Fiction Story · pikiran2saya · Unfinished Love

Unfinished Love (part4)

(click here and Read Unfinished Love part 2)

Akhirnya rencana pertunangan itu akan benar-benar terlaksana Hari Sabtu 2 minggu lagi. Acaranya hanya akan dihadiri oleh teman-teman dan keluarga terdekat saja. Gray yang punya acara sampai hari ini masih sibuk dengan pekerjaannya, malah sekarang dia sedang berada di Flores sementara Lara mempersiapkan semuanya di Bandung sendirian.

Klaranda V : “Kamu curang, kamu enak-enakan kerja sementara aku disni kelimpungan ngurusin acara ini..”

Mahameska “Gray” S : “cepat atau lambat kamu akan jadi istri aku, aku mau istri aku kelak seorang multitasking, ya salah satunya jadi event organizer..”

Klaranda V : “Asal deeeehhh..”

Klaranda V : “Eh Gray, kira-kira aku musti ngapain ya ngisi kekosongan waktu ini? Kalau untuk kerja lagi aku udah nggak mau nih. You right, It feels enjoying when I’m with Mama in the kitchen..”

Mahameska “Gray” S : “Apa aku bilang.. Yaudah just enjoy it.”

Klaranda V : “I enjoy it, tapi aku nggak bisa kayak gini terus donk. I have to earn some money..”

Mahameska “Gray” S : “Nong, kalau yang kamu takutin cuma kehabisan uang, tabungan di rekening kamu itu nggak akan habis sampai umur kamu 50 tahun kalau dengan gaya hidup kamu yang menyedihkan kayak gini..kecuali terjadi redenominasi yang sangat mendadak yah..”

Klaranda V : “Maksud lo? kalau kamu bisa liat muka aku, skrg tanduk di kepalaku udah mulai muncul nih”

Mahameska “Gray” S : “I can feel it. Cuma maksudnya, inget-inget aja kapan kamu terakhir ke mall dan menghabiskan sedikit uang? Kapan kamu makan di luar? dan kapan terakhir kamu beli baju?”

Lara terdiam, bibirnya manyun. Kenapa sih Gray selalu sukses mempermalukan Lara dan membuat Lara kehabisan kata-kata. Seharusnya dia jadi wartawan politik daripada jadi produser acara Jalan-jalan begitu. Lidah dan jemarinya begitu tajam. Tapi seperti biasa, Gray benar, saking takutnya Lara kehabisan uang sampai Lara lupa bagaimana cara menggunakannya.

Klaranda V : “Okay Mr.Right, ngemall dan belanja baju nya nanti deh sekalian kalau kamu kesini aja.”

Mahameska “Gray” S : “Uang itu ga ada nilainya kalau nggak kamu pakai. Aku gak tahu kalau pacar aku udah jadi paman Gober sekarang. tunggu aja 2 minggu lagi ya Nong, Aku baru ada waktu. Biar kita ngobrolnya santai..”

Lara memilih untuk membaca BBM Gray kemudian tidak mengindahkannya lagi, kalau Lara tanggapi bisa-bisa Gray semakin membabi buta mengatai Lara. Lara terdiam di membisu di meja makan. Dia baru selesai sarapan dan pikirannya melayang kemana-mana. Jujur sebenarnya ada rasa takut menghinggapi hati Lara, namun Lara tetap meyakinkan diri, selama dia bersama Gray dia akan baik-baik saja. KEmudian dia melanjutkan makan sore nya.

“Nong, abis makan cuci piring nya sekalian ya terus tolong buangin sampah..” perintah Mama, Lara mengangguk.

“Ma, ntar yang diundang cuma sodara-sodara aja ya?” tanya Lara

“Iyah..” jawab Mama “Lagian kan acaranya juga acara gitu doank gak rame-rame..”

“tapi Lara boleh ajak Indy, Gitta, Femmy ya? bertiga doank kok..”pinta Lara

“Yaudah ajak aja, sekalian Mama udah lama sekali nggak ketemu sama mereka..” jawab Mama.

Lara langsung mengambil Hp nya dan mengirimi semua sahabat-sahabat nya sebuah sms yang berisi kabar gembira. Lara yakin mereka akan terkejut, jadi sebaiknya Lara langsung menemui mereka dan memberikan kabar baik ini. Karena Indy dan Gitta bekerja di Jakarta maka orang pertama yang akan ditemui Lara adalah Femmy.

To : Femmy Indria

Fem, lo ada waktu ga hari ini? ketemu yookk ada yang mau gue kasih tau..”

