Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (part 9)

(click here and Read Unfinished Love part 8)

Sudah lama sekali Lara tidak mengecek jejaring sosialnya. Belakangan ini dia terlalu sibuk mengurus keperluan restoran yang ingin segera dibukanya. Semua hal-hal yang kurang penting dia enyahkan dari handphone nya. Termasuk me-log out akun-akun yang akan menganggu konsentrasinya ini.

Dan malam ini dia baru punya kesempatan lagi untuk online di depan laptopnya. Dengan lincah dia memasukan email dan password facebooknya. Ketika tampilan home sudah terbuka, Lara melihat icon notifikasi sudah penuh. Ada 30 notifikasi. Beberapa diantaranya wall post, comment dan sisanya adalah request game yang sangat mengganggu. Lara membuka satu persatu notifikasi yang dianggapnya cukup penting. Sampailah dia kepada salah satu notifikasi yang sukses membuat tubuhnya gemetar hebat. Invitation Reuni SMA Jaya angkatan 2003, 2004, 2005, 2006.

Dengan segala kekuatan yang Lara miliki saat itu, dia membuka link undangan itu kemudian melihat ternyata sudah banyak yang mengkonfirmasi kehadirannya. Banyak sekali yang ikut ternyata invitation ini sudah lama sekali terkirim.

Lara buru-buru mengambil handphonenya, kemudian mengetik sebuah pesan yang akan dikirimnya lewat BBM kepada Indy.

Klaranda V : “Ndy, lo kok nggak bilang sih kalau reuni 2 minggu lagi?”

Anindya Putri : “Ya ampun Raaaaaa.. Maaaaaafff banget gue lupa asli! Gue sibuk bgt nih Ra kmrn, bahkan gue juga berhenti jadi panitia.. Maaf ya!”

Klaranda V : “I’m not ready Ndy…”

Anindya Putri : “Masih 2 minggu lagi. Ada gue Ra tenang aja, sabtu gue balik kita ketemu ya! Please don’t cry again..”

Klaranda V : “I’ll try..”

Lara masih terus berpikir apakah dia akan datang ke acara reuni nya ini? Ataukah dia tidak akan datang karena jelas, Damma akan ada disana. Di satu sis dia sangat merindukan teman-temannya, dan ini adalah peluang besar untuk kembali berhubungan dengan teman-temannya, salah satu kesempatan besar juga supaya kedepan Lara bisa dengan mudah mempromosikan restorannya. Tapi ada Damma disana.

‘Okelah, keberhasilan gue yang harus gue raih ini, nggak sebanding kalau gue harus ngorbanin semuanya hanya karena cerita cinta monyet jaman ABG’ desis Lara. Kemudian dia menekan pilihan ‘attending’ pada invitation itu.

* * * *

“SIAAAALLL terlambat lagi gue!” Lara berlari menuju gerbang sekolahnya yang sudah terkunci. Dia sampai di sekolah pukul 7.30 sementara bel masuk berbunyi pukul 7 tepat. ya, dia terlambat.

Di pintu gerbang Pak Aep sang satpam berdiri tegak dengan wajah sangar bak malaikat Malik yang sedang menjaga pintu neraka. Sekolah ini memang membutuhkan satpam dengan wajah seram seperti Pak Aep ini, karena kalau tidak mungkin satpamnya yang akan di serami oleh murid-murid begajulan yang jumlahnya tidak sedikit.

Namun bagi Lara, Pak Aep ini tidak se seram tampilannya yang tinggi tegap dengan kulit gelap dan kumis tebal mirip Pak Raden. Pak Aep sering meloloskan Lara kalau Lara terlambat masuk sekolah dengan catatan hanya dia murid yang terlambat saat itu. Seperti pagi ini, sebelum sampai ke pintu gerbang Lara celingukan berharap hanya dialah satu-satunya siswa yang terlambat pagi itu, karena jika tidak, dia harus kembali pulang. Tidak ada maaf bagi siapapun yang terlambat masuk sekolah.

“Paaaakk, Lara masuk ya Pak Pleaaaseee..” kata Lara setelah sampai di depan gerbang..

Ai Neng Lara atuh seminggu ini udah 3 kali terlambat, Bapak mah nggak mau ngelolosin kalau telat sekali lagi..” kata Pak Aep dengan wajah cemberutnya.

“Iye Pak, janji deh ini terakhir..” kata Lara.

Pak Aep membukakan pintu gerbang, kemudian Lara berhamburan masuk kedalam sekolahnya dengan setengah berlari. Dia berjanji untuk tidak datang terlambat lagi, paling tidak minggu ini. Dengan mengenakan rok yang panjangnya selutut dan sedikit kebesaran, sepatu converse pendek dan kaos kaki yang panjangnya dibawah lutut, Lara terlihat sangat kurus apalagi dengan kemeja nya yang kebesaran dan ransel hijau favoritnya yang sudah buduk. Beberapa temannya mengatakan kalau Lara masih pantas menjadi anak kelas 1, asal wajahnya diganti. Jahat memang. Tapi cupu nya Lara mengalahkan anak-anak kelas 1 yang baru masuk.

