Fiction Story · Unfinished Love

Unfinished Love (part 5)

(click here and Read Unfinished Love part 4)

“Ra, lo nikah kapan?” BBM Femmy di suatu pagi sedikit membuat Lara kaget. Tidak ada angin, tidak ada hujan Femmy tiba-tiba menanyakan hal itu.

Klaranda V : “Belum ngomongin sejauh itu Fem.. HAHAHAHA.. ”

Femmy : “terus ngapain lo tunangan kalau nggak punya tujuan?”

Klaranda V : “Ya ada lah tujuannya, tapi ntar kali Fem, setahun-dua tahun ini.. dia sibuk nya nggak karuan”

Femmy : “Ah, lama.. Eh btw tanggal 1 ketemuan yuk! Lo dapet undangan dari Ikatan Alumni ga?”

Klaranda V : “nggak ada Fem, undangan apa?”

Femmy : “berarti cuma gue sama Indy aja yg dapet. Undangan buat reuni akbar. Nah hari minggu itu aja, lo jadi panitia juga yuk Ra abis ketemuan kita rapat..”

Klaranda V : “yaudah liat ntar aja, kl ketemuannya sih ayok deh..”

Femmy : “Oke, tar gue kabarin deh minggu depan ya!”

Lara kemudian menaruh handphone di atas meja kemudian melanjutkan pekerjaannya. Dia sedang menuliskan konsep restorannya akan menjadi seperti apa dan apa saja yang dia butuhkan untuk restorannya kelak.

“Gimana Nong? Udah lengkap?” Tanya Gray sambil menaruh secangkir kopi di sisi Lara.

Hari ini hari Sabtu, dan Gray sengaja datang ke Bandung untuk memenuhi janjinya kepada Lara untuk bertemu paling tidak seminggu sekali. Dan kali ini dia berhasil memenuhi janjinya setelah ratusan sabtu-minggu dia ingkari.

“Beluuuummmm.. Aku desperate Gray! Ini tuh susah banget ternyata. Mendingan ngurusin semen kemana-mana..” Kata Lara tak berdaya.

“Ya dulu emang lebih gampang karena duitnya pake duit orang, kamu cuma tinggal ngurusin aja. Sementara sekarang semua keputusan kamu bakal bener-bener mengubah hidup kamu. Semua akhir keputusan ada sama kamu. Itu yang bikin semuanya berat. Karena kamu takut gagal..”

Lara diam. Kalau sudah di ceramahi Gray mau melawanpun rasanya tidak akan bisa.

“… Tapi kamu tahu kan diantara kegagalan-kegagalan kamu itu ada pelajaran dan bisa jadi ada jalan lain untuk kamu” jelas Gray

“Baiklah..” Lara kembali menuliskan semua yang dia inginkan di daftar itu dengan bersemangat.

“Gray, untuk awal ini aku mau mulai dari yang kecil-kecilan aja. Emang sih bisnis itu gambling, tapi aku juga nggak mau mempertaruhkan semuanya di awal sementara aku nggak ngerti apa-apa di manajemennya…” Jelas Lara 15 menit kemudian.

“So..”

“Aku akan mulai dari resto keluarga yang harganya relatif murah. Mungkin setelah aku megang banget usaha ini aku akan memperbesarnya. Kalau image resto pertama aku udh keburu jadi ‘resto keluarga yang murah’ aku bakal bikin Brand resto baru yang lebih eksklusif dan harganya lebih mahal.. Yang penting sekarang belajar dulu ya..” Jelas Lara panjang lebar.

“Naaaaahhhh gitu donk! aku suka liat kamu berapi-api gini lagi.. Semangat ya Nong!” Kata Gray

“Thank you abuuu!!”

* * * *

Sudah beberapa hari ini Lara sering menongkrongi daerah dago dan sekitarnya, bertanya-tanya kepada beberapa pedagang disitu, apakah kira-kira ada rumah yang mau disewakan atau dikontrakan, dan pencariannyapun masih nihil.

Klaranda V : “Udah hampir seminggu nyariin tempat di tengah kota, masih belum dapet juga. Bikin putus asa..”

Mahameska “Gray” S : “baru juga berapa hari nong, emangnya musti ya di daerah dago situ?”

Klaranda V: “kan biar peluangnya besar..”

Mahameska “Gray” S : “iye tapi kalau nggak ada ya gimana”

Klaranda V: “terus mencari”

Mahameska “Gray” S : “Saran aku, ga usah dago-minded gitu Nong. Kayak misalnya daerah apa tuh jalan riau yang agak masuk gitu juga oke, atau daerah deket taman lalu lintas situ juga bagus..”

Klaranda V : “Daerah situ ya sama-sama mahal..”

