Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (Part 13)

(click here and read Unfinished Love Part 12)

Ballroom hotel Kartika yang dijadikan tempat reuni malam itu sudah penuh oleh alumni SMA Jaya angkatan 2002, 2003,2004 dan 2005. Lara dan Indy tiba sekitar pukul 7 malam sementara Gitta dan Femmy sudah ada di tempat. Femmy yang menjadi panitia, belum sempat Lara temui. Indy dan Gitta menyebar entah kemana sementara Lara asik mengobrol dengan Sonny yang sudah tidak ia temui selama kurang lebih 7tahun.

“Gue gak tahu kalau lo udah di Bandung lagi..” Kata Sonny.

“Udah berapa bulan juga ih, lo sibuk banget kayaknya..” Kata Lara

“Iya sih gue gue nggak ada waktu banget deh Ra kayaknya. pagi sampe siang gue kuliah, siang sampe malem gue kerja..boro-boro buka socmed, tidur aja masih kurang” Jawab Sonny

Kini Sonny bekerja dan kuliah di Kuala Lumpur sebagai seorang Koki. Dulu Sonny yang anak basket tidak pernah tahu kalau dia akan tertarik kepada dunia masak-memasak. Lara lah yang mengenalkan Sonny kepada makanan enak sampai akhirnya dia suka mencoba mengolah masakannya sendiri, dan ketika lulus SMA dia memantapkan hatinya untuk masuk sekolah pariwisata, karena selain basket, dia tidak punya passion terhadap pelajaran apapun.

“Gak apalah Son, lo masih beruntung kuliah dan profesi sesuai dengan yang lo pengenin.”Lara menghela nafas.

“ciyeeee curcol. Lo juga suka sesuai kok sama yang lo mau kan, orang dari SMA dulu lo doyan banget kimia. Lagipula semua udah ketutup sama penghasilan lo di pabrik semen itu.. ” Sonny menggoda Lara. 

“halah.. gaji lagi..gaji lagi bikin gue males sekaligus ngenes .. ” Kata Lara tergelak.

Sonny dan Lara tertawa bersama-sama, sudah lama sekali mereka berdua tidak tertawa selepas ini. Diantara anak basket lainnya, Sonny adalah yang paling dekat dengan Lara. Selain karena Sonny anak basket dan Lara adalah managernya, Sonny juga sangat dekat dengan Lara, maka tak jarang mereka main sama-sama juga.

“Kenapa pulang Ra?” Tanya Sonny

“Oh iya. gue jadi keingetan juga. Gue tuh mau buka restoran Son. Lagi ribet masalah tukang masak nya. Gue mau minta tolong lo tapi inget lo ga lagi disini dan pasti sibuk banget. Thanks ya udah ngingetin dengan nanya sama gue, gue jadi inget mau minta tolong sama lo bisa ga cariin gue orang yang kira-kira cocok gitu buat kerja sama gue?” Kata Lara cepat dan merepet seperti petasan.

“wuih..wuih..wuih.. santai..santai.. hahahha” kata Sonny menanggapi “Nanti gue coba cariin ya Ra,  lo coba nanti kasih gue kriteria nya kayak apa, siapa tau temen gue ada yang butuh kerja apa gimana..”

Lara memberikan cengiran kuda. Lega juga akhirnya keputusannya untuk datang ke acara reuni tidak salah. Dia malah menemukan solusi untuk permasalahannya selama ini, lagipula sampai detik ini Lara masih belum melihat batang hidung Damma. Lara melanjutkan ngobrolnya dengan Sonny dan orang-orang yang ngalor ngidul menyapa mereka.

Saat mereka berdua ngobrol, Sonny tiba-tiba memalingkan pandangannya dari wajah Lara. Sonny yang duduk berhadap-hadapan dengan Lara melemparkan senyum dan melambaikan tangannya kepada seseorang di belakang Lara. Secara reflek Lara berbalik untuk melihat siapa yang Damma sapa, namun sekujur tubuhnya terasa membeku ketika tahu siapa orang itu.

