Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (part 12)

(click here and Read Unfinished Love part 11)

Hari Juma’t malam Lara duduk-duduk di ruang tamu bersama buku-buku tentang Manajemen bisnis. Poin-poin penting yang dia temukan dalam buku, langsung dicatatnya. Dia ingin sekali semua urusannya berjalan lancar dan restoran yang akan dibukanya ini segera terealisasi, namun apa daya Gray yang berjanji akan membantunya malah sibuk dengan pekerjaannya. Mereka hampir tidak berhubungan sama sekali minggu ini karena Gray sedang ke daerah Sulawesi Utara untuk acara TV yang diasuhnya.

Lara menatap Layar Handphone nya, masih belum ada juga kabar dari Gray. Lara tidak terlalu khawatir karena kejadian seperti ini memang sering terjadi, hanya saja kali ini lain ceritanya. Gray berjanji akan menemani Lara ke acara reuni malam minggu besok. Sebelum pergi Gray berjanji kalau Jum’at siang dia sudah kembali ke Jakarta dan malam nya dia sudah pergi ke Bandung. Kenyataannya boro-boro datang pada Jum’at malam, mengabari sudah ada dimana saja tidak bisa.

Akhirnya Lara memutuskan untuk menelepon Gray. Beberapa hari ini sih telepon nya tidak aktif mudah-mudahan hari ini sudah aktif. Lara menekan angka 1, speed dial untuk Gray. Nama dan foto Gray langsung muncul di layar kali ini telepon Lara tidak disambut oleh mbak-mbak yang mengatakan nomor Gray di luar jangkauan. Kini ada nada sambung.

Lara hanya perlu menunggu 5 detik untuk mendengar suara Gray yang terdengar sangat kelelahan.

“Halo Nong..” Sapa Gray.

“Pasti lupa deh.. Kamu dimana sekarang?” Ujar Lara kecewa sekaligus pasrah.

“Nggak lupa sama sekali. Tapi perjalananku ini di extend 1 hari. Besok malem baru pulang..” Jawab Gray.

Lara hanya menghela nafas. Di satu sis dia marah, namun di sisi lain dia juga tidak bisa bertingkah seperti anak kecil. Sudah jelas Gray sedang bekerja mana mungkin dia merengek-rengek dan meminta Gray cepat pulang hanya untuk menemani nya ke reuni yang jelas alasannya hanya karena Lara terlalu pengecut untuk datang sendirian bertemu dengan masa lalunya.

“Nong?” panggil Gray sambil mengecek apakah Lara masih ada di ujung telepon atau tidak.

“Yes..” Jawab Lara tanpa semangat.

“Maaf ya, aku nggak tahu nih kalau ternyata harus di extend..” Kata Gray.

“Kok bisa nggak tahu? Kan kamu produser nya.. jangan-jangan cuma alesan aja..” Ucap Lara sinis.

“Udah deh aku lagi nggak pengen berantem. Kamu sendiri juga tahu kan aku gak bohong..” Jawab Gray santai. “Terus jadi gimana?”

“Yaudah aku ga pergi deh..” jawab Lara malas.

“Emang segitu pentingnya ya kehadiran aku disitu? Biasanya kamu kan mandiri, apalagi acara yang melibatkan banyak temen-temenmu. Biasanya pengen bersosialisasi, takut nyuekin aku, kok sekarang kayaknya sewot banget aku ga dateng..” cecar Gray.

DEG! Perasaan bersalah sekaligus perasaan tak aman menghampiri Lara. Lara tidak mau Gray mengetahui ini semua, biarlah Lara menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus Gray ketahui.

“Ga penting lah, kalau ga dateng sih ga dateng aja. Yaudah pulangnya hati-hati ya, Kabarin! itu juga kalau mau. Kalau nggak sih ga usah..” Kata Lara sinis.