3 menit kemudian Femmy membalas sms Lara

From : Femmy Indria

Jangan sekarang Ra, gue lagi nyiapin materi buat rapat besar besok. Besok lo ke kantor gue aja ya jam 2an deh kayaknya udah beres. Biar nanti makan siang di deket2 kantor gue aja, kerjaan gue banyak banget hikss

To : Femmy Indria

Gile aja jam 2 makan siang. yaudah deh pokoknya besok gue ga akan ngabarin lagi ya, lgsg ke kantor lo, see yaa

* * * *

Sikap disiplin Lara yang dulu terbentuk di kantor lama nya dulu ternyata masih terbawa sampai sekarang. Saat Lara berjanji akan datang pukul 2 Siang, dia sudah datang tepat pukul 2 siang, hal ini ternyata malah merugikan Lara, sudah hampir satu jam setengah dia menunggu, dan belum ada tanda-tanda kalau Femmy sudah selesai rapat. Lara menunggu di Lobby kantor Femmy sambil membaca buku. Sejak berhenti kerja, Lara jadi semakin rajin memasak dan mempraktekan ilmu yang dia dapat dari buku-buku resep lama nya. Seperti sekarang ini, Lara selalu membawa salah satu buku resepnya untuk dia baca.

Memang sih kelihatannya bodoh dengan membaca buku resep itu, namun Lara sering membaca 1 resep dalam setengah jam, sambil dibaca sambil dia bayangkan proses dan bahan-bahannya, hasilnya tidak mengecewakan, kalau maskannya tidak susah-susah amat jarang sekali masakannya gagal.

Mata Lara berkeliling memandangi seisi Lobby kantor Femmy yang luas ini. Dia memandangi semua orang satu demi satu, menebak apa yang ada di dalam pikiran mereka. Ketika Lara melihat ke sebelah kiri sekitar 200 meter dari tempatnya duduk ada segerombolan pria berkemeja lengkap dengan dasi nyaris bergerombol berjalan menuju pintu keluar, tatapan Lara mengikuti gerombolan itu dan melihat mereka satu persatu berharap mereka itu peserta rapat besar Femmy juga yang artinya Femmy juga akan segera selesai. Namun tatapan Lara tiba-tiba terhenti kepada sesosok pria berkemeja putih yang paling tinggi diantara teman-temannya yang lain. rambutnya lurus sekali dan sedikit menutupi tengkuknya, Lara hanya bisa melihat punggungnya tapi dia merasa sangat familiar dengan pemilik punggung itu.

“Damma..” bisik Lara kepada dirinya sendiri.

“RAAAAA!!! ya ampun sori banget ya telat. Lo udah lama disini?” Pekikan Femmy kontan membuyarkan lamunan Lara.

“Yah lumayan lah Fem, sekitar 2 jam..” jawab Lara

“waaahh sori-sori soriiii.. Ternyata tadi bukan cuma rapat besar, tapi rapat spektakuler, pesertanya banyak banget men. Biasa lah banyak yang cari muka pada pengen ngomong, jadi lama deh..” Jelas Femmy. “mau makan yuk?”

“Kayaknya nggak deh Fem, kesorean nih. Gue musti jemput si Flo dulu di kampusnya ada urusan soalnya.”

“Nah terus lo mau ngapain donk kalau maen balik aja gitu?” kata Femmy Bingung

“gue mau ngabarin aja kalau tanggal 25 nanti gue mau tunangan Fem..” jawab Lara.

“WHAAATTTTT!? sama Gray?” Tanya Femmy.

“Bukan, rencana nya sih sama Pangeran Harry..” jawab Lara asal.

“HAHAHAHAHA.. lucu lo.. Tapi serius Ra, gue nggak nyangka aja loh. Gue kira Gray itu bukan tipe cowok yang ready untuk berkomitmen, malah gue dari dulu terus menebak kapan lo akan mutusin Gray karena hubungan lo nggak naik tingkat..” kata Femmy sambil berhaha-hihihi

“Gak sopan, kayak hubungan lo udah sampe mana aja…” jawab Lara gemas.

“hahahaha.. maap yaa, tenang pokoknya gue dateng.” janji Femmy “yang lain udah pada tahu?”

“belum, nanti deh paling sabtu depan gue ke rumah Indy sama Gitta. Jangan ember lo ya..” ancam Lara

“siap Ndoro..” kata Femmy.

Lara memang harus mewanti-wanti Femmy karena kalau tidak begitu maka bisa dipastikan Femmy akan membocorkan berita ini, sementara Lara ingin mengejutkan teman-temannya yang lain.

Setelah berpamitan dengan Femmy, Lara langsung menuju tempat parkir kemudian segera meluncur ke Kampus Flo karena Flo minta diantar ke rumah temannya yang jauh sekali.

* * * *

Pada saat hari H semua berjalan sempurna. Acara mungkin hanya dihadiri oleh 50 orang yang semuanya adalah keluarga dari Lara dan Gray. Ayah Gray ditemani Kakak perempuannya yang bernama Prita karena Ibu Gray memang sudah lama wafat. Malam itu Gray menggunakan Stelan jas berwarna hitam dengan kemeja berwarna cokelat. rambutnya diberi gel rapi sekali. Sementara Lara menggunakan kebaya simple beserta kain sarung batik. Make up yang minimalis dan rambut disanggul modern. Sangat simple mengingat acara malam itu juga simple. kalau terlalu heboh bisa-bisa dia dikira sinden OVJ.

