Unfinished Love

Unfinished Love (part 8)

(click here and Read Unfinished Love part 7)

Tidak ada yang memiliki fokus seperti Lara, mungkin selain Michael Jordan. Setelah pertemuan yang memalukan dengan Damma kemarin Lara bisa kembali bangkit dan sekarang dia sudah kembali dengan mengonsep restoran yang dia harapkan bisa buka akhir tahun ini.

Sekarang dia sedang berada di dalam travel menuju Jakarta. Mungkin 15 menit lagi dia sudah sampai di SCBD Jakarta. Rencana nya dia akan bertemu dengan Gray hari ini. Lara ditemani buku catatan lengkap dengan pensilnya. Setiap ada ide yang melintas di benaknya, dia akan langsung mencatatnya. Lara kembali bersemangat dengan rencananya ini, hanya satu masalahnya, dia masih belum menemukan tempat yang tepat untuk restoran yg berkonsep restoran keluarga ini.

“Menu semua udah oke. Konsep dan tata ruang udah kebayang. Kriteria server sama tukang masak udah ada.. Tinggal tempat nih beneran gemesin..” Kata Lara pada dirinya sendiri.

Sebelum Lara sempat mengamuk, Travel yang dia naiki sudah berhenti pada pool nya. Semua penumpang sudah turun duluan dan Lara-lah yang terakhir. Saat Lara turun, Prita, Kakak Gray yang ternyata menjemput Lara kali ini sudah menunggu di bangku yang disediakan oleh travel yang berada tepat di depan travel nya. Prita melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.

“Laraaaaa.. gimana perjalanannya, macet?” Tanya Prita.

“Bukan Jakarta kalau nggak macet Pri.. Hahaha, tadi sih di Jalan lancar aja, cuma pas masuk tol dalam kota yaaahh you know lah” Kata Lara sambil cekikikan.

Prita adalah kakak Gray yang selisih umurnya hanya 2 tahun dengan Gray, dia sudah menikah dan belum punya anak, makanya waktu yang dia miliki tidak terbatas jadi dia yang diutus Gray untuk menjemput Lara siang ini. Prita memiliki tubuh tinggi dan langsing serta rambut ikal sepanjang punggung yang tertata rapi. Wajahnya juga sangat terawat, tidak ada setitik noda atau jerawatpun di wajahnya. Benar-benar membuat siapapun iri.

“Nanti gue anterin ke Pacific Place dulu ya Ra, katanya 15 menitan lagi Meska sampai disana..” Kata Prita menyebut nama kecil Gray.

“Maksudnya dianterin?” Tanya Lara bingung.

“Iya, gue drop aja Ra.. Sori banget yaaaaa.. Gue musti balik lagi ke toko, nanti lo sama Meska paling makan kan ya? Ntar agak siangan lo dianterin ke rumah nanti ketemu Ayah aja.. Abis gue beres dari toko, gue anterin lo ke Travel lagi” kata Prita.

“Okay..” Jawab Lara setuju.

Setelah Prita mendrop Lara di Pacific Place, Lara berjalan-jalan sebentar disitu sambil menunggu Gray yang masih belum sampai. Window-shopping menjadi kenikmatan sendiri bagi Lara, dia begitu menikmati suasana dan setiap benda yang dia lihat saat itu. Benar-benar Refreshing, pikirnya. Setelah puas berjalan-jalan, Lara memilih sebuah restoran yang cukup nyaman disitu, pas untuk bertemu Gray. Tidak terlalu padat pengunjung dan makanannyapun nampaknya lezat.

Setelah menunggu lebih dari 15 menit, akhirnya batang hidung Gray muncul juga. Itu artinya sudah lewat 45 menit sejak Prita bilang Gray akan datang dalam 15 menit. Lara langsung memasang tampang cemberut. Dia benci sekali kepada orang-orang yang suka terlambat. Dan Graylah yang sering terlambat.

“Haloooooo!!” Kata Gray sambil nyengir lebar.

“Terlambat lagi..” Kata Lara.

“Maaf yaa.. Tadi abis liat liputan anak-anak dulu, tanggung kalau ditinggal.” Jawab Gray cuek. Dia kemudian mengambil menu dan mulai memilih makanan. “Makan apa Nong?” Tanya Gray.

“Wagyu steak aja, medium rare. Minumnya hot tea aja” jawab Lara.

Setelah memanggil waiters nya dan memberitahu pesanan mereka berdua kini mereka mulai mengobrol. Mulai dari basa-basi soal perjalanan Lara hingga kabar masing-masing.

“Bagaimana restorannya Nong?” Tanya Gray.

“Sedikit putus asa, karena aku nggak menemukan tempat yang cocok. Aku udah cari di koran, bahkan sampai pasang iklan di koran juga nggak ngefek tuh.” Kata Lara dengan nada kesal.

