Fiction Story · pikiran2saya · Unfinished Love

Unfinished Love (Part 14)

(click here and read Unfinished Love Part 13)

Lara menghabiskan malam nya di dalam kamar mandi, berendam air hangat sambil memikirkan kejadian tadi, kejadian-kejadian sebelumnya, sekaligus memikirkan harus seperti apa sikapnya nanti. Lara yakin Damma akan menghantui hidupnya kini. Ketika Damma bilang dia tidak akan berhenti sampai dia memaafkan Damma, maka itulah yang akan Damma lakukan.

Lara mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dia merasakan otot-otot di tubuhnya sudah cukup rilex, namun tidak dengan hatinya. bayangan semua kebersamaannya selama bertahun-tahun dengan Damma malah semakin jelas dia bayangkan. beberapa kejadian yang bahkan sudah tidak Lara ingat, malah tiba-tiba muncul dan membuat hatinya semakin sesak.

“Dam! gue lulus SPMB Daaaammm!! gue bakal kuliah di ITB DAAAAMMMMMMMMM!!!” pukul 5 subuh Lara dan Indy sudah jejingkrakan di pinggir jalan.

“EDAN keren Ra! Selamat! Selamat!” Damma mengacak-acak kepala Lara.

“Nama lo ada gak disitu? coba cari..” perintah Lara

Dengan malas-malasan Damma mencari namanya di antara deretan nama-nama orang yang beruntung masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tahun 2005. Damma yakin namanya tidak akan ada, karena semua soal dia isi, entah itu soal yang dia bisa atau tidak. Karena sistem minus yang digunakan panitia SPMB dan dengan cara Damma mengisi soal-soalnya, hanya kuasa Tuhan saja lah yang bisa meloloskan nya di event paling akbar tiap tahunnya ini.

“Gak ada Ra..” Jawab Damma santai.

“Ah, elo bloon sih semua jawaban lo isi. Kalau hasil nyaa dibagiin, mungkin nilai lo udah bukan O, tapi minus tau!” cecar Lara.

Damma hanya nyengir kuda. Baginya memang soal-soal SPMB ini susahnya bukan main. Kalau ada orang-orang yang lulus lewat SPMB murni tanpa sogok-menyogok sudah sepantasnyalah orang-orang seperti Lara yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk belajar selama setahun ini. Bukan orang seperti Damma.

“Terus lo mau kuliah dimana?” Tanya Lara. Kini mereka sedang sarapan di tukang bubur favorit Lara di daerah Pajajaran.

“Hmmm.. gue coba Polban dulu deh Ra, mudah-mudahan sih masuk. kalau nggak masuk gue kayaknya mau nganggur dulu. Keadaan keuangan keluarga belum stabil, yaaah gara-gara gue juga, makanya gue nggak tega kalau minta kuliah di swasta..” Jelas Damma.

“Ambil swasta abal-abal aja.. hahahah” ledek Lara

“Iya deh yang anak ITB…” ujar Damma

Lara langsung cemberut, sepertinya mulai sekarang sampai Damma dapat tempat kuliah yang bonafid, dia harus lebih berhati-hati dalam bicara, karena salah-salah Damma akan meledeknya terus-terusan.

“Lo belajar deh sama gue yuk mulai besok. Yaahhh untuk pelajaran IPS nya gue nggak ngerti, tapi kita bisa belajar Bahasa Inggris sama Matematika. Katanya sih soal nya tiap tahun ga jauh beda.” Kata Lara.

“Okey!” Damma langsung menyalami Lara sambil tersenyum

“Sori ya, kemarin-kemarin gue nggak kepikiran buat belajar bareng sama lo,” Kata Lara menyesal.

Damma hanya tersenyum, kemudian dia mengacak-acak poni Lara. Entah karena hati Lara sedang bahagia lulus SPMB atau bukan, Namun Lara ingat betul kalau pagi itu dia merasa ada sesuatu yang lain tentang Damma. Sebuah perasaan baru yang membuat Lara lebih bahagia dan sering tanpa sadar memperhatikan Damma lebih dalam. Perasaan inilah yang sejak kemarin berusaha diabaikan Lara, namun kini perasaan ini malah semakin menjadi-jadi.

