Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (part 10)

(click here and Read Unfinished Love part 9)

Sabtu siang yang cerah, Indy memenuhi janjinya untuk mengunjungi Lara di rumahnya. Kini mereka berdua sedang asik duduk-duduk di lantai kamar Lara yang dialasi karpet berwarna biru muda, ditemani 2 gelas jus kemasan dan cireng isi bawaan Indy. Mereka menikmati cireng sambil asik bercerita meskipun sambil kepedasan.

“Jadi lo mau datang sama Gray Ra?” Tanya Indy. Lara mengangguk

“Dia sih udah bilang oke, yaudah deh tenang gue. Nggak akan ada awkward moment kalaupun gue musti ketemu Damma…” Kata Lara.

“Eh terus, Gray tahu ga masalah lo sama Damma? Setelah bertahun-tahun gue baru kepikiran untuk menanyakan ini..” Kata Indy ngakak.

“Secara singkat sih dia tahu. Tapi secara terperincinya ngga, buat apa jugalah.. Dia cuma tau Damma was my best friend and I loved him and he left me..” Jelas Lara.

“Loved?” Pancing Indy

“Udah deeeeh Ndy! Loved! L-o-v-e-d. Itu bentuk lampau, sekarang udah nggak lagi. Cuma masa lalu ya…” Jawab Lara jengkel.

Indy hanya tertawa terbahak-bahak. Indy tahu kalau Lara sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Damma dan itu sebenarnya membuatnya tenang. Indy tahu kalau Lara tidak sebodoh itu untuk terus menyimpan perasaannya selama bertahun-tahun kepada Damma sementara dihadapannya ada seorang pria baik hati yang bertanggung jawab dan sudah siap membuat Lara bahagia. Dan Lara memang kembali ‘hidup’ setelah dia mengenal Gray. Gray benar-benar pria yang tepat untuk Lara.

“Lo mau dateng sama siapa Ndy?” Tanya Lara.

“Prama mungkin nggak bisa ikut, paling gue dateng sendiri aja, kalau misalkan Femmy sama Gitta mau datang dengan pasangan mereka masing-masing..” Jawab Indy. Lara mengangguk-angguk.

“Eh Ndy, lo mau masuk ke lorong waktu?” Tanya Lara, matanya berapi-api. 

Indy mengerenyitkan kening. Sahabatnya yang satu ini memang sering sekali memberikan istilah asal dan ajaib terhadap sesuatu yang ujung-ujungnya malah membuat orang lain kecewa karena ternyata sesuatu yang dia maksud tidak seheboh istilahnya. Dan Indy pun sudah siap-siap kecewa, mana mungkin diam-diam Lara punya Doraemon yang siap membawanya berpindah ruang dan waktu.

Lara membuka laci meja kerja nya yang paling bawah. Indy mengintip. Ada banyak sekali benda-benda di masa lalu Lara yang Indy kenal betul. Diary Lara, foto-foto album yang sudah kumal dan berdebu, dan benda-benda lainnya. Dengan cengiran lebar, Lara menunjuk kedalam laci.

“Udah gue duga bakal kayak gini. Untung gue udah terbiasa lo kecewain Ra.” Kata Indy

“Eh jangan salah, benda-benda yang gue simpen ini bisa membawa kita kembali ke masa lalu. Atmosfirnya langsung terasa. Kalau nggak percaya kita coba yoook! Ada kali 5 tahun gue nggak buka-buka ini barang. Hahahaha” kata Lara.

Indy tahu betul kalau Lara di masa lalu nya adalah seorang dramaqueen akut. Dia menaruh semua benda yang menurutnya punya nilai histori antara dia dan orang-orang. Dia suka sekali membuat theme song untuk semua kejadian yang menimpa dirinya. Bahkan tak jarang dia membuat CD mixtape yang isinya lagu sedih semua. Bahkan dia sudah menyiapkan lagu-lagu yang akan dimainkan saat dia menikan kelak.

