curhatsampah · Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (part 11)

(click here and Read Unfinished Love part 10)

Lara menghela nafas panjang, meningat-ingat kenangan tentang Damma membuat energinya terkuras cukup banyak. Ia kembali memandangi isi kotak yang kini berhamburan di lantai. ada CD mixtape juga, isinya lagu-lagu yang disukai oleh Damma. Kebanyakan isinya lagu-lagu hits dari Hoobastank dan Maroon 5 di album pertama. Lara mengganti CD yang sejak tadi ia putar dengan  CD yang barusan ia temukan.

Lagu The Reason dari Hoobastank mengalun dari CD player Lara, kali ini Lara mengambil Diary nya yang sudah buluk dan di beberapa halaman tintanya sudah luntur karena air mata atau karena tumpahan sirup. Lara membuka halaman demi halaman sambil sesekali tersenyum karena malu sendiri dengan kelakuannya dulu.

Lara tiba-tiba berhenti pada satu halaman. Ternyata Lara menuliskan kejadian lengkap ketika Dama tiba-tiba mendiamkan Lara. dia kembali tersenyum.

30 Oktober 2005

Gue nggak ngerti sama Damma, dia tiba-tiba ngediemin gue tanpa sebab yang jelas. Akhirnya tadi Bowo kasih tau gue kalau sekarang Damma lagi sering main sama Jamie dan anak-anak alumni. hoaaaahhh ternyata Damma sama aja, padahal gue kira dia beda dari temen-temennya yang lain. Yasudahlah yang penting sekarang gue tau deh kualitas pertemanan gue sama dia ternyata segitu aja..

Lara membuka halaman demi halaman, isinya hanya menceritakan kegiatan sehari-hari nya seputar guru dan lainnya. dan sekitar 20 halaman berikutnya, Lara menghentikan pandangannya. Dia berhenti dan membcaa halaman itu dengan seksama.

10 November 2005

My Gosh! gue ngga tau sekarang musti kayak gimana. Barusan gue di smsin Sonny katanya Damma ditahan di polres. Meski udah hampir sebulan gue nggak ngomong sama dia, tapi gue khawatir juga sih temen gue ada yang sampe ada di kantor polisi gitu. Sonny lagi on the way ke rumah.. gue akan kasih reportasenya setelah pulang ya, soalnya belum jelas juga sih kenapa.oke ciao!

Lara ingat dengan jelas, setelah dia menaruh diary nya, Mama mengatakan kalau Sonny datang ke rumah. Saat itu sudah pukul 11 malam, karena tidak mau membuat Mama dan Papa khawatir, Lara mengatakan kalau salah satu temannya ada yang masuk rumah sakit dan kini keadaannya kritis. Akhirnya setelah mengantongi izin dan menempun perjalanan selama hampir 30 menit mereka berdua sampai juga di polres.

Setelah bercakap-cakap panjang lebar dengan Pak Polisi akhirnya Lara dan Sonny diizinkan untuk menemui Damma dengan alasan mereka berdua saudara sepupu Damma dan mengatakan kalau orangtua Damma sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi.

“Ya ampun Damm, elo tuh ngapain sih kok bisa sampai ada disini?” sosor Lara. Dia mencium aroma alkohol yang begitu tajam ketika duduk berhadapan dengan Damma.

Penampilan Damma berantakan, rambutnya tidak tersisir rapi, Kaos hitam yang dipakainya terlihat kumal. Wajahnya berminyak dan banyak sekali keringat di lehernya. Damma benar-benar terlihat hancur.

“Makan dulu deh Damm, tadi kita sempet beliin lo nasi goreng..” Sonny menyodorkan kantong kresek berisi bungkusan nasi goreng. Damma menggeleng.

“Udah lo makan dulu Dam. Lo ceritain sambil makan aja, lo udah berantakan gini, jangan sampe lo jadi sakit.” kata Lara galak.

Setelah terjadi perdebatan sengit antara Lara dan Damma akhirnya Damma mau juga makan. Dia makan dengan perlahan dan tampak diam. Sonny dan Lara akhirnya memutuskan untuk mendengar ceritanya setelah Damma selesai makan.  Pelu lebih dari 15 menit untuk menunggu Damma menyelesaikan makanannya karena dia makan sangat pelan dengan tatapan mata yang kosong.

