Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (part 7)

(click here and Read Unfinished Love part 6)

Lara membuka matanya perlahan. Setelah menangis semalaman, kini matanya bengkak dan sulit sekali terbuka. Dia membutuhkan banyak es untuk mengompres matanya. Akhirnya dia menyerah dan membiarkan matanya beristirahat dulu sebentar.

Perasaannya kini jauh lebih enak, Dia merasa sangat lega dan siap menjalani hari-hari nya seperti biasa. Mau bagaimanapun masa lalu tetaplah masa lalu, dia tidak akan bisa kembali dan tidak akan bisa berpura-pura semuanya tidak pernah terjadi. Lagipula mungkin saja dia tidak akan pernah bertemu Damma lagi.

Lara meraih handphone nya, dia punya kewajiban menelepon Gray hari ini dan bilang kalau dia baik-baik saja. Lara menekan angka 1 tombol speed dial untuk nomor Gray. Selang beberapa menit Gray mengangkat teleponnya.

“Hallo Nong, How are you?” Tanya Gray.

Awful..” Jawab Lara dengan suara sengau khas orang flu.

“Sakit apa sih Nong?” Tanya Gray.

“Ga tau nih Gray, cuaca aja kali nggak bagus. Tapi selebihnya aku baik-baik saja kok..” Jawab Lara.

“Bagus lah kalau gitu, air putih jangan lupa. Aku mungkin baru bisa ke Bandung 2 mingguan lagi nih Nong.” kata Gray

Lara terdiam, padahal di saat-saat seperti ini Lara menginginkan Gray ada di sampingnya. Benar kan apa kata Lara sebelumnya, Gray sama seperti Jelangkung. Namun dia benar-benar ingin berada dekat Gray sekarang, apalagi setelah kejadian tak terduga kemarin Lara ingin Gray mengalihkan pikirannya tentang Damma dan masa lalu yang mengikutinya.

“Eh hari ini katanya janjian ketemu sama temen-temen kamu itu?” Tanya Gray

“Kayaknya nggak jadi nih masih gak enak badan, minggu depan kali yah…” jawab Lara sambil mengeluarkan ingusnya supaya hidungnya terasa lega.

Mereka kemudian mulai ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari rencana restoran Lara, berita terkini, hingga gosip artis  yang sedang hot saat ini. Kalau Gray sedang ‘sadar’ maka dia adalah seorang teman ngobrol yang sangat asik, namun jika dia sedang ‘tidak sadar’ semua yang dikatakannya akan terdengar seperti orang yang mengajak Lara untuk berkelahi, sangat menyebalkan.

“Gray memungkinkan nggak kalau aku aja yang ke Jakarta. Kalau kamu nggak ada waktu weekend ini, aku bisa dateng hari kerja.. Makan siang bareng dan malamnya aku pulang lagi..” Kata Lara.

“Wiiihh tumben ide nya bagus! Yaudah dateng aja Nong, nanti kalau sempat aku yg jemput atau aku suruh Prita aja,” Kata Gray bersemangat.

“Kapan?” Tanya Lara.

“Besok boleh, selasa boleh, rabu boleh, asal jangan kamis aja..padet soalnya” Ujar Gray.

“Lusa deh ya!” Kata Lara.

Setelah mencapai kesepakatan, Lara dan Gray menutup teleponnya masing-masing. Namun Lara langsung mengirimkan BBM kepada Indy. Tentang pembatalan rencananya hari ini

Klaranda V : “Ndy, hr ini gue g jadi ketemuan ya.. Sakit nih”

Anindya Fitri : “Sakit apa Ra!?”

Klaranda V : “biasa, flu aja”

Anindya Fitri : “oooh oke, tar gue sampein sama yg lain. Cepet sembuh ya Ra!”

Klaranda V : “thank you.. Eh ndy, would you do me a favor?”

Anindya Fitri : “wot?

Klaranda V : “abis lo ketemu anak2 kan lo ke undangan rapat SMA itu kan? Bisa nggak lo pulangnya ke rumah gue dulu sebentar? Tp jgn kasi tau yg lain. Lo pake travel yg jam berapa?”