“Iya buuuu…” Kata Gray. Meskipun dongkol karena dijuteki Lara, Gray tahu persis posisi nya ini salah karena telah membatalkan janjinya sendiri, tapi ya mau bagaimana lagi. Gray sendiri juga malas sekali bertengkar karena capek sekali dan tubuhnya serasa remuk.

Lara menutup teleponnya dengan perasaan campur aduk, ada rasa bersalah, ada rasa dongkol dan kebingungan yang melanda dirinya. Apakah dia harus melanjutkan rencananya untuk datang ke reuni atau tidak.

Dia takut dirinya akan goyah mengahdapi semua kenangan masa lalunya. Coba berapa banyak kisah yang kita dengar tentang pasangan-pasangan yang kembali bersama setelah reuni? kalau sama-sama single sih masih bagus, tapi cerita-cerita tentang perselingkuhan nyatanya lebih mendominasi. 

Lara hanya menghela nafas. Masih ada waktu sampai besok siang untuk memutuskan. Kalau dia menelepon Indy sekarang, dia pasti akan memaksa Lara untuk datang ke reuni. Lebih baik besok saja, supaya Lara bisa cari-cari alasan untuk tidak datang di menit-menit terakhir.

* * * * * * * *

Acara reuni tinggal 3 jam lagi, dan kini Lara sedang duduk di depan meja riasnya. Sudah lebih dari 2 jam dia duduk di situ, tanpa progress yang berarti. Yang ia kerjakan kebanyakan hanya melamun. Memakai pelembab lalu melamun selama 10 menit, kemudian mengulaskan bedak lalu melamun selama 15 menit, begitu seterusnya, hingga kini make-up nya hampir selesai.

Lara menghela nafas, gagal sudah menghindari Indy. Tadi malam sebelum ia tidur, Indy malah menelepon duluan dan memastikan Lara datang ke acara reuni. Ketika Lara mengatakan kalau Gray tidak bisa hadir, Indy dengan tegas mengatakan kalau dia akan datang hanya bersama Lara. Indy berjanji akan menjaga Lara dari segala hal buruk yang mungkin tidak akan terkontrol. Ya semua ini tentang Damma.

Setelah mencoba menolak berkali-kali dan perdebatan panjang tadi malam akhirnya Lara mengalah juga. Lara yang sebelumnya ngantuk berat langsung ilfil karena membayangkan hal yang tidak-tidak di reuni besok.

“RA! lo tuh harus menghilangkan keparnoan lo ini. Kalau lo nggak bisa menyelesaikan semuanya, ya paling nggak lo harus liat Damma disana, bikin diri lo biasa lagi dan nggak kena panic attack saat liat makhluk item itu..” Kata Indy

“Tapi ndy..”

“Udah lo pilih besok mau ke reuni apa mau gue bikinin janji ketemu psikiater..” Potong indy, setelah itu dia langsung menutup teleponnya tanpa meminta persetujuan Lara.

Lara menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Dia sudah banyak berubah dibanding jaman SMA dulu. Sekarang kulitnya lebih bersih dan bercahaya karena semua perawatan rutin dengan dokter kecantikan, rambutnya yang dulu selalu berantakan dengan banyak rambut baru tumbuh yang mencuat kemana, kini terurai rapi dan lembut. Tapi kini dia malah melihat sosoknya semasa SMA di dalam cermin. Sosok pecundang yang sudah dikalahkan oleh Damma.

Bayangan masa SMA nya tiba-tiba terlihat jelas seakan dia bisa menembusnya melalui pancaran matanya di dalam cermin. Sosoknya yang agak kurus dengan kemeja seragam yang kebesaran berjalan mengikuti Damma dari belakang menuju parkiran motor.

“Dam, kita harus merayakan kebebasan lo ini!” Kata Lara bersemangat.

“Hah merayakan gimana, lo tau sendiri gue udah nggak dapet uang saku sama sekali sekarang. Udah deh balik aja kita yok..” Kata Damma lesu.