Sejak saat itu Lara berusaha mengendalikan perasaannya pada Damma. Perasaan terlalu bahagia saat bersama Damma. Perasaan yang sering disepertikan orang “kayak ada kupu-kupu berterbangan di perut gue”. Lara ingin semuanya seperti biasa saja, Damma dan Lara bersahabat sekarang dan selamanya. Tidak ada yang ingin Lara rusak dari hubungan mereka. Damma sudah terlalu baik untuk Lara.

Sebulan setelah pengumuman SPMB dan 2 minggu setelah Damma dengan beruntungnya lolos tes Politeknik Negeri Bandung, Kampus Lara sudah mengadakan Ospek. Mahasiswa baru wajib datang pukul 5 subuh tepat tidak boleh terlambat walaupun 1 detik. Saat itu Papa Lara masih bekerja di Batam dan tidak bisa mengantar Lara kemana-mana karena di rumah Lara tidak ada laki-laki lagi. Damma yang jadwalnya masih kosong mau mengantar jemput Lara.

“Lo yakin Dam? Lo kan susah banget bangun pagi…” Kata Lara sangsi.

“Iya udah percaya aja sama gue, mumpung gak ada kerjaan..” Jawab Damma.

“Gue gak mau loh terlambat..” Ucap Lara dengan penekanan di kata ‘terlambat’

“Ya ampun ga percayaan banget. Mau gak nih gue anter? keburu gue berubah pikiran nih..” Ancam Damma.

“eh iya.. mau..mau….” Kata Lara sambil nyengir.

Dan mulailah Damma yang sulit bangun pagi menjemput Lara pada pukul 4.30 dini hari. Itu artinya Damma harus bangun sekitar pukul 4 pagi untuk bersiap, memanaskan motor buluk nya supaya tidak mogok di jalan kemudian pergi dari rumah nya yang tidak bisa dibilang dekat dari rumah Lara.

Melihat pengorbanan Damma yang sebegitu besarnya, tanpa bisa dikendalikan, perasaan Lara semakin berkembang lebih dalam lagi. Karena Lara pada dasarnya sudah mulai punya perasaan istimewa terhadap Damma, kini apapun yang dilakukan Damma selalu masuk kedalam hatinya, terutama tingkah laku yang manis seperti ini. dengan kata lain Lara keGR-an

Kalau sempat dan Damma tidak dalam keadaan mengantuk, dia pasti menjemput Lara saat ospek. Jam berapapun itu. Dan jika Lara diberikan tugas-tugas yang aneh, Lara langsung mengirimkan sms pada Damma dan memintanya untuk membelikan benda-benda ajaib yang mungkin tak sempat Lara beli karena biasanya Lara pulang jam 5 keatas.

“Heh Ra, nanti lo harus melakukan hal yang sama ke gue ya saat gue ospek..” Ujar Damma.

Ini adalah hari ke lima Lara Ospek. Mereka berdua kelelahan dan duduk di teras Circle K ditemani 2 teh rasa buah botolan dan beberapa bungkus chiki. Tubuh Lara terkulai lemas, kepalanya terkapar di atas meja, matanya terpejam. Dia ingin mengakhiri semua ini segera.

Lara menghela nafas panjang. “Gue kira lo tulus, taunya biar gue utang budi..”

“Hahahaha.. tenang aja Ra, utang budi lo sama gue udah terlanjur banyak. ga pake gue anter jemput Ospek ini juga lo tetep berkewajiban jadi budak gue selama gue ospek..” canda Damma.

“Suka-suka lo deh..” Jawab Lara tanpa semangat.

Sejak dulu Damma selalu tahu bagaimana mengembalikan semangat Lara, tanpa putus asa dia selalu menceritakan apa saja, cerita humor yang jatohnya jadi garing sekali dia ceritakan dengan penuh semangat supaya semangatnya itu bisa menular pada Lara. Selain itu Damma biasanya mengajak Lara ke tempat makan favorit Lara, meskipun ujung-ujungnya Lara yang membayari makanan mereka berdua karena Damma masih tidak diberi uang jajan. Pokoknya Damma akan melakukan apa saja supaya Lara kembali bersemangat.