Mahameska “Gray” S : Yaudah terserah deh kalau gitu. Aku kerja dulu ya sayang. Cari2 deh itu tempatnya. Kalau misalkan udh nemu jodoh juga pasti bakal klik. Kayak kamu sama aku..”

Klaranda V : “brb, muntah”

Lara terseyum membaca isi BBM Gray tadi. Entah kenapa setelah bertunangan dia jadi sedikit lebih manis. Memang sih hanya sedikiiiiitttt sekali. Tapi masih jauh lebih bagus daripada tidak sama sekali.

Daripada bete karena tidak menemukan tempat yang pas lebih baik ke Mall, pikir Lara. Rencananya besok Lara akan bertemu sahabat-sahabatnya. Mungkin dengan belanja baju baru perasaannya akan sedikit lebih tenang, lagipula bukan pemborosan, bajunya bisa dipakai buat besok kan.

Lara langsung ngacir ke Parijs Van Java Mall. Saat itu sudah jam 5 sore, Lara sengaja duduk-duduk dulu di sebuah kafe ditemani segelas milkshake vanilla kesukaannya. Lara tidak ngopi dan tidak merokok, kadang Lara disebut ‘membosankan’ oleh teman-teman kantornya dulu karena dia memilih milkshake ketimbang kopi. Namun gengsi dibilang membosankan itu masih belum bisa mengalahkan nikmatnya Milkshake Vanilla.

Lara memperhatikan kafe-kafe di sekelilingnya. Dia memikirkan apa yang membuat kafe ini ramai sementara kafe yang lain sepi. Diantara hampir semua kafe yang pernah Lara cicipi makanannya. Semuanya menyajikan makanan dan minuman yang relatif sama, rasanya juga sama-sama enak dan layak masuk kafe di mall ini, sisanya sih masalah selera saja. Ini PR yang cukup berat bagi Lara. Di satu sisi dia ingin segera memulai, di lain sisi dia tidak ingin semuanya hancur berantakan.

Sekarang dia harus mengucapkan banyak terimakasih kepada Gray, karena idenya ini, Lara jadi kembali sibuk. Ada sesuatu yang bisa dia pikirkan. Hidupnya serasa kembali lagi.

Lara melihat jam di tangannya, dia sudah melamun terlalu lama karena dia baru sadar sekarang sudah hampir setengah tujuh malam. Dia bergegas menuju sebuah toko pakaian yang sering dia datangi.

Setelah masuk kesana tanpa perlu lama-lama, Lara memilih sebuah rok terusan yang panjangnya 3 cm diatas lutut, berwarna khaki dengan motif bunga-bunga kecil yang sangat manis sekali. Dia juga membeli sebuah jaket denim yang sudah dia idam-idamkan sejak beberapa bulan lalu ketika masih di Makassar.

Lara membayar belanjaannya sambil tersenyum. Rasanya puas sekali kalau sudah membeli sesuatu yang dia suka. Setelah itu dia keluar toko sambil mengecek barang belanjaannya. Matanya menerawang kedalam kantong karton yang dibawanya. Sampai akhirnya di tikungan Dia merasa hampir saja menabrak seseorang yang jaraknya kira2 setengah meter darinya, untungnya matanya langsung bisa melihat sepatu pantofel di hadapannya dan orang itu langsung menghentikan langkahnya. Dan Lara mendongak untuk kemudian berjalan di jalur yang benar.

Namun ketika Lara mendongak dan hendak meminta maaf karena hampir menabrak orang itu, Lara kaget sekali. Ternyata Damma dan seorang temannya.
“Damma..” Bisik Lara sambil menengadah menatap Damma.

“Eh, Lara?” Kata Damma sama kagetnya dengan Lara.

Nafas Lara tercekat, Dadanya sesak. Ini bukan momen yang dia inginkan saat ini. Dia tidak mempersiapkan mentalnya untuk pertemuan dengan Damma yang terlalu tiba-tiba, di tempat umum dan tanpa backingan siapapun.

Selama 5 detik Lara terdiam sambil berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia tidak siap bersikap biasa kepada Damma. Tidak, setelah semua yang dia lakukan. Dia sudah memaafkan Damma, tapi dia sudah tidak mau bicara pada Damma.

Tanpa mengatakan sepatah katapun, Lara langsung berlari berlawanan arah menuju tempat parkir. Langkahnya dipercepat samapai terlihat seperti orang berlari.

“Lara!” Panggil Damma. Damma sempat mengejar Lara namun tidak berhasil.

Lara berjalan lebih cepat lagi. Kini matanya terasa panas sekali. Dia berusaha tidak menangis sebelum sampai di parkiran. Namun dia gagal. Air matanya bergerak terlalu cepat, hingga meleleh sebelum waktunya.

“Kenapa harus sekarang sih…” Ujar Lara dalam hati

……. Bersambung

Advertisements

One thought on “Unfinished Love (part 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s