“Yaudah kamu siapin aja dulu semuanya sekarang ya, mungkin dari sekarang kamu bisa cari kenalan mahasiswa-mahasiswa pariwisata yang berminat untuk magang sekalan kita bisa menekan budget, atau fresh graduated anak-anak SMK yang jurusan masak gitu. Yang penting mereka bisa masak dan nurut sama kepala chef nya nanti..” Kata Gray.

“Oke juga kalau gitu. Tapi nge gaji chef gitu berapa ya Gray? Kayaknya bakal mahal banget deh..” Lara sedikit ngeper.

“Kamu kan nggak perlu ngambil chef lulusan luar negeri atau yang dulunya kerja di hotel bintang 5. Itu untuk next project lah. Sekarang sambil jalan sambil kamu belajar dan sesuaikan sama budget kita. Nanti aku tanya sama temen-temenku deh ya, siapa tau ada.” Kata Gray.

“Aaaaaahhhhhh Graaaayyyy I love youuuuuuu!!” Kata Lara senang. Kalau saja Lara tidak duduk berseberangan dengan Gray mungkin ia sudah memeluk Gray dan badan Gray habis ia cubiti.

“Nong, aku abis makan musti balik ke kantor yah, ntar kamu naik Taksi ke rumahku bisa nggak?” Tanya Gray. Lara mengangguk. Ia sudah beberapa kali ke rumah Gray, jadi kecil kemungkinan ia bisa dibawa kabur supir taksi.

“Nanti disana kamu bisa sekalian ngobrol-ngobrol sama Ayah tentang rencana kamu buka resto. Ayah juga sebenernya berminat investasi. Cuma aku bilang jangan dulu. Mungkin untuk investasi itu bisa jadi pelajaran kita berikutnya. Kita musti pelajari ini satu persatu, karena mau bagaimanapun ini kan bukan bidang kita. Berani bukan berarti mempertaruhkan segalanya, kamu inget ini Nong. Kamu bakal dapet pelajaran baru nanti dari Ayah.” Lara menatap Gray tidak berkedip. Kalau sudah serius dan bicara tanpa henti begini Gray terlihat sangat mempesona.

Setelah makan siang, Gray mengantarkan Lara menuju Taksi dan Lara segera meluncur ke rumah Gray. Sebetulnya Jaraknya tidak terlalu jauh sih, Hanya saja dengan segala kemacetan dan padatnya jalanan membuat perjalanan kemanapun terasa lama, Tapi Lara sangat menikmati kemacetan ini.

30 menit kemudian, Lara sampai di sebuah rumah berpagar Cokelat yang tinggi. Hampir semua rumah di perumahan ini mempunyai Pagar yang tinggi nya hampir setinggi rumah itu sendiri, mungkin tingginya angka kriminalitas membuat para penghuni harus ekstra hati-hati. Padahal sayang sekali, dibalik pagar-pagar tinggi itu banyak sekali rumah-rumah artistik yang seharusnya bisa dipamerkan. Seperti rumah Gray yang bernuansa Jawa kental yang didominasi oleh kayu, membuat Lara betah berlama-lama tinggal di rumah ini.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Pak Darto yang menunggui Rumah Ayah Gray muncul juga dan membukakan Pintu untuk Lara. Pak Darto tersenyum dan meminta maaf karena lama sekali membukakan pintu. Pak Darto mengantar Lara ke halaman belakang. Disana Ayah Gray sedang duduk santai sambil membaca majalah, ditemani secangkir kopi dan kue-kue kecil disitu.

“Lara..” Panggil Ayah Gray sambil tersenyum.

“Eh Oom nggak ke toko?” Tanya Lara.

“Nggak, Memang sengaja soalnya Meska bilang Lara mau kesini.. Jadi Oom sekalian minta Meska ajak kamu kesini supaya Oom bisa ngobrol-ngobrol sama Lara,” kata Ayah Gray

Mengobrol dengan Ayah Gray itu sangat menyenangkan, dia tidak hanya menceritakan pengalaman hidupnya seperti orangtua-orangtua kebanyakan. Seperti anak-anaknya, beliau adalah pendengar yang baik. Sehingga membuat Lara benar-benar betah ngobrol dengan Ayah Gray lama-lama.

“Jadi katanya Lara mau buka restoran ya?” Tanya Ayah Gray. Lara mengangguk.

“Sebenernya sih Lara lebih suka kerja Oom, Lara ngaku deh kalau Lara merasa sangat aman berada di comfort zone, tapi yah Gray yang menyadarkan Lara untuk nggak terus-terusan mengorbankan kebahagiaan Lara hanya demi gaji bulanan..” Kata Lara

“Bagus itu, bener kok Ra kata Meska, apalagi kamu itu perempuan, bukan Oom underestimate, tapi Oom sendiri adalah seorang laki-laki yang memandang peran wanita sebagai ibu itu penting. Jadi kalau kamu menikah dengan Gray, kemudian kamu mulai punya anak, kamu akan dihadapkan sama keadaan yang lebih dilematis, karir atau keluarga kamu. Ya sekarang kamu mau bikin restoran itu jadi aset buat masa depan kamu. Kamu tidak perlu meninggalkan keluarga kamu tapi kamu tidak perlu menakutkan masalah finansial lagi..” Jelas ayah Gray panjang lebar.