Saat itu adalah hari pertama Damma sekolah setelah hampir sebulan menginap di Kantor Polisi, akhirnya Damma bisa bebas bersyarat dengan jaminan tentunya. Damma masih terlihat lesu, sangat kurus, dan tanpa semangat. Apalagi hari itu juga dia lelah dengan pertanyaan teman-temannya yang pertanyaannya semua hampir sama. Kemana saja dia selama ini?

“Idih balik, culun amat. Mumpung guru-guru rapat dan ada kesempatan pulang cepet, harus bisa dimanfaatkan dong. Tuh liat orang-orang mah pada nge-mall, lah ini malah pulang. ” Kata Lara.

“Yaudah, yaudah lo mau kemana sini gue anter deh..” Damma akhirnya menyerah. Dia sudah bersumpah akan selalu menemani Lara dan memenuhi semua kebutuhannya selama dia bisa, karena dia sudah berhutang banyak pada Lara untuk segala dukungan moril dan materil yang Lara berikan padanya saat masa-masa sulitnya.

“Mau pulang sih, hehehe..” Kata Lara nyengir, Damma langsung menjitak kepala Lara dengan gemas.

“Aduh! iyaa tapi sebelum pulang kita ke suatu tempat dulu..” Kata Lara

“Untuk merayakan?” tebak Damma

“Iya, tapi merayakannya di rumah gue. kita ke suatu tempat dulu..” Kata Lara sok misterius

Tanpa banyak bertanya, Damma akhirnya memacu motornya dengan cepat berjalan menuju rumah Lara dengan instruksi dari Lara. Di Jalan Lara menceritakan rencana nya memasak makanan yang agak spesial untuk merayakan kembalinya Damma, sekaligus menghiburnya.

“Mau masak apaan Ra?” Tanya Damma sangsi. Dia mengira Lara hanya akan membuat telur ceplok dan tahu goreng.

“Lo maunya apa? yang western atau indonesia aja?” Tanya Lara  sedikit menantang

“serius lo bisa masak?”

“Yaaaa.. dikit sih, lo pilih deh dulu western atau indo?”

“Kalau western apa aja, kalau Indonesia apa aja?” Tanya Damma kini sedikit percaya.

“Yah sebenernya yang gampang-gampang aja sih. Paling pasta, cream soup udah sih itu aja HAHAHAHA..” Lara tergelak sendiri sementara Damma dongkol.

“Yaudah masak apa aja deh Ra, yang penting enak..” Kata Damma.

“Eh belok-belok! kita ke pasar dulu!” Kata Lara bersemangat.

“Oalaaahhh suatu tempatnya itu pasar,” Damma mengerutkan kening sambil memarkirkan motornya. “gue udah ge-er aja lo mau ngajak gue ke spa, relaksasi.. Kayaknya mulai sekarang gue harus menurunkan ekspektasi gue kalau lo ngomong yang rada-rada misterius gitu”

“ehehehehehehe..”

Dalam waktu satu jam saja mereka sudah selesai berbelanja. Semua kebutuhan mereka sudah mereka beli. Ada 3 keresek besar yang mereka bawa. Isinya ada sayuran, daging, dan bumbu pelengkap. Hari ini mereka akan makan besar.

“Edan Ra, 70 ribu aja dapet segini banyak!?” Kata Damma sambil berjalan menuju tempat mereka parkir.

“Segini sih masih lumayan mahal Dam, karena kita beli daging juga. Kalau sayur doang 70ribu bisa satu becak..” Kata Lara bangga.

“Kita harus sering-sering kayak gini Ra! Yah mengingat gue nggak dapet uang jajan juga, mending kita belanja di pasar aja terus kita bereksperimen, terus makan enak deh. ga perlu ke resto kan!” Kata Damma bersemangat.

Lara hanya tersenyum dengan bangga nya. Lara memang sedang asik-asiknya belajar memasak, tapi karena Mamanya hobi masak juga dan semua orang di rumah lebih suka makanan buatan Mamanya Lara jadi kurang bersemangat, tapi kini seolah ada jalan, Lara bisa memasak dan memastikan ada orang yang memakannya, ya Damma itu orangnya.