Sering sekali Lara menangis karena tugas ketika awal kuliah. Dosen nya memberikan tugas saat mata kuliahnya berlangsung pada jam 3 sore untuk kemudian dikumpulkan pukul 8 pagi keesokan harinya. Sudah tugasnya sulit, waktunya sempit ditambah masih banyak tugas-tugas yang lain yang deadline nya terus menghantui Lara.

Pernah suatu ketika Lara benar-benar merasa putus asa dengan dunia kuliahnya. Selama seminggu itu mukanya kuyu dan selalu sedih ditambah lagi Damma tidak banyak menghabiskan waktu dengannya karena katanya sibuk dengan kuliahnya. Tiba-tiba saja Damma muncul di rumah Lara dan menunjukan 2 buah kupon.

“Apa ini?” tanya Lara bingung. Dia mengira Damma memberikannya sebuah tagihan.

“Simple Plan. 3 minggu lagi.” Jawab Damma santai.

“Hah?” Lara masih tidak ngeh. Bahkan saking sibuknya dia sekarang, dia sampai tidak tahu siapa saja artis-artis yang akan mengadakan konser di Indonesia. Jangankan menonton TV, mendengarkan radio saja hampir tidak pernah.

“Lo kosongin jadwal pokoknya hari sabtu tanggal 3. Kita berangkat pagi-pagi banget. biar kebagian di depan.”

Lara masih duduk mematung. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Damma. Sekali lagi dia memandangi 2 lembar kertas yang sedang dia pegang. Masih tidak percaya dengan ucapan Damma, dia bergantian memandang kertas itu, wajah Damma, kertas itu, Wajah Damma. Sampai akhirnya dia tiba-tiba tersenyum lalu memeluk Damma dengan erat sekali. Damma tahu betul seberapa besarnya Lara menyukai Simple Plan. Dan sekarang Damma memberikannya tiket gratis. Ini benar-benar Kejutan sesungguhnya.

“Makanya sekarang jangan sedih-sedih terus. Nih udah gue beliin tiket konser plus gue temenin juga. Awas aja kalau gue masih liat muka asem lo dan lo masih nangis-nangis gara-gara tugas.”

Lara mengangguk dengan bersemangat sambil menyeka air mata bahagianya.

Setelah itu Damma menceritakan kalau keuangan keluarganya kini mulai menggeliat lagi meskipun perubahannya belum signifikan. Damma sudah dapat uang Jajan lagi meskipun hanya 10ribu rupiah saja.

“Pengeluaran gue makin banyak Ra, jadi sekarang walaupun gue dikasih uang, rasanya sih sama aja kayak kalau gue ga dikasih uang jaman SMA. Ibu masih rajin bikinin gue bekal. Tapi jarak rumah ke kampus jauh.. ga kayak jaman SMA. Plus gue ga bisa anter-jemput lo tiap hari. Artinya gue gak dibensinin Hahahahaha….” Canda Damma

“Banyak tugas kelompok, belum lagi rapat-rapat himpunan bikin gue musti kesana kemari. Karena gak cukup gue kerja di tempat tante gue Ra. Dia punya toko sembako gitu, gue tawarin sama dia sistem delivery gitu. Gue yang anter-anter, nah ternyata toko nya makin rame. Kerjaan gue makin banyak tapi pemasukan makin banyak hehehe. Ga seberapa sih Ra, toh kerjanya juga gak capek2 banget. Yang penting kebutuhan gue sekarang terpenuhi. Itulah kenapa sekarang gue jarang ketemu lo. Ga sempet jemput lo tiap hari apalagi kalau lo pulang malem nanggung jam 6/7 gitu..” Jelas Damma panjang lebar.