Sialan kamu Gray, jadi ternyata selama ini semuanya udah kamu atur… Lara akhirnya sadar dengan semua skenario Gray, permintaan resign yang sangat natural hingga akhirnya Lara ada disini. Tujuan Gray hanya satu, menikahi Lara, tanpa harus berjauhan dengan Lara dan tanpa Lara harus takut dengan masalah finansialnya.

Lara mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Ayah Gray. Banyak sekali ilmu dan motivasi yang dia dapat saat ini. Ayah Gray menceritakan tentang awal mula dia membuka toko Kain nya, Dulu ketika Prita kelas 3 SMA, Prita mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang. Memang semua biaya kuliahnya ditanggung penuh oleh pihak sponsor, tapi tidak dengan biaya hidupnya. Ayah dan Ibu Gray berusaha Keras supaya Prita bisa hidup disana. Meskipun sudah banting tulang tetap saja uang yang mereka punya masih kurang.

Karena mereka membutuhkan tambahan uang yang banyak, Ibu Gray memutuskan untuk menggunakan tabungan mereka sebagai modal usaha mereka, dan ternyata bisnis mereka berkembang cukup cepat. Setelah cukup mapan dan tokonya membutuhkan perhatian khusus, akhirnya Ibu Gray memutuskan untuk pensiun dini dan hanya mengelola toko. Ternyata pengorbanan mereka tidak sia-sia. Bukan hanya bisa membekali Prita untuk kuliah di jepang, tapi toko kain mereka ini bisa menjadi penopang hidup mereka.

“Aku nggak tahu loh ceritanya kayak gini.. Aku kira Oom sama almarhum tante dulu memang awalnya bisnis..” Kata Lara.

“Ngga kok Ra, jaman dulu untuk memulai bisnis apalagi dengan modal kecil susah banget, dan banyak lapangan kerja, jadi pilihannya pasti kerja.. Itu juga beralih ke bisnis karena kepepet dan modal udah ada juga, jadi terasa lebih mudah..” Jelas Ayahnya Gray.

“Terus banyak kendala nggak tuh Oom? Kan Oom banting setir abis-abisan tuh istilahnya..” Tanya Lara.

“‎‎‎wah, kalau kendala sih jangan ditanya Ra, banyak sekali.. Tapi selama kitanya tetep semangat, Tuhan pasti kasih jalan buat kita.” Jawab Ayah Gray.

Lara mengangguk-angguk. Lara pernah bertemu Ayah Gray beberapa kali, tapi baru kali inilah Lara bisa ngobrol serius dan benar-benar ngobrol. Jika dilihat-lihat Gray memang mewarisi sifat antusias Ayahnya ini karena mereka mirip sekali jika sedang ngobrol bersemangat begini.

“Dalam bisnis yang terpenting adalah passion. Kamu harus bersemangat dan harus mau menerima pendapat orang-orang. Musti open-minded dan jangan pernah berhenti untuk belajar, karena mau bagaimanapun metode menjual itu selalu berubah.

Misal jaman Oom dulu buka toko, nggak terlalu perlu itu namanya pendekatan personal. Jualan cenderung lebih laku meski tanpa promosi. Kalau sekarang metode jaman dulu dipake, jangan harap itu toko bisa bertahan walau cuma sebulan. Sekarang kita musti keep in touch sama pembeli. Kadang kita musti sms mereka kalau udah lama ngga belanja, yah hal-hal semacam itu yang diperlukan jaman sekarang.” Jelas Ayah Gray panjang lebar.

“Jadi Lara cuma perlu yakin sama diri sendiri ya Oom..” Kata Lara.

“Iya Ra, modal nomor 10. Yang penting kamu tetep semangat. Karena cuma semangat itu yang bisa bikin kamu bangkit kalau kamu jatuh nanti…” Jawab Ayahnya Gray.

Lara mengangguk-angguk. rencana Gray mempertemukan Lara dan Ayahnya tidak salah sama sekali. Kini Lara jadi semakin yakin untuk membuka restorannya. Dia yakin kalau dia bisa sukses dengan bisnis barunya ini.

“Pokoknya Oom nggak mau berkesan terlalu menggurui, kamu harus mencoba dulu dan rasain dulu baru nanti ketahuan apa yang kurang dan apa yang harus kamu perbaiki. Kalau kamu perlu bantuan apapun kalau Oom bisa bantu pasti Oom bantu…” kata Ayah Gray.

Lara terseyum bahagia. Ternyata banyak sekali yang menyayanginya. Dengan banyaknya dukungan seperti ini membuat Lara semakin termotivasi dan tertantang. Dia harus bisa sukses dan membuktikan kepada semua oranng yang sudah mendukungnya ini.

“Makasih banyak ya Oom, Lara seneng banget deh sekarang jadi lebih terbuka…” Kata Lara..

……. Bersambung

Advertisements

One thought on “Unfinished Love (part 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s