Pandangan mereka bertemu, senyum di bibir Lara langsung hilang seketika. Damma menatap Lara dengan canggung. Setelah beberapa detik membeku, Lara langsung berbalik, menarik nafas dan berusaha membuat dirinya senyaman dan sekasual mungkin.

“Hallo Damma, brother!” Sonny langsung bangkit di tempat duduknya dan memeluk Damma dengan bersemangat. “Apa kabar lo?” tanya Sonny.

“Baek.. lo gimana Son? kapan ke Bandung?” ujar Damma.

“Kemarin siang. Gue ambil cuti seminggu kok, ntar kabairn gue kalau ada waktu kosong. kita main sama anak-anak” ujar Sonny

“siap..siap bisa diatur..” Kata Damma.

Lara hanya duduk membeku sementara Damma dan Sonny ngobrol sambil berdiri. Lara memainkan handphone nya sambil tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Semuanya terasa canggung, Sonny juga merasa canggung. Sonny tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Damma dan Lara, yang jelas Sonny hanya tahu mereka yang begitu dekat tiba-tiba jadi sangat jauh dan Sonny bisa merasakan ketegangannya sekarang. Rasanya seperti terperangkap ditengah orangtua yang sedang bertengkar. Tapi Sonny tidak mau bertanya maupun meledek mereka, takutnya memang masalah mereka benar-benar serius.

“eh man, gue ke tempat si Wira dulu ya, belum ketemu nih gue sama dia..” Kata Sonny sambil menunjuk Wira teman sekelasnya dulu yang duduk 3 meja dari mereka. “Ra, pergi dulu ya gue, kalau sampai akhir acara lo gak ketemu gue, ntar langsung telepon aja ya..” Ujar Sonny.

Lara mengangkat pandangan dari handphonenya. Mengangguk sambil tersenyum dipaksakan. Perasaannya kini semakin berkecamuk, namun perasaannya yang paling besar adalah perasaan ingin mencabik-cabik Sonny karena telah meninggalkan Lara hanya berdua dengan Damma.

Setelah memastikan Sonny pergi, Damma langsung duduk di kursi tempat Sonny sebelumnya duduk. Melihat Damma akan duduk, Lara langsung bangkit dari tempat duduknya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Darahnya seperti terpompa dengan cepat ke otaknya, membuat tubuhnya terasa sangat panas.

“Ra.. ra jangan pergi..” Kata Damma.

Mendengar suara Damma yang bertahun-tahun tidak dia dengar membuat tubuhnya seolah meleleh, Air matanya sudah menyeruak dan berlomba-lomba ingin keluar, namun Lara menahan semua itu. Ini bukan saatnya untuk bernostalgia atau menunjukan kalau dirinya lemah. Dia bisa membuktikan selama 4 tahun ini dia bisa hidup tanpa Damma dan dia akan membuktikannya langsung di hadapan Damma sekarang.

“Duduk ra..”pinta Damma dengan suaranya yang pelan.

Karena ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, Lara menuruti Damma untuk duduk. Dia duduk di hadapan Damma, dengan mata yang terus menatap layar handphone nya.

“Apa kabar?” Tanya Damma.

Lara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Mengisyaratkan kalau dia malas padahal dia hanya ingin menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

“Kalau cuma mau nanyain kabar, jawabannya, gue baik-baik aja. Dan gue lagi nggak pengen ngobrol sama lo” Jawab Lara dingin.

“Duduk dulu deh Ra ada yang mau gue omongin” kata Damma.

Entah  apa yang mempengaruhi Lara hingga 10 detik kemudian Lara menduduki tempatnya kembali dan 10 detik nya lagi Lara menyesali kenapa dia tidak langsung pergi setelah ia bangkit dari tempat duduknya barusan.

“Silahkan kalau mau ngomong..” Lara tidak berani menatap Damma. Satu-satunya alasan adalah karena dia takut kalau sampai harus menangis di depan umum. Dia terus menatap handphone nya berusaha mengirimkan pesan ke messenger Gray, namun tidak ada tanda-tanda kalau pesan nya itu sampai, padahal Lara butuh Gray sekali untuk mengalihkan perhatiannya.