Lara melirik jam di tangannya. Baru jam 7.40 menit. Pelajaran pertama akan habis pada pukul 8.30. Sekarang Lara jelas tidak bisa masuk apalagi sekarang pelajaran fisika, guru fisikanya saat itu sangat mensucikan jam pelajarannya, artinya tidak boleh ada yang menganggu sedikitpun bahkan kepala sekolah tidak boleh menyentuh jam pelajarannya dengan alasan apapun.

Akhirnya Lara memilih untuk nongkrong di kantin yang posisinya tepat bersebelahan dengan perpustakan -tempat dimana seharusnya Lara berada sekarang- Namun rasanya bakwan dan cireng itu lebih menggiurkan dibanding dengan buku-buku lusuh bau lembab yang berada di perpustakaan.

Akhirnya Lara memilih duduk di sebuah bangku yang menghadap ke jalan, supaya dia bisa sadar kalau ada guru yang melintas dan bisa segera mencari alasan, daripada kepergok tiba-tiba dan dikagetkan oleh guru yang melihat Lara berada di kantin. Dia mengeluarkan buku paket kimianya dan mulai membaca.

“hei! lagi apa? rajin amat baca buku paket!” suara Damma dari belakang mengagetkan Lara.

“kageeeettt!! ampir aja lo gue timpuk pake buku ini! mau?” jawab Lara galak. Damma hanya tergelak. dia kemudian duduk di samping Lara dengan gelas kopi nya.

“lo telat Ra?” tanya Damma..Lara mengangguk

“Lo pasti bolos..” Lara balik bertanya. Jawabannya hanya sebuah cengiran lebar yang sangat lucu.

“bosen gue sekarang lagi pelajaran sejarah. Ngantuk nih, mending ngopi dulu biar seger..” jawab Damma.

“emang pelajaran lain lo nggak ngantuk?” tanya Lara lagi

“Ngantuk juga sih..” Jawab Damma diiringi cengiran lagi.

Lara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kembali membaca bukunya, hari ini ada tes yang bisa mengubah nasib kimia siapapun di kelas Lara, meskipun nilai Lara terbilang cukup tinggi di kelasnya, dia ingin nilainya sempurna karena untuk mata pelajaran lain dia payah sekali, dan dia berharap nilai kimianya ini bisa menutupi kebobrokan nilai-nilai Biologinya.

“Mending ngobrol Ra, daripada belajar..” kata Damma

“Mending belajar lah daripada ngobrol, Apalagi sama elo. banyak mudaratnya daripada manfaatnya..” jawab Lara, matanya tetap tertuju pada buku yang sejak tadi ia baca.

lagi-lagi Damma tertawa. Sejak acara CPD di ciwidey sebulan lalu, Damma dan Lara jadi sering ngobrol. Biasanya mereka saling menyapa atau bertukar jawaban ulangan Bahasa Indonesia karena guru mereka sama dan terlalu malas untuk membuat soal yang berbeda di tiap kelas. Akhirnya murid-murid yang lebih rajin dari gurunya ini tidak jarang saling memberikan jawaban antar kelas untuk kesejahteraan bersama.

“Lo mau masuk mana Ra kalau udah lulus?” tanya Damma

“pengennya ITB sih, kan bagus tuh terus gue nggak perlu jauh-jauh ke luar kota buat sekolah di sekolah bagus..” jawab Lara mantap ” lo gimana?”

“ga tau Ra, lulus juga belum tentu.. HAHAHAHAHA..” jawab Damma.

Lara memberikan tatapan kosong kepada Damma, kalau dalam komik, mungkin sekarang diatas kepala Lara sudah ada keringat sebesar buah nangka. Damma nyengir lagi. Salah tingkah.

“ya musti lulus lah Dam, mau jadi apa lo kalau nggak lulus. Ikut paket C? kalau ujung-ujungnya ikut paket C kenapa lo nggak maen-maen aja dari TK ga usah sekolah, ntar pas umur lo udah cukup baru lo ikut paket C..” kata Lara galak..

“Standar kelulusan makin tinggi Ra, soal-soal ujian makin nggak make sense..” kata Damma.

“Usaha donk. Lo tahu orang-orang kalau ujian Nasional itu dari cara halal sampe cara haram mereka lakuin. tapi intinya mereka usaha. Nggak kayak lo, belum apa-apa udah pasrah gitu aja..” jelas Lara.

Damma nyengir lagi. Diantara kegalakan-kegalakan dan kesinisan Lara Damma selalu bisa mendapatkan kejujuran dalam setiap kalimatnya. Maka dari itu Damma betah sekali menggodai Lara meskipun ujung-ujungnya selalu disembur dengan kata-kata pedas yang membuat Damma tertampar atau ceramah yang lebih panjang daripada acara kultum di TV saat menjelang buka puasa di bulan Ramadhan.

“Lo sama gue itu baru kenal loh.. Tapi kok lo seenaknya banget sih ngata-ngatain gue gitu? gak takut kalau gue bakal benci sama lo?” tanya Damma.

