerang baginya. Kini Damma memilih diam selain karena lehernya serasa tercekik.

“Nggak apa Dam, perasaan kayak gini datang dan pergi kok. Tadi lo bilang ‘Are we okay?‘ Jawabannya, iya, pasti.” Kata Lara.

Setelah beberapa saat diselimuti oleh keheningan, Damma akhirnya berpamitan lalu turun dari mobil Lara. Lara memacu mobilnya dan mengambil arah pulang. Lara tidak pernah tahu kalau saat Damma memasuki kampusnya, dia berpapasan dengan Shilla, dan semua perasaan bersalah Damma selama menghadapoi Lara lunturlah sudah. Hanya ada perasaan bahagia karena ada Shilla di hadapannya.

Saat itu Lara tidak menangis sama sekali. Dia sakit hati, namun dia kembali mengingat kebersamaan mereka dan jasa-jasa Damma padanya. Tidak mungkin dia melupakannya begitu saja. Lara sadar kalaupun persahabatan mereka berakhir dan hancur, maka Lara sendirilah penyebabnya. Dia menghancurkannya dengan perasaan yang tidak seharusnya dimilikinya pada Damma. Lara hanya berusaha bernafas dengan tenang dan menghindarkan diri dari lagu-lagu patah hati. Lagu-lagu patah hati malah akan menghancurkannya berkeping-keping.

Lamunan Lara tentang pernyataan cintanya pada Damma buyar seketika saat merasakan kepalanya sudah agak pusing dan kulit jemarinya sudah mengerut. Sepertinya dia terlalu lama berendam di dalam air belerang ini. Lara akhirnya bangkit dari bath tub. Setelah ini dia akan tidur. Itupun kalau bisa.

* * * * * *

Di Kafe tempat Indy, Sonny dan Damma berkumpul, masih banyak tamu lainnya juga disitu, jam di dinding kafe itu menunjukan pukul 1 pagi. Mungkin karena ini malam minggu, semua orang masih belum ingin pulang ke rumah untuk menikmati malam yang konon lebih panjang dari malam-malam lainnya.

Damma sudah menghabiskan 1 bungkus rokok, 1 gelas frappucino dan 1 cangkir espresso. Sementara sonny sudah habis 1 piring steak dan pasta lengkap dengan lime frost, dan Indy yang tidak pernah hobi makan, hanya ditemani 1 mango float yang tak kunjung habis.

“Jadi.. Penolakan lo ke Lara bukan momen yang bikin lo akhirnya tercerai berai?” Tanya Sonny.

“Wah gue juga nggak tahu loh kalau kejadiannya ternyata beda, antara penolakan da permusuhan itu..” Kata Indy menegaskan.

Damma menggeleng. Lara bukan orang yang dengan mudahnya memutuskan tali silaturahmi dengan orang-orang. Setelah kejadian penolakan itu, Lara masih suka mengirimkan sms sesekali pada Damma atau menuliskan pesan di wall facebooknya.

“Jadi seminggu setelah kejadian itu Lara kembali intense ngehubungin gue, 5 hari sekali lah paling nggak dia sms gue atau lewat facebook. Seringnya sih dia message gue, karena gue sama dia ngobrol juga bukan sekedar lucu-lucuan. Maksudnya ya ngobrol daily routine aja. Lo sendiri tau kan Lara nggak enakan orang nya. Gue yakin dia nggak mau sampe hubungan gue dan dia rusak gitu aja.. Nah 2 minggu setelah penolakan itu gue jadian sama Shilla….” Ujar Damma.

Damma mengingat kembali saat-saat Shilla masih jadi pacarnya. Saat itu Shilla adalah gadis cantik yang manja dan haus perhatian. Akhirnya sifat kekanakan Shilla inilah yang menjadi cikal bakal permusuhan antara Lara dan Damma.