“Gue minta maaf Ra, atas semua yang terjadi selama ini. Mungkin memang basi sih udah bertahun-tahun tapi gue inget kesalahan ini terus sama lo..” Kata Damma membuka speech nya yang kelihatannya akan sangat panjang.

“Langsung aja ke intinya, gue ke reuni mau ketemu temen-temen gue. Bukan mau dengerin cheesy speech yang nggak jelas tujuannya apa..” Ucap lara tajam.

Damma menghela nafas, dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk menerima segala kemungkinan buruk atas respon Lara. Ini jauh lebih baik daripada dugaannya. Sejak dari rumah dia memperkirakan Lara akan kabur lagi seperti saat mereka berjumpa di Parijs van Java mall. Paling tidak Damma yakin kali ini Lara akan mendengarkan permintaan maaf Damma, walau sebentar dan sambil acuh tak acuh.

“Gue sangka semua udah kembali seperti semula, maksudnya kejadian itu udah bertahun-tahun dan sekarang kita udah dewasa. Tapi ternyata waktu ketemu lo di PVJ kemarin gue kaget karena lo  masih keliatan marah banget sama gue” Ujar Damma.

“Oh, kenapa ya perasaan gue tadi denger lo minta maaf, tapi setelah itu lo kesannya malah kayak ngata-ngatain gue nggak dewasa.. Permintaan maaf apa tuh” Ujar Lara sengit.

“Bukan Ra, bukan gitu. Gue bener-bener minta maaf tulus dan gue emang ngerasa dosa banget. Ditambah gue selama ini nggak sadar kalau lo masih semurka ini sama gue. Gue tahu lo block facebook lo dari gue, dan hampir setiap minggu selama 4 tahun ini gue ngecekin terus kalau-kalau lo udah unblock gue. gue bener-bener pengen tahu keadaan lo. dan gue terlalu malu untuk nanyain lo sama temen-temen lo..” Jelas Damma panjang lebar.

“Lo mau tahu keadaan gue? I’m more than awesome now. Dan sebagai informasi tambahan, gue menghindari lo di PVJ karena gue udah nggak mau berhubungan sama lo lagi. Lo pernah bikin gue sakit hati banget dan gue nggak akan membiarkan itu terjadi lagi” Kata Lara

“Iya gue minta maaf banget.. sekarang gue udah tahu lo ada disini, gue gak akan berhenti sampai lo maafin gue..” Kata Damma, kini dia tertunduk penuh penyesalan.

Thank you for ruinning my night..” Kata Lara sambil tersenyum penuh arti. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berhenti sebentar “I mean, my life..” Lara langsung berlalu meninggalkan Damma yang duduk sambil tertunduk dan memegang kepalnya.

Setelah itu Lara langsung pulang tanpa sempat berpamitan kepada Indy, Gita dan Femmy. Dia hanya mengirimkan pesan singkat di messenger kepada Indy.

“Ndy, gue balik duluan ya, udah naik taksi nih. Gue udah ketemu sama Damma, dia ngomong. Udah rusak malem gue pokoknya.. Lo jangan samperin gue, sampe gue hubungin lo ya, I’m fine…”

Ketika mendapatkan pesan itu, Indy langsung tidak enak, dia bilang kepada Femmy dan Gita kalau Lara tiba-tiba dijemput oleh Papanya karena ada pamannya yang sakit. Indy ingin sekali berbicara dengan Lara, tapi Indy juga tahu ini bukan saat yang tepat karena jika Lara memintanya untuk jangan datang, maka itulah yang harus dia lakukan.

Lara tidak langsung pulang, dia meminta supir taksi untuk mengantarnya ke Ciater. Selama di perjalanan dia tidak henti-hentinya berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang, pikirannya kalut, semua kejadian di masa lalu seolah diputar kembali seperti slide film yang silih berganti. Jalanan bisa dibilang cukup lancar meskipun agak ramai. Beruntunglah saat tiba di hotel, Lara masih mendapatkan kamar, akhir pekan begini biasanya semua hotel di daerah Bandung dan sekitarnya penuh oleh kehadiran orang-orang dari luar kota yang ingin menikmati wisata-wisata Kota Bandung.

setelah semua urusan administrasi selesai, Lara merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Kini airmata yang seharusnya keluar malah tidak keluar, dia terlalu sedih dan terlalu lelah untuk marah. Dia kemudian memutuskan untuk menelepon Flo dan menyuruhnya untuk membeithau kedua orangtuanya kalau dia menginap di rumah Indy.