“Bodo amat, justru karena baru kenal, gue nggak keberatan lo sebelin dan lo tinggalin, lo gak kenal gue lagi juga gak apa-apa.. HAHAHAHA..” jawab Lara.

“serius nih?” tanya Damma.

“Serius. Mau yang sebel sama gue cuma elo atau sekalian tuh ajakin kelompok persaudaraan lo yang solidaritasnya membabi-buta dan ga jelas tujuanya apa musuhin gue juga gue gak takut..” jawab Lara

“HAHAHAHAHAHA… sensi amat siiih sama Alpha boyz..” kata Damma.

“Sebel sih, bikin rusuh mulu. sok eksklusif kayak pada ganteng aja..” kata Lara, matanya tak lepas dari bukunya. Damma tertawa lagi.

Damma adalah salah seorang anggota Alpha Boys. Alpha Boys ini adalah kelompok persaudaraan yang sudah ada turun temurun sejak angkatan 1990. Mirip-mirip geng motor, tapi anggotanya hanya siswa yang sekolah di SMA Jaya saja. Untuk masuk ke kelompok ini, sebagian besar dipilih sejak awal mereka masuk SMA Jaya, tapi seiring berjalannya waktu, anak-anak biasa yang bergaul dengan anggota AB ini rata-rata menjadi anggota AB juga akhirnya. Tapi jangan sampai jadi anak yang menyodor-nyodorkan diri untuk jadi anggota AB, karena kebanyakan malah menjadi budak para seniornya.

Kegiatan mereka? Bikin rusuh satu sekolah. Katanya sih banyak kegiatan sosial yang mereka adakan, yah kegiatan-kegiatan ABG seperti konvoi kemudian buka puasa bersama lalu memberikan santunan ke panti asuhan. Sisanya sih mengerjai orang di sekolah, nongkrong di tempat-tempat yang terlihat oleh orang-orang di sekolah dan tawuran. Mereka itu seperti pemilik sekolah. Namanya ABG, masih labil dan senang sekali dengan sorotan orang-orang.

“Bukanya kita-kita itu keren?” tanya Damma, dan kata “Kita-kita” itu maksudnya adalah Alpha Boys ini..

“Itu kan cuma menurut kalian aja sama pacar-pacar kalian. Nggak sedikit loh yang sebel sama kalian dan nggak ngerti kenapa kalian nggak dimusnahkan aja..” Kata Lara sadis.

“Nah elo masuk golongan yang mana?” Tanya Damma.

“Golongan Haters dong, masa masih nanya..” Kata Lara.

“Haters gue juga?” Tanya Damma.

“Karena lo sering ngasih jawaban Bahasa Indonesia sama gue, maka gue harus menyelamatkan elo dari eliminasi..” Kata Lara.

Damma tertawa lagi. Baru kali ini dia bisa menemukan orang yang bisa berkata jujur tentang keberadaan Alpha Boyz. Dia akui kalau dia dan teman-temannya sering mempermalukan orang-orang di depan umum. Dan pastinya banyak sekali yang terganggu dengan keadaan itu.

“Ah gue masuk kelas dulu yee..” Kata Lara setelah mendengar bel ganti pelajaran berbunyi dan melihat beberapa anak menghampiri kantin untuk mengisi perut mereka diantara jam pelaran.

“Sini aja Ra..” Pinta Damma.

“Nooo, thanks! Bisa-bisa otak gue dicuci sama anggota Alpha Boyz ini..” Lara mengambil tas dan buku paketnya kemudian meluncur pergi menuju kelasnya, meninggalkan Damma yang cengo sendirian.

* * * *

Lara terbangun dari tidurnya, nafasnya memburu dan kantuknya langsung hilang seketika. Ternyata hanya mimpi namun Lara bisa mengingat setiap detail kejadian 7 tahun lalu itu. Dadanya tiba-tiba sakit.

Dia melihat jam di dindingnya, sudah jam 6 pagi. Perasaannya tidak enak sekali. Saking takutnya menghadapi reuni, sampai-sampai dia tidak bisa tidur nyenyak dan terus dihantui oleh masa lalunya bersama Damma.

Lara mengambil handphone yang ditaruh di meja samping tempat tidurnya. Dia harus segera menghubungi Gray supaya hatinya tenang. Gray selalu bisa membuat Lara aman. Dia menekan keypad hpnya dengan lincah.

Klaranda . V : “Gray, temenin aku reuni ya 2 minggu kedepan..”

Mahameska “Gray” S : “Okay”

satu kata balasan dari Gray sudah bisa membuat Lara tenang sekali. Dia tahu dia akan baik-baik saja di samping Gray. Dia bisa mempercayakan semuanya kepada Gray. Dan Damma Hanyalah sebuah masa lalu yang pernah menghiasi hari-harinya, dia tahu kalau dia tidak bisa menggantikan Gray dengan siapapun.

Bersambung…

Advertisements

2 thoughts on “Unfinished Love (part 9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s