“Kalau dipikir-pikir sekarang, gue rasa si Shilla dulu tuh psikopat abis sih emang…” Kata Damma. Indy dan Sonny tergelak. Psikopat, tapi pacaran sampai 2 tahun. Pikir Indy dan Sony.

Damma menceritakan kalau 2 hari setelah mereka resmi pacaran, Shilla meminta Damma untuk bertukar password. Entah itu password Handphone, semua akun jejaring sosial, email, dan sebagainya, kecuali pin atm mungkin. Damma sebetulnya bukan tipe orang yang punya gaya pacaran ala abege begini, namun entah kenapa dengan Shilla dia hanya bisa menurut-menurut saja.

“Ternyata setelah dapet facebook gue, dia ngecekin segala macem. Yang paling parah sih message nya. Habis dia liatin message gue, besoknya dia ngomel-ngomel sama gue.. Alesannya sih ‘ada cewek ngemessage, pas dia buka fb gue’ pas diliat ternyata gue sering message2an sama cewek itu. Ya si Lara itu orangnya…” Kata Damma

Bayangan Damma kembali ke kejadian beberapa tahun silam, pertengakaran yang pertama hanya dalam 2 hari jadian. Saat istirahat, Shilla langsung menghampiri Damma yang baru saja keluar dari kelasnya, kemudian dia menarik Damma menuju sudut kosong diantara kelas mereka berdua.

“Siapa cewek itu yang? Kok kayaknya intense banget kirim-kiriman message sama kamu..” Kata Shilla, nada suaranya dibuat sedatar mungkin padahal Damma tau kalau dia sedang mengamuk.

“Temen SMA aku. Yaaa emang sering ngobrol kok, liat aja message nya dari awal sebelum kita jadian kan..” Jawab Damma.

“Iya tapi emang harus sesering itu ya?” Desak Shilla

“Lagi ada yang pengen diobrolin aja, lagian kamu liat kan gak ada yang mencurigakan dari isi obrolannya?” Tanya Damma.

“Kenapa harus di message? Kenapa gak di wall aja? Kan orang jadi curiga..” Kata Shilla.

“Kan nggak semua obrolan harus diliat sama orang-orang, sayang.. Kamu pantau aja isinya, ga ada yang aneh-aneh kok. Makanya aku santai aja kalau kita berbagi password karena memang gak ada apa2..” Damma masih berusaha menenangkan.

Setelah beberapa argumen, akhirnya Shilla mau juga mengerti. Sebetulnya yang membuat Damma malas menceritakan keberadaan Lara beserta posisi Lara dalam hidupnya karena sadar betul kalau pacarnya ini adalah seorang yang kritis. Damma tidak mau kejadian tempo hari ketika Lara menyatakan isi hatinya pada Damma, sampai diketahui oleh Shilla. Selain karena Shilla akan mencecar Damma dengan pertanyaan bak investigator di kantor polisi, dia juga meyakini kalau sama Shilla tahu, maka nyawa Lara pasti akan terancam.

“Yaudah aku percaya deh.. Jangan macem-macem ya..” Kata Shilla. Damma hanya iya-iya saja.

Dan kerumitan pun sampai pada puncaknya. Biasanya Damma selalu langsung menghapus sms-sms dari Lara. Dia selalu memastikan kalau inbox nya sudah kosong ketika dia akan bertemu atau menitipkan handphone pada Shilla. Tapi mungkin ini yang namanya takdir, Lara tiba-tiba mengirimkan sms pada Damma. Dan isi sms nya membuat Shilla murka se murka-murka nya.

Malam itu Damma sedang ada jadwal futsal bersama teman-teman sekelasnya. Shilla turut menunggui Damma beserta pacar-pacar teman Damma yang lain. Sementara berkilo-kilometer jauhnya, Lara yang kebetulan pulang cepat tanpa ada tugas hanya tidur-tiduran sambil memainkan handphonenya. Saat itulah Lara ingin mengirimkan sms pada Damma, sebuah sms singkat yang secara tidak langsung akhirnya mengubah hidupnya 180 derajat.