Lara adalah orang paling skeptis yang Indy kenal. Selain sinis dia juga terlalu lugas, jika Lara tidak suka kepada sesuatu atau seseorang, maka dia akan mengatakannya langsung. Yaap, keadaan seperti ini membuat beberapa orang tidak terlalu menyukai Lara, Meski begitu, Lara adalah sahabat yang paling setia dan selalu siap kapanpun ketika dibutuhkan. Dan menurut Indy, Lara-lah yang paling berani untuk jujur terhadap apapun. Namun semuanya berubah ketika Damma meninggalkannya, meskipun menyedihkan namun Indy tahu saat itu Lara berubah menjadi jauh lebih dewasa. Dia mulai sadar kalau tidak semua orang bisa menerima semua kejujuran dengan cara penyampaian seperti yang sering Lara lakukan. Indy bahagia sekali dengan perubahan Lara. Dan yang terpenting, Indy salah satu orang yang paling bahagia dengan kehadiran Gray di hidup Lara.

“paling adem kalau sambil dengerin theme song kita-kita nih Ndy..” Lara mengeluarkan sebuah CD dari laci nya. dari penampakan tempat CD plastik berwarna biru bladus, Indy tahu kalau ini salah satu koleksi lagu galau Lara di tahun 2005.

Lara mengeluarkan CD yang katanya sudah hampir 3 tahun tidak dia putar, dengan harapan mix tape itu masih bisa berputar dengan baik. Dia berjalan ke tempat CD player disamping tempat tidurnya kemudian menaruhnya dan mulai menekan tombol play. Mata Indy tidak lepas menatap gerak-gerik Lara. Setelah intro lagu Officially Missing You- Tamia sudah terdengar, Lara cengar-cengir sendiri sementara Indy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya ampun Ra, kelakuan lo yaaa..” kata Indy. Lara tidak  menjawab, dia kembali ke tempatnya semula kemudian asik membuka-buka koleksi album dan diary geng SMA nya.

“Gue kangen deh sama masa-mas kita berempat dulu masih bareng-bareng..” kata Lara.

“Gue juga. Susah ya ternyata begitu udah kerja makin jarang ketemu karena banyak kesibukan lain. Begini toh jadi dewasa itu..” kata Indy.

“Hahahaha iya Ndy, gue kira dulu pas jaman SMA, idup mati gue bakal sama kalian..” kata Lara sambil tertawa.

Mereka berdua kemudian mulai membuka album foto jaman-jaman mereka masih culun. Hampir semua foto diambil dari kamera Hp 2 megapixel jadi kualitasnya tidak bisa diharapkan. sebagian lagi diambil dari kamera digital Gitta yang tidak secanggih sekarang tapi hasilnya jauh lebih bagus daripada kamera Hp Lara yang cuma 2 megapixel. LAra dan Indy tertawa terpingkal-pingkal melihat foto-foto itu sambil saling menceritakan kembali kejadian dibalik foto-foto itu. Rasanya baru kemarin mereka mengambil foto itu, tapi ternyata sudah lebih dari 7 tahun.

Akhirnya tak terasa jam di dinding kamar Lara menunjukan pukul 8 malam, ternyata Indy sudah berada di rumah Lara selama 8 jam. Karena sudah cukup malam, maka Indy berpamitan untuk pulang.

Setelah Indy pulang, Lara kembali duduk diantara “Lorong Waktu”nya.  Dia kembali merapikan semua album yang semuanya terbuka. Lagu In A Rush dari Blackstreet mengalun dengan volume sedang. Ketika lagu ini sudah mencapai reff nya, Lara teringat sesuatu. ada satu album yang belum dia buka. Hatinya tergerak untuk membuka album yang sudah lama ia simpan dengan rapi di dalam kotak dan tidak pernah ia buka lagi. Namun hati kecilnya menolak untuk membongkar kotak yang sudah ia tutup rapat selama bertahun-tahun, ia sudah tidak mau sakit hati lagi.