Lara tersenyum. Dia bangga kepada Damma yang sekarang. Damma benar-benar bisa sabar menghadapi segala cobaan yang menghampirinya, tidak merengek masalah uang kepada orangtuanya dan tidak pernah putus asa dalam menghadapi apapun.

“Lo yakin beliin tiket ini buat gue? Capek-capek kerja dan nabung terus lo abisin gitu aja?” Tanya Lara.

“Ngga apa-apa Ra, anggep aja ucapan terimakasih gue sama lo atas apa yang lo lakuin sama gue selama ini. Sebenernya uang gue belum cukup sih, gue masih kasbon sama tante gue. Hahahahaah…”

Lara ikut tergelak.

Sejak saat itulah Lara berjanji akan menikmati setiap mata kuliah beserta tugas-tugas yang diberikan. Dan itu benar-benar berhasil. Nilai Lara selalu bagus dan Lara memperkirakan bisa lulus tepat waktu. Damma sudah melakukan banyak hal untuk mengembalikan mood Lara dan dia tidak akan menyianyiakan nya.

* * * * *

Sementara itu di tempat Sonny, Indy dan Damma, mereka masih asik mengobrol tentang masa lalu mereka. Sesekali membahas kekonyolan-kekonyolan yang mereka lakukan, lalu kembali ke masalah Lara. Begitu seterusnya.

“Kalau gue sih nggak akan sampai beliin tiket konser kalau gue nggak ada feeling sedalem itu..” Kata sonny. Ternyata pembahasan mereka juga sudah sampai tiket simple plan itu.

“Kok lo bisa sih kasih segala nya buat orang yang istilahnya ga bisa lo kasih kepastian gitu..” Kata Indy.

“Gue emang pengen melakukan semuanya buat dia Ndy kalau gue bisa. Pengen ngasih semua yang gue punya… Kalau liat dia sama cowok lain juga gue gak rela sebetulnya..” Jelas Damma.

“Nah loh udah sampai cemburu juga.. Terus?” Sonny semakin bingung.

“Yah gue takut aja dengan tanggepan temen-temen gue kalau yang gue pacarin itu Lara. Sementara waktu kuliah – bukanya sombong nih – banyak cewek-cewek yang naksir gue + gue dicomblangin juga sama cewek-cewek cantik…” Jelas Damma.

Kalau kisah ini diceritakan Damma saat dia SMA, mungkin Indy akan mencekik Damma Hidup-hidup. Alangkah tidak tahu dirinya Damma dengan tampang yang hanya segitu-segitunya mengatakan hal sedangkal itu. Indy tahu kalau popularitas Damma meningkat tajam ketika masuk kuliah. Mungkin karena pembawaannya, fisiknya yang tinggi dan memang sedikit (hanya sedikit) manis, akhirnya banyak sekali perempuan-perempuan yang ingin mendekati Damma. Beberapa diantaranya malah para senior Damma. Namun rasanya itu semua bukan alasan yang tepat untuk menolak Lara, mengingat Lara sudah sangat dekat dengan Damma.

“Heh Dam, biasanya orang yang suka terlalu milih itu malah suka dapet yang ancur. Sibuk cari yang nilai 9, malah dapet yang 2. Ya lo itu…” Kata Indy.

Damma tergelak, dia tahu kalau Indy tidak sepenuhnya salah. Malah ada benarnya juga. Setelah putus dari perempuan yang membuat hubungan Damma dan Lara berakhir, pacar Damma tidak ada yang diatas rata-rata. Malah tidak lebih cantik dari Lara yang selama ini Damma tolak hanya karena tidak sesuai dengan standar ‘cantik’ orang Indonesia.

“Oke, gue makin penasaran nih sama endingnya. Soalnya kan yang gue denger sih lo sama Lara tuh deket banget ya, gimana bisa dengan entengnya lo nolak Lara, apa gak terjadi pergolakan batin tuh dalam hati lo?” Tanya Sonny.

“Sooonn.. Bahasa looooo..” Indy tertawa geli.