Sebuah sms masuk ke handphone Damma. Shilla yang saat itu sedang duduk di sisi lapang langsung membuka sms itu. Dia merasa dengan menjadi pacar Damma, dia juga mendapatkan izin langsung untuk membuka sms Damma.

From : Lara
“Daaam! Gue kangen loooooooooo~”

Seketika itu darah Shilla langsung mendidih. Sms yang ditulis dengan nada ceria sedikit mengejek itu, dibaca Shilla dengan nada manja, mungkin sedikit mendesah. Seketika itu Shilla langsung menangis.

Semua ibu-ibu Dharma wanita yang ada disitu langsung merubung Shilla dan menanyakan keadaan Shilla. Shilla ingat betul siapa yang berkirim pesan di message. Klaranda Vinity. Dan dia juga yakin kalau yang mengirim sms ini juga orang yang sama.

Dengan berapi-api, Shilla langsung mengambil handphone nya kemudian pergi ke sudut yang sedikit sepi. Ia lalu menekan nomor telepon Lara yang dia salin dari handphone Damma. Hanya perlu beberapa detik sampai akhirnya Lara mengangkat telepon Damma.

“Halo..” Kata Lara

“Ini Lara ya?” Tanya Shilla.

“Iya, ini siapa ya?” Lara balik bertanya.

“Saya Shilla. Saya pacarnya Damma.” Kata Shilla dengan nada tegas, tanpa nyolot namun cukup mengancam.

Saat itu tubuh Lara langsung lemas seketika. Patah hati dan merasa dibohongi. Damma tidak pernah menyebut apapun tentang punya pacar. Lara tahu dia tidak punya hak apapun untuk marah, tapi Lara sudah merasa tidak dianggap lagi sekarang. Kali ini dia harus membuat perhitungan dengan Damma.

“Oh ya? Terus kenapa ya?” Tanya Lara berusaha terlihat classy, meskipun rasanya ingin sekali Lara mencekik perempuan yang Lara yakin sekali tujuannya untuk mengintimidasi Lara.

“Tolong ya, nggak usah ganggu-ganggu hubungan orang.. Kamu juga kalau punya pacar kan nggak mau digangguin sama orang..” Kata Shilla dingin.

“Hah? Ganggu? Pertama-tama gue nggak tahu ya kalau Damma punya pacar. Seharusnya lo kroscek dulu, lo udah diakuin sepenuhnya belum sama dia sampe-sampe gue ga tau si Damma punya pacar. Kedua lo tanya juga tuh Damma siapa gue! Nggak usah asal ngelabrak orang. Lo cek dulu daripada malu. Heran gue orang kayak Damma mau sama cewek pecicilan kayak lo..” Kata Lara sengit.

Shilla langsung tidak terima dikata-katai seperti itu oleh Lara. Dia balas memaki Lara dengan kata-kata kasar yang membuat kuping Lara panas.

“..Lo nantangin gue? Ketemu aja kalau gitu!” Tantang Shilla.

“Buat apa? Gue sih ngerasa nggak ada masalah sama lo.. Kenal juga nggak.” Ujar Lara santai.

“Pengecut lo?! Bilang aja takut” Bentak Shilla.

“Kalau emang gue takut kenapa? Gue cuma ada urusan sama Damma. Kalau untuk ketemu sama Damma sih kayaknya pasti. Kalau sama lo sih buat apa? Ga ada gunanya nanggepin cewek sinting yang lagi cemburu buta” jawab Lara.

“Awas kalau lo berani ketemu Damma, dasar cewek perusak hubungan orang!” Kata Shilla, kemudian dia menutup teleponnya.