Anindya Fitri : “Jam berapa aja, asal sebelum jam 12.. Oke deh ntar jam 4an deh gue pastiin udah sampe.. See you,”

Indy, teman sebangku Lara sejak kelas 1 SMA itu selalu siap untuk Lara. Bahkan dia tidak menanyakan apa keperluan Lara. Ketika Lara menghubunginya dia tahu sesuatu yang genting sedang terjadi. Indy tahu mereka sudah tidak sedekat dulu lagi, kalau ada sesuatu yang membuat Lara harus memaksa Indy bertemu, permasalahannya pasti hanya satu. Damma.

* * * * * *

Sakit Lara berkelanjutan, setelah mengirimkan BBM kepada Indy, kepalanya langsung terasa pusing, badannya hangat dan seluruh badannya seperti patah-patah. Sepertinya Lara masuk angin karena setelah pulang kemarin Lara tidak makan apapun sampai tadi pagi. Belum lagi kondisi psikologis Lara kemarin memperburuk keterlambatan makan Lara. Untunglah Pukul 4 sore, Indy sudah datang ke rumah Lara, dia membawakan makanan kesukaan Lara, satu paket Baso tahu siomay lengkap dengan Pare nya.

“Aaaahhh Indy thank youuu.. Kayaknya gue bisa langsung sembuh nih..” Kata Lara bersemangat.

Indy Hanya tertawa sambil menyiapkan siomay itu supaya bisa Lara makan sekarang selagi masih hangat.

“Nih Makan..” Kata Indy sambil menyodorkan siomay nya.

“Anak-anak ga tau kan lo kesini?” Tanya Lara sambil mengunyah siomay nya dengan mata berbinar.

“Nggak kok, tadi gue bilang mau cepet balik soalnya mobilnya mau dipake papa..” Jawab Indy.

“Jangan bilang mereka ya plis” Lara memohon Kepada Indy dengan sungguh-sungguh.

“Iya, tapi lo kasih tau dulu donk lo kenapa?”

“Jadi gini Ndy, kemarin gue kan ke PVJ niatnya gue cuma mau beli baju doang buat dipake hari ini, pas gue keluar dari toko nya gue ketemu Damma! Gue yakin banget itu Damma. Item nya itu gue hafal banget, terus dia manggil gue pas gue lari..” Jelas Lara.

“Hah? Elo lari Ra abis ketemu dia?” Tanya Indy, Lara mengangguk.

“Astaga Klarandaaaa.. Umur lo tuh udah 25 loh, kelakuan masih kayak umur 17 tahun aja..” kata Indy gusar

“Gue shock Ndy! Lo bayangin gue udh ga pernah ketemu dia selama 5 tahun bahkan gue lost contact sama dia, nggak ada facebook, twitter nya dia.. Gue ga siap ketemu dia.. Semuanya tuh kayak balik lagi aja!” Jawab Lara.

“Ya ampun Ra.. Sedih banget gue dengernya. Sekaligus kesel ya gue sama lo, Gue kira kaburnya elo ke Makassar selama 4 tahun itu bawa hasil. Ternyata lo ninggalin keluarga sama temen-temen lo disini buat sesuatu yg ga ada artinya.. Bahkan lo masih belum sembuh..” Kata Indy

“Sama, gue juga kecewa..” Jawab Lara, dia tak berani menatap mata Indy.

“Yaudah lah Ra, gue masih bingung juga. terus sekarang perasaan lo gimana?” Tanya Indy.

Better than yesterday..

Great.. Gue pengen lo lupain Damma, lo musti berbesar hati maafin dia, musti kayak gitu kalau lo pengen tenang. You have a perfect life here, keluarga lo, Gray, Lo mau bikin restoran, lo sekarang sedang berjalan menuju perwujudan mimpi lo Ra.. Kenapa lo nggak move on-move on sih? Heran gue orang kayak gini bisa cepet naik pangkat..” Kata Indy mengeluarkan amarahnya.

Lara diam, Indy memang lebih pendiam dibanding Gitta atau Femmy, tapi Indy lah yang paling berani mengungkapkan kebenaran. Kalau kata Lara, sahabat sejati adalah orang yang seperti Indy. Dan keahlian Indy yang lain adalah dia pandai sekali membuat orang lain merasa bersalah.

“Yaudah obrolan yang tadi pending dulu. Gue tarik nafas dulu, soalnya bentar lagi gue pasti dimarahin lagi..” Kata Lara “Tadi ngapain aja Ndy?”