“Jadi gini..” Kata Damma menengahi. “Acara nonton konser berjalan sukses. Gue berangkat sama dia naik bus, ga kebeli tiket travel. 1 tiket travel bisa 2 tiket bus soalnya. Hahahahaha. Dan Lara ikhlas aja tuh. Acaranya seru banget, pulangnya kita nginep dulu di rumah sepupunya Lara. Nah pas di jalan balik dia cerita-cerita, dia bilang ada temennya yang rada aneh gitu, intinya sih gue menarik kesimpulan si cowok itu naksir Lara, dengan refleks nya gue bilang ‘udah ah, jangan deket-deket cowok kayak gitu..’ Dia malah senyum-senyum kayak bahagia gitu terus bilang sambil ketawat-ketawa gitu ‘cemburu yaaaaaa!!’ gue jawab ‘malessss.. Mending gue pacaran sama tapir..” Abis gitu dia gak bahas-bahas lagi. Yang gue liat sih dia keliatan agak kecewa tapi mesem-mesem gitu..” Jelas Damma panjang lebar.

Setelah itu Damma menceritakan kalau setelah pulang dari konser, pertemuan Damma dan Lara semakin jarang. Damma yang harus melunasi hutang bekas tiket konser Simple Plan kepada Tantenya, harus bekerja lebih giat supaya cepat lunas dan cash flow segera membaik. Belum lagi sekarang dia juga banyak tugas membuat kesempatan berjumpa dengan Lara semakin berkurang. Ditambah kegiatan perkuliahan Lara juga super padat, pada akhirnya mereka hanya bertukar kabar via sms sesekali.

“Gue pulang kuliah jam 3 kalau gak ada tugas. Langsung ke tempat tante gue, nganterin barang yang udah inden dari sejak pagi. Kalau ga ada tugas sih gue kerjain sampe jam 9 malem sampe toko tutup.. Gitu terus tiap hari. Akhirnya ya gue gak sempet making friends, yah orang-orang yang gue temui cuma anak-anak kampus doang..” Ujar Damma.

Then you’ve met this Shilla-girl di kampus..” Tebak Indy.

“Yap, karena gue juga gak sempet kenalan sama anak-anak di jurusan lain saking sibuknya gue dan gue gak sempat ikutan acara-acara kampus, jangkauan gue gak jauh, dia cuma beda kelas sama gue. Masih satu jurusan dan dia di kelas sebelah.” Kenang Damma.

“Katanya lo sibuk? Kok sempet gebet anak kelas sebelah?” Tanya Sonny.

“Dikenalin. Dicomblangin. Temen sekelas gue bilang Shilla naksir sama gue. Setelah gue liat orangnya yaaaa cantik, lucu, manis.. Yaudah gue bilang mau dikenalin. Akhirnya pedekate selama kurang lebih 3 bulan, jadian deh..” Kata Damma.

“Lo pasti sering bohong sama Lara ya ketika periode pedekate itu..” Tebak Indy.

“Nggak juga sih, karena gue ketemu Shilla pas di kampus, kalau gue jalan sama Shilla, ga pernah bertepatan dengan Lara ngajak gue ketemu. Meskipun tetep sih gue jadi ngerasa males ketemu Lara.” Ujar Damma.

“Eh, dulu Lara gimana sih pas gue pedekate sama Shilla?” Tanya Damma.

“Dia memang ngerasa lo berubah, tapi dia inget lagi waktu lo kasih tiket, dia udah janji gak bakal jadi dramaqueen lagi. Dan dia kembali menyibukkan diri dengan kuliah.”Jawab Indy.

Kini Damma merasa jahat sekali pada Lara, hanya gara-gara cinta monyet Damma sampai harus meninggalkan Lara. Padahal Damma yakin kalau Lara saat itu pasti ingin menceritakan banyak hal padanya. Beberapa kali Lara mengiriminya sms, hanya dibalas sekenanya oleh Damma.

“Gue sibuk Nih Ra. Tar deh kalau kosong pasti gue kabarin.” Namun Damma tak kunjung mengabarinya.

“Terus-terus?” Tanya Sonny.

“Gue lupa kapan pastinya, tapi waktu itu kalau ga salah besoknya setelah Lara punya SIM, dia bawa mobil bokapnya ke kampus gue jam 4 sore…” Damma melanjutkan kisahnya.