Damma tidak pernah tahu bagaimana perasaan Lara saat itu. Merasa dibohongi dan merasa sakit karena sudah dituduh sebagai perusak hubungan orang lain padahal Lara lah yang menjadi korban. Hubungannya dengan Damma yang sudah dirusak. Bukan oleh Shilla, tapi oleh Damma sendiri.

Meskipun Shilla adalah cewek sinting dan manja, Lara tetap tidak mau menyalahkan Shilla karena memang Shilla tidak tahu apa-apa. Semua ini salah Damma. Kali ini Lara tahu kalau dia harus marah pada Damma.

“Abis gitu gimana? Lara nyamperin lo sama Shilla di kampus?” Tanya Sonny semakin penasaran

“Nggak lah, Lara nggak mungkin mempermalukan dirinya kayak gitu. Jadi malem itu setelah terima telepon dari Shilla dia langsung ke rumah gue, nunggu gue balik selama 4 jam. Gue masih futsal waktu dia udah sampe rumah..”

“Pokoknya malem itu terjadi kehebohan lah, pas gue main, gue udah liat Shilla mewek-mewek. Main jadi nggak konsen terus temen-temen gue pada nanya dia kenapa. Akhirnya gue nggak beres main, ganti baju dan nenangin dia.. Banyak drama lah malam itu, kalau ngebayangin lagi gue jadi geli sendiri dah..” Damma memasang tampang geli kemudian tertawa terbahak-bahak.

Setelah berjam-jam memberikan klarifikasi yang isinya lebih banyak bertujuan menenangkan Shilla daripada membeberkan kisah sebenarnya, Damma akhirnya bisa pulang juga. Alangkah kagetnya ketika dia menemukan Mobil Lara terparkir di depan rumahnya.

Awalnya Damma pura-pura tidak melihat berharap Lara tertidur dan dia bisa melarikan diri dari masalah ini. Tapi ketika Damma membuka pagar dan hendak masuk, Lara menyalakan Lampu jauhnya, membuat Damma silau, dan Damma tahu ajalnya akan tiba. Namun untunglah Lara tidak sedang melakukan percobaan tabrak Lari. Setelah memastikan Damma melihatnya, Lara mematikan lampunya kemudian membuka kaca mobilnya dan memanggil Damma.

“Masuk sini lo..” Kata Lara dengan amarah sampai titik maksimum.

Dengan langkah gontai, Damma memasuki mobil Lara. Saat itu dia sedang lelah sekali. Setelah seharian kuliah kemudian dilanjutkan main futsal, tempat yang Damma idam-idamkan hanya kamar dan tempat tidurnya saja, bukan mobil Lara. Apalagi ditambah Lara yang siap meledak kapanpun Damma memberikan jawaban yang salah.

“Jadi gini Dam cara lo..” Kata Lara membuka pembantaiannya.

“Ngomong apa sih Ra?” Tanya Damma.

“Kayaknya nggak mungkin cewek sinting dan manja itu ngga ngomong sama lo..” Jawab Lara.

Dikatai seperti itu, Damma jadi panas. Walaupun dia tahu kalau Shilla itu psikopat dan manja, tapi rasanya tidak enak juga kalau kata-kata seperti itu meluncur dari mulut orang lain.

“Ga usah ngomongin dia kayak gitu” Kata Damma tajam.

“Sekarang pake ngebelain dia lagi padahal lo juga tau dia kayak apa..” Ujar Lara.

“Dia baik” potong Damma cepat

“Gue nggak ngerti Dam, kenapa lo lakuin ini semua sama gue. Pertama lo nggak ngakuin keberadaan gue di hidup lo sampe si cewek itu ngata-ngatain gue ngerusak hubungan orang, lha gue tau dia ada aja ngga!” Kata Lara sedikit membentak.

“Sakit hati tau gak sih Dam! Gue nggak tahu dosa gue apa sama lo. Gue udah berusaha jadi temen lo yang baik, kayaknya semua yang gue lakuin buat lo dari dulu udah lo lupain. Gue berusaha selalu ada di sisi lo sampai titik paling kritis lo, gue nggak minta balasan apa-apa. Toh jangankan minta balasan, ngehargain gue aja kayaknya susah banget buat lo..” Nada suara Lara makin meninggi.

