Fiction Story · pikiran2saya · Unfinished Love

Unfinished Love (part 6)

(click here and Read Unfinished Love part 5)

Sesampainya di Rumah, Lara langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu nya rapat-rapat. Tak lupa menggantungkan tanda “Do Not Disturb” di pintunya. Semua anggota keluarganya tahu kalau itu artinya Lara sedang tidak mau diganggu. Dan terakhir Lara menggunakan tanda itu sekitar 5 tahun lalu.

Lara berbaring diatas tempat tidurnya. Matanya dia tutupi dengan guling dan kedua tangannya dia taruh diatas guling. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Perasaannya campur aduk sekarang, semua rasa sakit hatinya yg telah dia tutupi selama 5 tahun ini akhirnya terbuka lagi dan terasa lebih sakit dari sebelumnya.

Lara mengambil Handphone nya kemudian dia berniat mengirimkan sebuah pesan kepada Gray

Klaranda. V : “Gray, I feel unwell nih, mungkin aku akan istirahat dulu sebentar ya. Gotta switch off my phone, and don’t worry I’m ok, just need some sleep

Hanya butuh 5 detik sampai akhirnya tiba balasan dari Gray.

Mahameska “Gray” S : Okay, get some quality sleep, air putih dan lgsg hubungi aku besok ya”

Setelah mendapatkan balasan dari Gray, Lara langsung mematikan handphone nya. Akhirnya kini dia bisa duduk. Perasaannya bisa lebih terkontrol dan dia bisa mengatur nafasnya kembali. Lara menyumpahi dirinya sendiri, kenapa harus ke PVJ dan kenapa harus beli baju hanya untuk bertemu dengan teman-temannya? Kalau saja dia langsung pulang,dia pasti tidak akan bertemu Damma.

Lara kembali terlentang di atas tempat tidurnya, Dia menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi oleh hiasan bintang-bintang dan berbagai bentuk planet yang akan menyala dalam gelap. Dia tiba-tiba mengingat segalanya, mulai dari awal pertemuan dia dengan Damma bahkan sampai perpisahannya juga.

Ranca Upas, Ciwidey 2005
Ini adalah tahun terakhir Lara di SMA nya, Lara baru saja naik kelas itu artinya ada murid-murid baru dari SMP yang baru pindah ke SMA juga. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di sekolah Lara ada acara yang bernama CPD (Camping Pendidikan Dasar) isi acaranya seperti acara camping pada umumnya, dan sisanya diisi dengan acara-acara ekskul masing-masing yang tujuannya ‘pengakraban’ antara senior dan Junior, Kata lainnya adalah plonco. Meski tidak ekstrim, tapi untuk beberapa ekskul cukup mengasah mental juga.

Jarak antara sekolah Lara dengan tempat Camping ini lumayan juga, sekitar 2 jam perjalanan. Dan transportasi yang mereka gunakan adalah mobil Truk tentara yang besar sekali. Ada yang beruntung kebagian tempat duduk, ada yang berdiri. Dan berdiri selama 2 jam dalam perjalanan itu lumayan bisa bikin varises. Posisinya jangan ditanya, semua siswa beserta barang bawaan mereka masuk kedalam truk sampai berjejalan seperti ikan sarden.

Lara dan Indy cukup beruntung, mendapatkan tempat yang cukup enak, duduk di bangku yang posisi nya berada di ujung truk, jelas udara segar bisa terus masuk. Namun selang beberapa menit setelah truk melaju, Bowo Teman sekelas Lara menyalakan rokoknya. Biasanya pada usia ini anak-anak yang merokok, akan show off di depan adik kelasnya. Menunjukan bahwa mereka itu pemberani dan yang jelas pada saat itu Bowo merasa jadi orang paling tampan sedunia.

“Wo, ngapain sih lo nyalain rokok disini?” Tanya Indy.

“Ya ga apa-apa donk Ndy, gue kan langsung berhadapan sama udara bebas gini..” Jawab bowo yang memang menghadap bagian belakang Truk yang terbuka.

“Udara bebas mbahmu! Itu walaupun lo sembur ke udara bebas yang lo bilang, asap nya ya tetep balik lagi ke dalem, orang aginnya gede gini..” Kata Lara menambahkan.

“Tapi gue kedinginan Ra…” Kata Bowo memelas.

“Iya dan kita kebauan..” Jawab Indy sewot.

“Gue gak peduli elo mau kedinginan atau apapun juga, bahkan gue nyuruh lo berhenti ngerokok sekarang bukan buat kesehatan lo. Ini tempat pengap woooo!! Lo boleh ngerokok asal asapnya nggak kesebar..” Jawab Lara.

“Caranya?” Tanya Bowo.

“Woi ada yang punya kresek gede banget ga? Ini ada yang mau ngerokok nih. Kepala sama rokoknya mau gue kantongin. Biar asepnya bisa ditelen sekalian sendiri..” Kata Lara setengah berteriak.

Kata-katanya tadi mengundang tawa beberapa penumpang disitu, kebanyakan anak-anak kelas 1 yang sedari tadi tidak nyaman dengan kegiatan Bowo.

“Gausah bikin gue malu depan anak baru gitu. Nih gue matiin..” Kata Bowo akhirnya mengalah.

“Kalah gue Daam.. Kalah gue kalau udah sama Neng Lara..” Kata bowo kepada temannya yang sedari tadi hanya tertawa-tawa menyimak percakapan mereka. Dan teman Bowo itu adalah Damma. Damma hanya tersenyum, sementara Lara dan Indy kembali mengobrol.