Lara menarik nafas panjang, lagu yang menjadi theme song nya selama bertahun-tahun ini terus menggoda Lara untuk membuka kotak itu lagi. AKhirnya karena tidak tahan, Lara berjalan mendekati lemari tempatnya menyimpan semua kenangan yang sudah coba ia lupakan. Tanpa kesulitan, Lara langsung mendapatkan kotak itu, aroma lembab meyeruak keluar, setelah mengambil kotak itu dia duduk menyandar ke dinding kamarnya.

Perlahan Lara membuka kotak itu, lagi-lagi bau lembab tercium sangat tajam. Lagu In A Rush masih mengalun dengan merdunya, Jantung Lara terasa berdetak lebih kencang.

“Come on Ra, it’s just a box..” bisik Lara dalam hati. Perlahan Lara bisa melihat isi kotak yang terbuat dari karton duplex dilapisi kertas kado berwarna kuning yang sekarang sudah agak pudar. Isinya masih lengkap. Ada gantungan kunci, dompet yang sudah usang, diary, dan kertas-kertas tidak penting. Lara mengambil album foto yang disimpan di bagian terdalam kotak itu.

Nafas Lara tercekat, foto dirinya dan Damma yang ukurannya cukup besar terpampang disitu. Lara dan Damma nyengir lebar. Lara ingat kalau foto itu diambil di dufan ketika Lara, Damma dan sahabat-shaabat Lara merayakan kelulusan mereka.

Lara membuka lembar demi lembar album fotonya, semuanya foto Lara dan Damma selama hampir 3 tahun bersama mulai kelas 3 hingga kuliah tingkat 3 awal. Semuanya foto-foto perjalanan Damma dan Lara. Damma dan Lara suka sekali makanan, mereka berdua akan mencari  kuliner khas dari tiap daerah langsung ke daerah asal, supaya rasanya otentik, begitu kata mereka.

Semua foto menampilkan wajah bahagia Lara dan Damma. Cengiran khas damma dan matanya yang bersemangat masih sama, hanya saja sosok jangkung, ceking dengan kulit hitam kini sudah berubah menjadi sosok jangkung sedikit lebih putih dan badan sedikit berisi. Tipikal mas-mas kantoran yang tiap hari diterpa AC dan kurang olahraga.

Lara membuka kembali salah satu halaman album itu, sebuah foto yang diambil  di Rumah sakit ketika Damma terkena Typhus. Lara, Gitta, Femmy, Sony dan Bowo datang menjenguk dan tak lupa mengambil foto bersama Damma yang sedang terkulai tak berdaya. Matanya cekung, kulitnya terlihat pucat meskipun kulitnya pucat. posenya seperti mayat dengan senyum dipaksakan. Lara dan yang lainnya terlihat sangat menikmati suasana Damma yang sedang lemas ini.

Rumah sakit ini menjadi saksi bisu titik balik hidup Damma menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ini seperti efek domino dari apa yang terjadi dalam hidup Damma saat itu. Pikiran Lara kembali lagi ke Tahun 2005. Kini lagu End Of The Road dari Boyz II Men mengalun dari CD player Lara. Bayangan 7 tahun lalu itu kini semakin jelas terlihat.

Lara menatap Damma dari ruang kelasnya, Damma yang kelasnya berseberangan dengan Lara dan hanya terpisah oleh Taman kecil yang asri bisa terlihat dengan jelas. Saat itu bel ganti perlajaran baru saja berbunyi, Damma keluar dari kelasnya Lara yakin kalau Damma akan pergi ke WC untuk merokok atau ke kantin untuk ngopi dan makan cireng kesukaannya.