Damma tidak terima mendengar sindiran Lara barusan. Sebetulnya dia malu, maka dia langsung mengambil sikap defensif. Tatapannya berubah tajam, mungkin kalau Lara itu laki-laki Damma sudah mengajaknya berkelahi sejak tadi. Dan baginya saat ini, lebih baik babak belur daripada harus terus menerus dimarahi Lara.

“Kalau ternyata lo pamrih kenapa lo nemenin gue dari dulu hah!?”

“Gue nggak pamrih! Ya sori aja kalau ekspektasi gue terlalu tinggi terhadap lo. Normalnya orang ya bersikap baik sama orang yang udah baik sama mereka..” Cecar Lara.

“Jadi lo bilang gue gak baik sama lo?” Ujar Damma dingin.

“Setelah semua yang terjadi malam ini. Nggak.” Jawab Lara.

“Gue nggak pernah minta lo temenin gue..” Kata Damma sengit.

“Yakin?”

“Gue nggak ngerti Ra kenapa lo musti semarah ini sama gue. Masalah kecil aja dibikin gede. Lo lagi cari perhatian?!” Damma mengalihkan pembicaraan.

“Pacar lo yang cari perhatian” potong Lara “Gue gak tahu lo anggep gue apa Dam, lo punya pacar terus gak bilang sama gue. Lo nolak gue dengan alasan kita cari jodoh masing-masing padahal lo lagi pedekate sama orang, dan LO NGGAK cerita sama gue. Lo sukses bikin gue merasa kayak orang tolol!” Bentak Lara. “Dan sekarang pacar lo itu ngata-ngatain gue, terus apa yang gue dapet? Lo ikut-ikutan sengit juga sama gue..”

“Lo semenyedihkan itu kah Ra? Karena lo gue tolak kemarin terus sekarang lo mau ngadu domba gue sama pacar gue..” Ujar Damma kesal dan kata-katanya semakin tidak jelas namun semakin menyakitkan.

“Menurut gue bener kok cewek gue labrak lo kayak gitu, emang lo nggak pantes smsin gue apalagi dengan sms isinya bilang ‘I miss you’ lo udah gue tolak tapi lo masih ngejar-ngejar gue.. Alesan lo karena lo gak tahu gue punya cewek. Tapi mungkin kalau lo tahu juga keadaannya gak akan jauh beda. Lo pasti terus-terusan nempel sama gue.. Lo ga nyadar kalau selama ini gue males dan emang lo bikin gue nggak pernah bisa punya pacar gara-gara kelakuan lo!” Kata Damma semua kata-kata pedasnya sukses membuat Lara sakit hati.

“I’m done..” Kata Lara. Tangannya memegang setir sementara matanya menunduk ke bawah.

“Keluar lo” Ujar Lara dingin.

Tanpa diminta dua kali Damma langsung keluar lalu membanting pintu mobil Lara. Dia benar-benar marah, entah setan apa yang merasuki nya hingga berani mengatakan hal-hal yang sangat menyakitkan seperti itu. Damma tidak sadar semua kata-katanya barusan yang tidak pernah terencana dan tujuannya hanya ingin membalas kata-kata Lara yang menyudutkan Damma akhirnya membuat luka yang berbekas di hati Lara hingga 7 tahun kemudian lukanya masih belum sembuh.

Lara langsung memacu mobilnya, dia ingin sekali segera sampai ke rumah supaya bisa menangis sepuasnya. Sementara Damma hanya diam di luar sampai berjam-jam lamanya. Marah, namun ada sedikit penyesalan di lubuk hati kecilnya.

‘Maafin gue Ra…’ bisik Damma

 

…..Bersambung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s