“Ketemu Gitta sama Femmy di ciwalk terus abis gitu ke SMA bareng mereka..” Jawab Indy

“Mau ada apa sih?” Tanya Lara

“Tadinya sih mau ngajakin reuni akbar, tapi yg dateng tadi belum banyak, jadi kayaknya yang mau reuni angkatan 2002,2003,2004 sama 2005 ..” Jawab Indy, Lara meng-Ooh. Kemudian mengambil air minumnya karena tenggorokannya kering setelah ngobrol panjang lebar tanpa jeda.

“Ra, tadi ada Damma waktu rapat..” Kata Indy..

Mendengar kata-kata Indy barusan hampir saja Lara memuntahkan air yang sedang dia minum karena tersedak.

“Sorrrryyyyyyyy..” Kata Indy.

“Ndy, kalau ngasih berita tuh liat-liat dulu dong gue lagi ngapain, lo kan pasti bakal tau reaksi gue bakal kayak gimana..”. Kini giliran Lara yang mencak-mencak.

“Maaaappppp!!” Kata Indy “anyway kepanitiaannya udah terbentuk. Dia jadi wakil ketua angkatan kita.. Acara reuni nya sekitar 2 bulanan lagi.” Jelas Indy

“Gue nggak mau dateng, gue nggak mau dateng..” kata Lara.

“yah kan lo bisa berubah pikiran kapan aja Ra,” kata Indy

“Ngggak tahu Ndy, gue bingung. Tiap mikirin Damma it feels like I’m cheating from Gray..” Kata Lara

Indy terdiam, Lara juga. Lara menatap baso tahu favoritnya tapi kini rasanya tiba-tiba hambar. terlalu banyak yang terjadi dalam 2 hari ini. Pertemuannya dengan Damma, dan Gray yang mendadak jadi manis sekali. Sepertinya Gray tahu betul kalau Lara benar-benar sedang membutuhkan dukungannya dengan proyek restoran yang hingga kini masih belum ada progress apa-apa. Dan kehadiran Damma yang terlalu tiba-tiba mengacaukan mood dan semangatnya.

“Gue nyesel udah balik ke Bandung Ndy…” Kata Lara memecah keheningan diantara mereka berdua.

“karena..?” Tanya Indy.

“Kalau gue nggak balik mungkin gue nggak akan ngerasain perasaan kayak gini sekarang..” jawan Lara

“Lo nggak pernah berpikir kalau Tuhan ngirim lo kembali ke kesini buat nyelesain masalah lo?” Tanya Indy.

Lara diam. Mungkin Indy ada benar nya juga, saat bertemu Damma kemarin perasaannya tak karuan, berarti permasalahan ini sebenarnya belum selesai. Di lubuk hatinya yang terdalam, Lara ingin sekali masalah ini cepat selesai dan merasakan hidupnya tenang kembali, namun itu sangat sulit sekali diwujudkan sekarang. Lara tidak punya nyali.

“Gue musti gimana Ndy?” Tanya Lara, matanya mulai berkaca-kaca.

“Udah jangan nangis lagi. Nanti kita temuin jalan keluarnya ya. Lo ga usah mikirin apa-apa dulu tentang Damma, cepet sembuh dulu deh mending lo fokus dulu sama restoran lo itu abis gitu baru deh.. minggu depan kita ketemu lagi ya..” kata Indy

Lara melihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukan pukul 8 malam. Dia terlalu asyik curhat sampai lupa kalau Indy akan segera kembali ke Jakarta malam ini karena dia harus kembali bekerja besok. Masa lalu dan masa kini jelas berbeda, Lara dipaksa untuk benar-benar mandiri dalam menyelesaikan masalahnya ini, dulu Indy adalah miliknya kapanpun. Sekarang Indy tidak mau kalau dia akan dianggap sebagai spoiler yang benar-benar menyebalkan karena hanya Indy lah yang mengerti dirinya.

“Yaudah deh Ndy, lo balik aja sana. Makasih banyak udah dengerin gue.. Ati-ati ya Ndy..” Kata Lara

Setelah Indy berpamitan kepada Lara dan semua anggota keluarganya, Sekarang Lara sendirian lagi. Dia berusaha tidak memikirkan Damma lagi. Mau bagaimanapun Damma hanyalah masa lalunya. Meskipun dia pernah merasa sakit hati oleh Damma, Damma juga pernah memberikan kenangan manis di dalam hidupnya. Lagipula benar kata Indy, dia kini punya kehidupan yang nyaris sempurna dengan semua mimpi-mimpi yang siap diraih bersama Gray di sisnya..

….. Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s