Lara menghela nafas panjang. Sudah hampir 2minggu ini dia tidak bicara kepada Damma. Dia tampak menghindari Lara dan selalu melengos kalau melihat Lara dari kejauhan. Lara sendiri tidak tahu apa kesalahannya karena percakapan terakhirnya hanya sebatas transaksi kunci jawaban pelajaran geografi. Saat itu Damma masih menunjukan tawa nya dan kekonyolan-kekonyolan seperti biasa, tapi keesokan harinya selama 2 hari Damma tidak masuk sekolah dan di hari ke tiga Damma mulai menghindari Lara bahkan teman-teman Lara.

“Wo, si Damma kenapa sih?” tanya Lara akhirnya pada Bowo yang duduk di depannya.

“Kenapa apanya?” tanya Bowo bingung.

“Dia kayak ngehindarin gue gitu. Gue salah apa ya? Perasaan sih terakhir gue berhubungan ama dia, gue nggak mengatakan sesuatu yang salah deh kayaknya.. abis dianya juga biasa2 aja..” Kata Lara

“Nggak ah dia biasa aja ..” Ujar Bowo.

Lara hanya menghela nafas panjang. Percuma ngobrol dengan Bowo, kalau katanya cowok itu tidak peka, maka Bowo tidak peka 2 level diatas cowok-cowok pada umumnya. Dia tidak akan merasakan perubahan Damma, mungkin juga karena Damma biasa-biasa saja pada Bowo.

“Jangan-jangan dia ikut aliran sesat…” gumam Lara.

“Huahahahaha.. itu pernyataan paling bloon yang pernah gue denger dari lo Ra!” Kata Bowo sampai terpingkal-pingkal. “Heh, korban-korban aliran sesat itu biasanya anak-anak yang alim, yang pinter, nah si Damma sih ngaji aja belum tentu bisa, mana mau aliran sesatnya ngajak dia, yang ada orang-orang di aliran sesatnya dibikin sesat sama si Damma..” Lanjut Bowo.

“Ya kali aja wooo..” Jawab Lara mesem. “gue nggak enak juga sih sama dia, 2 bulan yang lalu gue maki-maki dia karena dia males belajar..” tambah Lara.

“Nggalah Ra, seumur-umur gue kenal sama dia, dia sih ngga pernah marah gara-gara masalah gituan. kalaupun marah juga dia pasti ngomong. Ga ngerti juga soalnya menurut gue sih dia biasa aja. gue sekarang lagi sibuk bimbel jadi jarang nongkrong juga. Tapi seinget gue sih kemarin-kemarin Damma sering pergi sama Jamie terus sama alumni-alumni juga..” jelas Bowo.

Lara mengangguk-angguk. Siapa sih di SMA Jaya yang tidak tahu Jamie? Jamie itu adalah biang kerok di SMA Jaya dan reputasinya sudah terkenal seantero sekolah. Bukan hanya murid-muridnya saja, bahkan sampai guru, kepala sekolah dan penjaga sekolah. Tingkahnya sangat menyebalkan dan suka semena-mena memperlakukan orang lain. Dia sering sekali membully adik-adik kelas yang terlihat culun. Kalau ada anak seperti ini sudah bisa dipastikan kalau dia adalah anggota AB.

Saat itulah Lara yakin kalau dia dan Damma sudah tidak bisa berteman lagi. Mungkin sekarang Damma tidak akan nyaman lagi kalau Lara meledek anak-anak AB dan Damma kini sudah menjadi anak AB kelas atas sehingga dia merasa sudah tidak penting lagi untuk berteman dengan Lara.

Kalau semua prasangkanya benar-benar terjadi, maka Lara akan sangat sedih sekali karena selama beberapa bulan mengenal Damma, Lara sangat nyaman sekali ngobrol dan menghabiskan waktu dengan Damma. Namun kini dia juga harus mengerti dan tidak memaksakan apapun kepada Damma. Kalau Damma tidak mau berbicara kepadanya, maka Lara tidak akan menyapa Damma dan lebih baik pura-pura tidak melihat Damma. Lara akan membuat semuanya lebih mudah untuk Damma.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s