Sementara itu di Bandung, acara Reuni SMA Jaya kini sudah selesai. Indy sengaja mengajak Sonny dan Damma untuk bertemu di sebuah kafe tidak jauh dari hotel tempat mereka reuni. Indy minta ditemani Sonny supaya suasanya tidak terlalu canggung. dan kini mereka berdua sedang duduk sambil ditemani 3 cangkir kopi.

“Lo tadi jadi ngobrol sama Lara?” tanya Indy.

“Bukan ngobrol sih, gue ngomong dan dia ngomel.. ya wajar juga sih dia ngomelin gue..” Kata Damma pelan.

“Iyalah lo pantes dia omelin. Ga di mutilasi aja udah untung lo..” Jawab Indy santai.

“Eh guys. gue nggak nggak tahu loh ya apa yang sedang terjadi dan pernah terjadi. jadi sekarang gue jadi penonton aja sambil nyimak. tolong jangan minta pendapat yang susah-susah oke..” Potong Sonny.

“Sebenernya gue nggak tahu loh Ndy, gimana keadaan Lara setelah gue jadian waktu itu. dia marah-marah sama gue terus ngilang. Ya dulu sih jaman gue masih ababil, gue sebel juga dimarah-marahin seenaknya gitu sama dia, yaudah gue tinggalin aja. Gue nggak tahu sehancur apa dia waktu itu..” Kata Damma wajahnya penuh sesal.

Indy menarik nafas panjang. Meskipun ingin menghajar Damma atas nama persahabatan, Indy tidak melakukannya karena Indy tahu kini mereka sudah dewasa dan solidaritas yang membabi-buta tanpa dasar juga sudah tidak mereka butuhkan, apalagi ini urusannya antara Lara dan Damma, Indy bahkan tidak mau memaki Damma karena merasa tidak berhak. Kini dia hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, versi Damma.

“Lo tau nggak kalau Tahu Cibuntu dilempar dari gedung perkantoran lantai 63, terus keinjek sama orang-orang dibawah. Nah Lara dulu kayak gitu. Dulu sih belum ada lagu butiran debu itu, Lara itu udah kayak ampas tahu..” Kata Indy.

Analaogi barusan membuat Damma bisa sedikit tersenyum sementara Sonny yang duduk di samping Damma tertawa tebahak-bahak. Indy juga tersenyum melihat Damma kini sudah terlihat sedikit santai. Tujuannya dia memang supaya Damma tidak suntuk jadi dia bisa mengorek semua isi hatinya. ditambah lagi dulu keadaan Lara memang benar-benar seperti serpihan tahu.

“Segitu cintanya dia sama gue ya?” tanya Damma.

“Yap, dulu. dulu hari-hari dia itu selalu diisi sama lo, lo anter-jemput dia, terus nungguin dia beres kuliah, jemput dia dari kampus kalau pulang kemaleman. Pergi masak bareng, lo temenin dia lari pagi meskipun lo benci bangun pagi. Itu udah bukan lagi ke ge-eran Dam, memang udah seharusnya dia sayang sama lo dengan lo begitu care nya sama dia..” Kata Indy.

“Gue juga sayang kok sama dia, makanya gue care..” Damma membela diri

“Mungkin lo udah terbiasa dengan kehadiran Lara makanya bikin lo merasa nggak tertantang untuk pacaran sama Lara saat itu, karena lo nggak sadar segimana rasa sayang lo sama Lara. Ditambah lo baru masuk dunia kuliah, ketemu orang baru, dunia baru..” Jelas Indy

“Lo nya sih enak aja Dam, begitu lo punya pacar terus ninggalin Lara, lo langsung punya orang buat gantiin posisi Lara nemenin lo kemana-mana, tapi lo pernah mikir nggak keadaan Lara saat itu kayak gimana? Setiap saat bareng sama lo dan tiba-tiba lo pergi dia tuh selalu merasa insecure. Gue sendiri sih amazing liat cara dia bertahan dan pura-pura baik-baik aja kalau lagi bareng sama temen-temen atau keluarganya, tapi dia nggak lebih dari zombie. bangun, kuliah, ngerjain tugas gila-gilaan, ambil mata kuliah yang banyak, pulang ke rumah, tidur..”