“Gue nabrak orang Ra, Son..” kata Damma pelan. kepalanya menunduk dan dia terdiam sangat lama.

“HAH!?” Kata Lara dan Sonny bersamaan.

“Terus orangnya gimana Dam? kalau dia nya ga parah-parah banget hukuman lo juga nggak akan terlalu gimana banget kok..” kata Sonny berusaha menenangkan. Lara sendiri masih terbelalak kaget.

“Orangnya meninggal ga lama setelah sampai di rumah sakit Son..” Kini suara Damma semakin kecil. Suaranya bergetar menahan tangis.

“Ya ampun Dam.. Lemes banget gue udah pengen pingsan tau ga!” kata Lara.

“gue bakal dipenjara nih Ra.. ya ampun Tuhan masa depan gue gimana ini..” Kata Damma.

“gimana ceritanya Dam? lo udah telepon bokap nyokap lo?” tanya Sonny.

Damma menggeleng. kemudian dengan terbata-bata dia menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya ini. Dia menceritakan kalau sejak siang tadi dia seharian bersama Jamie, Hendra, Ato, beberapa anak kelas 2 dan 4 orang alumni. semuanya adalah anak AB yang sudah Lara hafal reputasinya. Sejak siang mereka nongkrong dan ngobrol-ngobrol. Damma mengaku kalau sudah seminggu ini dia mulai menghisap ganja dan sudah sebulan ini dia mulai minum alkohol tak jarang sampai mabuk.

Siang itu Damma menghisap 1 lintingan ganja kemudian dia jalan-jalan ke pemandian air panas. Setelah itu malam harinya Damma dan nongkrong di sebuah kios dekat rumah salah seorang alumni, dan mereka mabuk-mabukan malam itu. Mungkin karena penduduk disitu merasa terganggu ada beberapa orang yang menghampiri mereka, sebelum sempat menghadapi Damma dan yang lainnya mereka semua langsung kabur dengan mengendarai motor mereka masing-masing.

Semua orang mengambil jalan sembarangan yang penting mereka bisa menghindari “penggerebekan” warga. motor Damma dan Jamie berjalan bersamaan, karena alkohol yang Damma tenggak cukup banyak dan ia panik, ia tidak sadar secepat apa dia mengendarai motornya, di sebuah perempatan, dia menerobos lampu merah dan menabrak seorang bapak paruh baya yang sedang berjalan dengan seorang anak laki-laki yang berusia 12 tahunan.

Bapak itu sempat terseret beberapa meter dari situ, Damma sendiri sampai terjatuh dari motornya. Sementara Jamie terus berjalan dengan motornya. Untunglah saat itu jalanan tidak terlalu ramai dan semua orang sibuk menyelematakan si bapak dan anak kecil itu sehingga Damma diamankan warga dan langsung diangkut oleh polisi setelah beberapa menit salah seorang warga menelepon polisi.

“Ya ampun Damm.. lo tuh kenapa sih? masih untung lo nggak dibakar tau nggak!” Bentak Lara. Damma hanya terdiam. dia tidak berani menatap Lara.

“Terus lo tau si bapak nya meninggal gimana?” Tanya Sonny yang terlihat lebih tenang daripada Lara.

“Tadi gue dikabarin sama Pak Polisi..” Jawab Damma “Katanya meninggal beberapa saat setelah sampe di Rumah sakit..”

Kini giliran Sonny yang menunduk sementara Lara menatap Damma dengan tatapan yang membingungkan. Antara marah, kecewa dan sedih. Dia kasihan sekali melihat Damma seperti itu. Dia tidak pernah melihat Damma sesedih ini.

“Gue keluar dulu deh sekalian telepon bokap lo ya. Kalau udah kayak gini lo nggak bisa gak ngasih tau orangtua lo..” kata Sonny bijak.

Meskipun pada awalnya Damma bersikeras untuk tidak menelepon orangtuanya setelah dipaksa Damma mau juga. Cepat atau lambat Orangtuanya harus tahu dan dia masih dibawah umur, pasti sebentar lagi polisi juga akan segera menelepon orangtuanya kalau orangtuanya tidak segera datang.