Acara CPD sebetulnya diperuntukkan bagi anak kelas 1 yang baru masuk tujuannya ya melatih kemandirian mereka dan mau bagaimanapun acara ini pasti akan membuat anak-anak baru ini menjadi lebih dekat satu sama lain. Selain acara-acara yang diadakan oleh OSIS setiap siswa juga harus punya ekskul karena acara ini juga acara pengenalan mereka dengan ekskul yang mereka pilih. Atau kata lainnya ada Plonco.

Selain kegiatan diatas, biasanya CPD juga menjadi ajang pencarian jodoh terutama para senior laki-laki yang belum laku. Mereka akan tebar pesona dan mencari mangsa-mangsa anak baru karena teman-teman seangkatan sudah tidak ada yang mau. Yang jelas acara ini adalah acara paling seru yang ada di kalender pendidikan sekolah Lara.

Akhirnya mereka semua sampai di Ranca Upas, sebuah taman perkemahan yang kalau sudah sore dinginnya luar biasa dan kalau siang, panas teriknya seperti sedang berada di gurun sahara. Semua anak turun dari truk tentara itu kemudian barang mereka di tumpuk termasuk tenda-tenda pleton yang akan mereka tinggali selama 3 hari 2 malam ini.

Semua anak akan tinggal di dalam tenda pleton. dalam 1 tenda biasanya cukup untuk 2-3 kelas, Tapi untuk setiap ekstrakulikuler biasanya mendirikan tenda sendiri karena mereka harus punya basecamp untuk tempat kumpul anak-anak kelas 1 nanti. Sementara itu Lara yang manager basket dan Gitta yang anggota team basket sudah bergabung dengan anak-anak basket lainnya, rencana nya mereka juga akan mendirikan tenda.

“Son, emangnya disini ada yang bisa ngediriin tenda?” tanya Gitta kepada Sonny sang ketua Acara basket kali ini.

“secara teknis sih nggak ada Git, cuma yah kita coba deh..” jawab Sonny

Akhirnya mereka berkutat dengan dua buah tenda itu selama hampir satu jam. Banyak sekali kesalahan yang mereka lakukan dalam mendirikan tenda itu. mulai dari tiangnya yang tidak berdiri tegak sampai angin yang terlalu besar sehingga menghancurkan tenda mereka yang belum selesai dibangun itu. Akhirnya mereka menyerah, sebagian dari mereka ada yang membantu guru-guru dan anak lain mendirikan tenda pleton dengan harapan kalau tenda basket gagal, mereka akan diterima dengan lapang dada di tenda pleton itu. Sebagian lagi ada yang asik ngobrol dan sebagian lainnya kembali main poker. Lara, Gitta dan Sonny termasuk ke kelompok pemain pokker.

“Son, tapi ini bakal bisa berdiri ga nih tenda?” tanya Lara sangsi.

“Tenang Ra, ntar pasti ada yang mau bantu kok..” jawab Sonny tanpa melepaskan pandangannya kepada kartu yang dipegangnya.

“Bener ya, gue nggak mau kalau sampai gue harus tidur dibawah langit!” ancam Lara.

“yang penting disini banyak bintangnya..” jawab Sonny asal. Kali ini dia mendongak dan begitu melihat ke belakang Lara senyum nya langsung mengembang.

“WOOOOIIII DAMMAAA!! MY BROTHER! bantuin gue donk!” teriak Sonny> karena penasaran Lara juga ikut berbalik. Ternyata ada itu temannya Bowo yang satu truk dengannya tadi.

Tanpa perlu diminta dua kali, Damma langsung membantu anak-anak basket yang sudah hampir putus asa ini. Sonny menyuruh semua anggota nya untuk kembali ke posko mereka dan mendirikan tenda bersama-sama. Damma memberikan petunjuk sekaligus membantu mereka mendirikan tenda yang sedari tadi membuat semua anak basket sakit kepala.

“Itu salah pasang tali nya. selain nggak akan kuat nahan pasak nya, itu bakal susah banget dibuka loh kalau udah beres..” Kata damma kepada Lara. Lara menghentikan kegiatannya kemudian menatap Damma.

“Gila, lo anak pramuka ya!” kata Lara

“Hahahahaha.. dulu kok waktu SD, sekarang udah nggak. gue sering aja kemping makanya ga pernah lupa sama cara mendirikan tenda..” Jawab Damma sambil nyengir.

“eh kita belom kenalan, Gue Lara.” Lara menyodorkan tangannya mengajak bersalaman, Damma menyalami nya.

“Gue Damma..” jawab Damma masih sambil tersenyum.

Kemudian obrolan merekapun mengalir begitu cepat. Hanya dalam beberapa menit Damma dan Lara bisa langsung cocok. Mereka punya banyak kesamaan mulai dari selera musik, film sampai makanan. Dan akhirnya tenda nya pun selesai. Lara bersyukur karena ada Damma saat itu, karena tugas mendirikan tenda ini jadi tidak terasa. Dan mungkin kalau tidak ada Damma, Lara benar-benar akan tidur dengan atap langit penuh bintang yang dinginnya seperti di puncak gunung Aspen.

“Thank you my brother!” kata Sonny Norak..

“Makasih ya Dam!” Lara dan yang lainnya juga tidak lupa mengucapkan terimakasih.

Saat itu Lara tidak pernah tahu kalau dia akan jatuh cinta kepada Damma. Baginya saat itu, Damma hanyalah seorang cowok sedikit berandalan, karena dia ikut sebuah kelompok persaudaraan di sekolah Lara yang kerjaannya hanya membuat onar dan jual tampang saja. yang kebetulan berbaik hati mau membantu dia dan teman-temannya mendirikan tenda.

……. Bersambung

Advertisements

4 thoughts on “Unfinished Love (part 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s