Indy hampir saja menitikan air mata saat mengingat keadaan Lara saat itu. Dia juga tidak bisa menemani Lara setiap saat karena mereka beda kampus, dan hanya bisa menyempatkan bertemu atau di telepon berjam-jam oleh Lara kalau dia tidak sibuk.

“Gue nggak tahu Ndy, serius.. gue langsung hilang kontak sama dia begitu ada kejadian itu. Gue cuma tahu dia wisuda karena temen gue ada yang upload foto bareng dia, gue telepon ke rumahnya dan Flo jelas-jelas bilang ‘Kakak nggak mau ngommong sama Ka’ Damma katanya’ dari situ gue baru sadar kalau Lara bener-bener marah sama gue. Pas gue samperin ke rumahnya kata Mama-Papanya Lara udah berangkat ke Makassar…” Kenang Damma.

Saat itu Damma mencoba meminta nomor Hp Lara yang baru pada Flo, tapi Flo bilang kalau Lara melarang Flo untuk memberikan nomor Hp nya kepada Damma. Damma tahu kalau Lara benar-benar murka. Lara bukan orang yang pendendam dan kadang selalu melupakan kesalahan orang lain. Tapi kali ini lain ceritanya.

“Waktu lebaran gue pernah datang ke rumahnya, Mamanya bilang Lara nggak pulang. Yaudah gue balik lagi dan ngingetin sama Mamanya supaya nggak ngasih tau kalau gue kesana.. Lara gak tahu kan kalau gue pernah nyariin dia?” Tanya Damma.

Indy menggeleng. “Thank you ya Dam lo membuat pilihan yang tepat dengan nggak nge-rebekin Lara selama di Makassar.. gue sedih liat dia hancur begitu..”

Damma hanya tersenyum kecut. Semua ini salahnya. Dia menyesali semua perbuatannya, sebenarnya sudah sejak dulu Damma menyesal, setelah menjalani 6 bulan pacaran dengan pacar nya saat itu, Damma baru sadar tidak ada yang bisa menyaingi Lara, mulai dari perhatiannya, topik pembicaraannya hingga masakannya.

“Kenapa lo gak jadian aja sama Lara waktu itu? Jujur deh..” desak Sonny yang katanya hanya jadi penonton.

Damma terdiam beberapa saat. Kalau ditanya apakah Damma pernah punya perasaan sayang seperti normalnya laki-laki kepada perempuan, maka jawabannya adalah Iya. Tapi selama bertahun-tahun dia selalu menyangkal perasaannya.

“Oke, karena gue pengen jujur sekarang, gue jujur. Kedengerannya dangkal dan memang dangkal tapi ini kenyataan dan gue tegaskan dulu kalau gue udah berubah..” Kata Damma panjang lebar.

“jadi, jawabannya?” Tanya Sonny.

“Lara nggak cantik..” Jawab Damma pelan sekali.

“I Knew it..” Kata Indy sambil tersenyum penuh arti.

Sonny hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, bisa-bisanya cowok yang mukanya macam Damma ini sebegitu tidak tahu dirinya. Karena di mata Sonny, Lara itu sudah terlalu bagus untuk disandingkan dengan Damma di masa SMA. Lara adalah gadis pintar, ceria, berwawasan luas, sementara Damma sendiri adalah salah satu anggota dari Biang Kerok di sekolahan, dari tampang juga tidak cakep-cakep amat. malah sekarang penampilan Damma jauh lebih baik daripada masa-masa SMA nya.

“Parah banget Dam..” bisik Sonny.

“Gue udah berubah kok Son, serius.” Kata Damma. “Kalau ada yang bisa gue lakuin buat nebus semua dosa gue sama Lara gue lakuin Ndy..” tambah Damma

…..Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s