Kini hanya tinggal Damma dan Lara di ruangan itu. Hanya kebisuan menyelimuti mereka berdua. tidak ada yang mau memulai untuk bicara. Lara sendiri bingung harus bicara apa lagi. Damma menghela nafas panjang, dia memutuskan untuk mengakhiri kebisuan ini.

“Sorry ya Ra, gue jadi ngerepotin lo. bikin lo musti dateng kesini..” Kata Damma.

Lara hanya menggeleng dengan senyuman yang dipaksakan.

“Gue tadi telepon Sonny minta dia untuk dateng kesini. Gue minta dia ajak lo juga kalau bisa..” kata Damma.

Lara mengerenyitkan dahi. Kenapa Damma harus memintanya datang padahal Lara dan Damma tidak dekat-dekat amat dan sudah hampir sebulan ini Damma selalu menghindari Lara. Kenapa ketika tertimpa musibah justru Lara harus ketiban sial juga dengan memikirkan kesusahan Damma. Bukanya marah justru Lara jadi semakin kasihan.

“Gue mustinya marah tau nggak Dam. Lo udah ngediemin gue selama sebulan dan gue ga tau juga dosa gue apaan.. sekalinya dapet kabar malah kabar kayak gini..” Kata Lara.”Tapi liat keadaan lo kayak sekarang gue udah ga bisa marah. Lo udah melewati banyak hal.. Dan mungkin sebentar lagi lo bakal dimarahin orangtua lo.. Malah gue yang pusing ..” Kata Lara dia merosotdi kursinya.

Kali ini Damma tersenyum. Senyum tulus ini adalah senyuman pertama Damma yang Lara lihat sejak perrtama ia sampai di kantor polisi. Mau tidak mau Lara juga ikut tersenyum.

“Sebenernya gue pengen lo omelin, lo yang paling sering marahin gue kalau gue melakukan hal yang aneh-aneh. Kayaknya kalau malam ini lo ngomelin gue, gue bakal jauh lebih tenang..” Kata Damma.

“Jangan sesumbar, kalau jadi kenyataan nangis-nangis deh lo nanti..” jawab Lara diiringi tawa Damma.

Beberapa saat kemudian akhirnya kedua orangtua Damma datang. Ayahnya yang bertubuh gempal dengan tinggi hampir setara Damma, wajahnya mirip sekali dengan Damma. Lara menebak Damma adalah wujud ayahnya di masa muda. Sementara ibunya terlihat seperti ibu-ibu jawa ningrat, masih ayu di usia nya yang sudah lebih dari 40 tahun. Ayah Damma terlihat sangat murka sementara mata ibunya bisa merefleksikan perasaannya yang sedih dan khawatir dengan keadaan anaknya.

Ketika berpapasan dengan Ibu dan Ayah Damma, Sonny dan Lara hanya tersenyum sebentar kemudian meninggalkan Damma dan kedua orangtuanya. Lara sempat mengintip dari balik pintu. Ayah Damma murka, dia langsung memaki Damma sesaat setelah Lara dan Sonny keluar ruangan, kalau tidak ditahan oleh ibunya yang menangis meraung-raung mungkin saat itu Damma sudah habis dihajar oleh Ayahnya.

Sejak saat itu Lara dan Sonny secara rutin datang ke kantor polisi untuk memberika semangat kepada Damma yang semakin hari terlihat semakin kurus dan semakin kumal. Setiap Lara datang menjenguk, mata Damma terlihat berbinar, seperti ada semangat yang kembali merasuki dirinya. Ini hari ke-6 Damma mendekam di tahanan, Ayahnya kini sedang mengurus semuanya dan mengusahakan agar Damma bisa segera keluar tanpa harus diadili.

“Gimana keadaan lo sekarang Dam?” tanya Lara yang hari itu mengunjungi Damma sendirian.

“yah.. lo liat sendiri lah Ra. Sebenernya disini masih enak sih gue masih dibawah umur, dan mereka liat orangtua gue juga kali ya. Gue diperlakukan wajar aja sih. Polisinya baik-baik sih disini, meskipun ya gue empet juga diceramahin mereka mulu. Tapi better lah daripada gue digebukin kan..hahahah” kata Damma sambil tertawa.

