hot issue · pikiran2saya

Sepenggal Kisah (Tidak Penting) @Jajang_Nandar

Tanggal 27 September 2012, tepatnya pukul 7 malam, saya melihat twit seorang selebtwit yang isi nya kurang lebih : “oh, jadi lagi ada yang di bully.. Lagi nggak mood. Langsung mute keyword” Saya penasaran, siapa sih memangnya yang sedang di bully, saya scroll ke bawah dan ada buzzer lain yang ngetwit dan mention langsung akun si korban bullying (memang si selebtwit ini sih yang awalnya bikin heboh, setidaknya itu yang saya tangkap.)

Lalu saya buka akun (at)Jajang_Nandar si pemilik akun mengklaim nama aslinya adalah Jajang Kusnandar dengan bio “W sering disakiti, W dah ga percaya lagi ma cinta” waktu saya follow, saya adalah follower nya yang ke 147, dan saat saya sedang menulis postingan ini, follower nya sudah ada 12.814! Luar biasa. Bahkan teman saya yang awalnya tidak tahu kisah Jajang ini langsung bilang “Masa ‘nya? Itu mah follower nya pake cheat..”

Isi twit nya jauuuuuh dari berkualitas, kebanyakan bicara kotor, dan trademark nya adalah “taaeeeeeee” dan pada akhir twit selalu ada “heeeeeeee”. Entah maksudnya apa, tersenyum, tertawa atau mengembik.

Saya kasihan sekali sih sama dia. Kasihan dalam arti sebenarnya. Yang paling bikin saya ngenes adalah dia menanggapi semua twit orang-orang dengan serius. Di salah satu twitnya dia mengatakan kenapa banyak sekali orang yang tidak dia kenal me-‘mation‘ dia. Dan dia menuduh ada orang (sepertinya namanya Jimi) yang menyuruh orang-orang meneror dia. Padahal sih si Jimi ini saya yakin sama seperti yang lain, hanya mau menjahili si Jajang.

Yes, dia polos sekali. Dia bilang dia hanya lulusan SD dan bertanya-tanya kapankah dia bisa jadi Bos besar seperti orang-orang lain. Di twit lainnya dia memaki handphone ‘layer’ sentuh nya dengan kata-kata kasar karena bukanya tambah gaul, dia malah semakin repot. Oh ya, aplikasi yang dia pakai adalah Ubersocial for blackberry.

Dia mengata-ngatai mantan istri nya yang bernama Yuni yang katanya matre. Ketika orang-orang menanyakan tentang Yuni, dia menjawab semuanya dengan serius.

Waktu saya masih sering ngaskus dan nangkring di the Lounge, banyak sekali kejadian seperti ini. Masih ingat dengan Ophie A Bubu yang bahkan sempat jadi berita di luar negeri? (Saya lupa dimana tepatnya :D) Kisah si Jajang ini tidak jauh berbeda dengan artis social-media dadakan lainnya yang terkenal karena ke-alay-an nya.

Ada buzzer-buzzer yang ngetwit (kurang lebih begini) “Apa lucu nya sih? Kalau di scroll ke bawah juga isinya bicara kotor semua..” | yap, lucu memang relatif, saya juga tidak terlalu menganggap ini lucu karena kasihan juga sama si Jajang. Untung dia polos, kalau tidak, mungkin besok kita akan melihat berita dia bunuh diri di Buser (eh, masih ada acara itu tidak sih?).

Yang bikin berita dia heboh adalah seorang buzzer yang follower nya kebanyakan ABG, kalau jadi ABG sih, kalau kata idolanya lucu, ya pasti jadi lucu, dan berita akan menyebar dengan cepatnya.

Dan semuanya jadi terasa berlebihan ketika ada akun-akun ‘adeknya_Jajang’, ‘Pamannya_Jajang’, ‘pembela_Jajang’, ‘Yuni_Kusnandar’ dan semacamnya. Semakin tidak lucu lagi ketika orang-orang yang memention Jajang dengan kata-kata kasar apalagi yang lebih mengarah ke fisik.

Memang sih kita tahu wujud Jajang itu seperti apa, bisa dilihat langsung di avatar twitternya, hanya saja saya selalu gerah kalau sudah sampai bawa-bawa fisik. Dia ciptaan Tuhan loh, dia juga pasti maunya terlahir sebagai Johnny Depp.

Ah, sudahlah. Kalau memang tidak suka dengan pem-bully-an Jajang yang semakin berlebihan lebih baik tidak saya ikuti lagi kisahnya. Yang saya tahu, selama saya punya akun twitter, para twips memang tidak jarang terlalu reaktif. Reaktif yang tidak berdasar dan juga berlebihan. *saya juga, uhuk*

Yap, tinggal tunggu saja, kapan orang-orang akan bosan atau kapan Jajang akan masuk infotainment (atau malah sudah ada di TV?)

 

UPDATE 2 Oktober 2012

Tadi pagi saya melihat postingan sebuah blog yang memberikan beberapa bukti kalau Jajang_Nandar adalah akun palsu, saya yakin sih karena barusan juga saya lihat dia ngetwit “pengen alay kayak @radityadika” (dengan bahasa alay nya) secara logika ya kalau memang dia memang kuli kayaknya tidak akan mungkin mengenal Raditya Dika. Apalagi setelah saya lihat following nya. Tidak seperti akun-akun alay asli yang sering saya stalk *uhuk*. Dan ya, sial! Saya termakan kebohongan bersama 23ribu follower lainnya, tapi sudah saya unfollow kok. Ayok kita unfollow bersama-sama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s