Lara ingat betul itu pertama kalinya Lara dan Damma berbelanja bersama, Dalam perayaan bebasnya Damma saat itu, Lara memasak Cream Soup dan Spaghetti bolgnese. Simple dan enak. Lara mengundang sahabat-sahabatnya untuk datang ke rumahnya dan makanan itu ludes seketika.

Sejak saat itu secara rutin Damma dan Lara selalu punya acara masak, entah itu di rumah Lara atau di rumah Damma. Mereka mencari buku resep di loakan majalah cikapundung atau Kebon Kalapa karena mencari buku resep di toko buku masih terlalu mahal untuk mereka berdua, lebih baik uangnya dialokasikan untuk membeli bahan makanan.

Saat itu Damma tidak memegang posisi cukup penting, dia hanya memberikan dukungan moril. Membantu memotong-motong jika dibutuhkan lalu membatu menghabiskan makanan yang mereka masak. Bagaimanapun rasanya.

Tanpa sadar Lara tersenyum sendiri. Namun semua lamunannya itu buyar ketika pintu kamarnya terbuka, dia terperanjat kaget Jantungnya nyaris copot padahal Indy tidak membuka pintu dengan kencang.

“Ngagetin aja lo ndy..” Kata Lara, tubuhnya terasa panas dingin dan rasanya seperti seluruh tubuhya dibanjiri keringat.

“Pake kaget segala.. Emang lagi ngapain sih? perasaan gue buka pintu nya biasa aja deh..” Kata Indy cuek.

“Ya nggak apa-apa, gue kan lagi siap-siap, lagi konsentrasi.” sangkal Lara, dia kemudian kembali pada riasannya yang hampir sempurna.

Indy langsung duduk di tempat tidur Lara, membelakangi Lara yang sedang berdandan. Dia melayangkan pandangannya ke sekeliling kamar Lara yang berantakan penuh dengan pakaian-pakaian yang sejak tadi dia coba.

“Elo, nyobain baju satu lemari dan akhirnya cuma pake baju ginian doang?” Tanya Indy sambil menatap Lara yang memakai blus lengan panjang dengan kerah bulat, dipadukan dengan rok A selutut berlipit.

“Iya, takut terlalu heboh..” Jawab Lara kini dia sudah hampir sempurna dengan sentuhan akhir lipstik nya.

“Oh ya, kenapa Gray ga jadi dateng?” Tanya Indy sambil mengintip Lara dari cermin nya.

“Belum pulang, katanya harus di extend. Ga ngerti juga deh gue kerjaannya tuh kayak apa. Harusnya sih produser ya diem aja di kantor..” Lara mendadak kesal.

“Lo takut kan ketemu Damma makanya marah-marah kayak gitu? Soalnya sih setahu gue nih yang namanya Lara itu yaaaa… mandiri banget, apalagi dari dulu tinggal jauh sama Gray, kayaknya absen nya Gray dalam acara lo sama temen-temen lo harusnya sih nggak ngaruh apa-apa sama lo..” Kata Indy hati-hati.

Lara tidak menjawab dia hanya memasukkan semua barang bawaannya ke dalam tas nya dengan kasar. Notes, pulpen, dompet, organizer, handphone, ipod dan peralatan make-up nya. Entah kenapa perasaannya begitu campur aduk. Lara sendiri bingung, apakah dia sedih, takut atau marah. Dia juga tidak tahu siapa yang harus dia marahi sekarang, Gray yang tidak bisa datang, Indy yang memaksanya untuk datang atau Damma yang semua kenangannya selalu membekas di hati Lara..

“Ayo jadi berangkat ga? keburu ilfil nih gue..” kata Lara, Indy langsung meloncat dari tempat duduknya, takut Lara keburu mengamuk.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s