Entah kenapa dari semua kenangan bersama Lara hanya kejadian ini yang tidak pernah bisa lepas dari pikiran Damma, kalau kejadian lainnya bisa Damma lupakan dan baru ia ingat kalau ada yang mengingatkan, tapi kejadian ini selalu Damma ingat paling tidak seminggu sekali. Entah karena penyesalan yang berkepanjangan, entah karena ini dosa dan rasa bersalah pada Lara. Yang jelas ia ingin segera menyelesaikan ini semua.

Saat itu Damma yang sedang ngobrol berdua dengan Shilla di pendopo, mendapatkan telepon dari Lara secara tiba-tiba. 2 kali Damma mematikan nada deringnya sehingga seolah-olah Damma tidak sempat mengangkatnya, Namun Lara bukan orang yang pantang menyerah, Karena Lara tahu Damma sudah pulang kuliah, dia meneleponnya lagi. Akhirnya dengan terpaksa Damma mengangkatnya di hadapan Shilla supaya tidak terlihat mencurigakan.

“Dammmaaaaaa!!! Tebak siapa yang punya SIM baru?!” Kata Lara ceria ketika teleponnya diangkat dan mendengar suara Damma.

“Mang Juned..” Jawab Damma Asal.

“Salaaaahhh!! Jawabannya adalaaaahh… Gue! Klaranda Vinity!” Kata Lara.

“Wiiiiiihh!! Selamat ya!” Kata Damma tulus.

“Iya, mulai sekarang lo ga perlu anter-jemput gue lagi. Selama Papa kerja sih mobil bebas gue pake.. Seneng banget deh!”

“Mantaapp..” Hanya itu saja respon Damma. Damma tidak mau setelah Damma menutup telepon Shilla akan menanyakan hal yang aneh-aneh.

“Keluar dong. Gue udah di parkiran nih. Kita makan-makan. Deket gerbang lo liat nanti ada mobil Papa” kata Lara

“Hah? Waduh. Gak bisa.. Gue lagi ada acara nih..” Elak Damma.

“Alah, tinggalin dulu kek sebentar. Susah banget mau ketemu gue, ini udah sampe gue samperin segala. Gue tunggu pokoknya.” Lara langsung menutup telepon.

Karena tidak ada pilihan lain, Damma meminta izin kepada Shilla untuk pergi keluar dulu karena ada temannya di depan. Tidak perlu ditunggu karena kemungkinan Damma akan lama baru kembali ke kampus. Karena masih pdkt, Shilla tidak banyak bertanya dan nurut-nurut saja. Akhirnya 5 menit kemudian Damma sudah ada di parkiran masuk ke mobil Lara.

“Lama bangeeett..” Kata Lara.

“Sorry.. Sorry.. Lagi ada acara nih..” Kata Damma.

“Yaudah kita berangkaaat..” Tanpa meminta persetujuan Damma, Lara langsung menancap gas.

Sepanjang perjalanan Damma terus menerus menyumpah, karena gaya Lara dalam mengemudikan mobil lebih parah dari supir elf bandung-pangandaran. Serabutan dan siap menyeruduk apa saja.

Akhirnya 20 menit kemudian mereka berdua sampai di Parijs Van Java Mall. Di perjalanan Lara mengatakan kalau dia akan mentraktir Damma karena sekarang Lara sudah punya SIM.

Mereka berdua hanya bertukar kabar tanpa ada pembicaraan yang terlalu seru. Damma juga meminta maaf pada Lara karena belakangan ini dia sangat sibuk sehingga tidak sempat membalas sms nya. Satu-satunya yang ada dalam pikiran Damma saat itu adalah Shilla. Dia ingin menghabiskan waktunya dengan Shilla, bukan dengan Lara.

Damma hanya menatap Lara dengan tatapan hambar sementara Lara menceritakan hari-harinya dengan penuh semangat.

…..Bersambung

Advertisements

6 thoughts on “Unfinished Love (Part 14)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s