Lara tersenyum. Kemudian Lara menceritakan keadaan sekolah selama Damma tidak ada, keadaannya selalu sama, cerita tentang penahanan Damma tidak sampai ke seantero sekolah karena yang tahu hanya Lara, Sonny dan beberapa anak AB. Mungkin berita ini sudah sampai ke anak-anak di kelas Damma, hanya saja tidak ada yang tahu kepastiannya, mereka hanya menebak-nebak dan saling berbisik tentang berita ini. Lara yakin kalau seluruh anak AB sudah tahu tentang berita ini, tapi syukurlah mereka tidak membocorkannya keluar.

“Bokap lo gimana Dam?” Lara baru terpikir untuk menanyakan hal ini. “terakhir gue ketemu waktu malam pertama lo nginep disini aja..”

“Dia marah banget waktu itu, gue ditampar. mungkin kalau bukan di kantor polisi waktu itu gue udah digebukin sampe pingsan..”

“masih untung lo gak dibunuh dam..” lanjut Lara

Damma hanya tersenyum kecut. Dia kemudian menceritakan juga kalau Ibunya saat itu menangis tak henti-hentinya. Damma jadi benar-benar merasa bersalah, Ingin rasanya dia menebus kesalahannya dengan diadili dan dipenjara saja. Tapi Ibunya menegaskan kalau Damma tidak boleh masuk penjara demi masa depannya dan keluarganya.

“serius lo Dam mau lo masuk penjara?” tanya Lara.

“Yah kalau bisa bikin Ibu sama Ayah ga susah lagi. dan itu bentuk pertanggung jawaban gue..” jawab Damma.

“Bego!” Lara menggeplak kepala Damma. dia kaget kemudian meringis.

“Emang lo pikir kalau anaknya ada di penjara Ibu sama Ayah lo bakal lebih tenang gitu? Yang ada malah lebih repot, lebih sedih, lebih depresi! emang lo pikir penjara itu tempat apaan Dam.. Ga takut apa lo disana banyak orang yang menakutkan. lo kayak ga tau sistem disini kayak apa. Lo bener-bener mau ngancurin masa depan lo sendiri ya.. Heh di negara sedemokratis Amerika aja, mantan napi itu masih tetep dipandang sebelah mata, buat masuk ke masyarakat lagi juga susah, apalagi kayak di Indonesia.. Sadar donk Dam! Lo tuh bakal tambah nyusahin Ibu sama Ayah lo aja tau!” jelas Lara panjang lebar.

“Lo gak tahu apa kalau sekarang Ayah gue lagi kesusahan! gue gak tahu apa aja yang dia gadein, dia jual buat nebus gue!! gue udah nyusahin mereka terus! Gue nggak mau jadi beban mereka tau!!” kini giliran Damma yang marah, dia tidak terima dengan ucapan Lara barusan yang menganggap Damma tidak peduli dengan masa depan keluarganya.

“Sori Dam, maksud gue bukan gitu. Gue tahu kok kalau Ayah lo lagi kesusahan. Tapi dengan pasrah gitu bukan jadi solusi bbuat ayah lo, buat lo nya juga. Mending lo nurut deh sama orangtua lo. Mereka bilang apa, lo turutin aja. percaya sama gue, mereka pengen yang terbaik buat lo. Dan untuk sekarang lo emang ga punya banyak pilihan. Plis nurut sama mereka ya, jangan bikin mereka tambah pusing..” Lara menggenggam tanggan Damma yang duduk di hadapannya. Tubuh Damma bergetar hebat. Menahan tangis dan amarah pada dirinya sendiri.

“Ra, jangan tinggalin gue..” bisik Damma.

Deg! Lara merasa jantungnya berhenti seketika. Lara tahu sekarang bukan saatnya untuk melibatkan perasaan pribadinya. Tapi perassaan itu tidak bisa Lara kontrol dan sering muncul dengan sendirinya tanpa bisa Lara kendalikan. Lara menarik nafas panjang.

“iya, gue gak akan kemana-mana kok..” Jawab Lara sambil tersenyum.

God, please stop this feeling.. Doa Lara dalam hati.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s