Sepanjang acara Gray terus menerus tersenyum. Nampak dia bahagia sekali karena bisa sampai ke titik ini. Ini baru ke 5 kalinya Lara bertemu Ayah Gray lagi-lagi karena jarak. Untunglah sekarang karena Lara di Bandung, dia bisa menemui Keluarga Gray lebih sering dan menjadi lebih akrab. Kalau Gray tampak tenang, sepanjang hari Lara terlihat gugup bahkan Lara sempat panas dingin.

Semua prosesi berjalan lancar, mulai dari sambutan, pesan dan kesan, tukar cincin sampai makan-makan. Akhirnya setelah waktu menunjukkan pukul 10 malam, semua tamu sudah pulang. Tinggalah Ayah Gray, Prita dan suaminya Obi juga 2 orang paman Gray ditambah keluarga inti Lara mereka mengobrol dengan akrab sementara Gray dan Lara tinggal di ruang tamu sambil menikmati pudding cokelat buatan Mama dan makanan-makanan kecil disitu.

“Gimana perasaannya Nong?” Tanya Gray

“Lega.. Hahahahaha.. aku nervous banget tadi ya ampuuun..” jawab Lara.

“Norak..” Kata Gray sambil menyuapkan pudding cokelatnya.

“Eh tapi aku seneng loh Gray beneran deh. Aku siap berkomitmen dan siap menghadapi apapun kedepannya..” Kata Lara, matanya berbinar.

“naaahhh gitu donk! semangat lagi! Aku udah lama banget nggak liat kamu ‘sehidup’ ini..”

Lara tidak menjawab dia hanya mencubit lengan Gray sekuat tenaga yang diiringi ringisan dari Gray

“Nah mulai sekarang anggap ini langkah pertama kamu untuk move on. Mulai sekarang kamu harus janji sama diri kamu sendiri kalau kamu akan melakukan apa yang kamu sukai. Kamu nggak usah menghiraukan tentang uang lagi. Tabungan kamu masih cukup kalau nggak kamu bagi-bagiin di tiap stopan, lagipula masih ada aku. Kalau kamu bilang, Kamu harus menghasilkan uang, yaudah hasilkan uang dari apa yang kamu suka.”kata Gray.

Lara menyimak kata-kata Gray yang panjang lebar itu sambil menebak-nebak apa yang dimaksud oleh Gray. Lara adalah tipe orang yang text book sekali, kalau psikotes bagian tebak gambar dia pasti mendapat nilai yang sangat rendah.

“sekarang aku tanya sama kamu, Apa hal yang paling kamu sukai?”

“pasar,masak,lari..” jawab Lara cepat

“diantara 3 hal itu apa yang menurut kamu bisa dijadiin uang?”

“ya masak lah.. masa pasar, bikin pasar tradisional kali” jawab Lara sewot.

“Yaudah, kenapa kamu ga jual hasil masakan kamu? catering atau bikin restoran maybe?” tanya Gray

Lara diam. Dia bukan tipe orang yang gemar berjudi. Mempertaruhkan semuanya untuk sesuatu yang belum pasti. Dulu ketika dia masih menjadi seorang manager, meskipun tugasnya mengambil keputusan tapi semuanya selalu dibicarakan terlebih dahulu dengan atasannya, dan semua keputusan-keputusannya berdasarkan apa yang sudah dia pelajari. Tapi utnuk berbisnis? BIG NO..NO..

“kamu nggak excited?” tanya Gray

“bukan, bukannya gitu. Aku gak berani aja. Coba kamu pikir berapa banyak itu modal yang dibutuhkan sama kita kalau mau bikin restoran. Belum sewa tempat, belum interior nya, belum bayar pegawai.. too risky” kata Lara ciut.

“kamu takut uang kamu habis?” cecar Gray.

“bukan gitu..” kata Lara berbisik.

“okelah kalau gitu, gini aja Nong, ini tuh proyek serius kan ya, kita ga boleh asal sewa tempat tapi ga direncanain mateng-mateng. kalau kamu masih takut dengan modal, ada aku. Kalau ternyata masih kurang, kita bisa pinjem ke Bank dulu yah. biar kamu lebih semangat kalau ada tanggung jawab untuk bayar hutang.”

Lara diam tidak menjawab apa-apa. Di satu sisi dia tergiur sekali untuk membuka restoran. Membayangkan semua orang akan makan hidangan yang resepnya dia buat sendiri dan mereka menikmatinya, akan menjadi sebuah kebanggan tersendiri baginya nanti. Tapi dia takut kalau akhirnya dia terlilit hutang.

“Lara, kalau hidup kamu tanpa resiko dan kamu hanya tinggal di zona aman kamu selama-lama nya, kamu nggak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau. Ya kebahagiaan, ya uang, ya aktualisasi diri. Semua butuh usaha dan semua itu pasti ada resiko nya..”

benar juga apa kata Gray, semua yang dia inginkan sekarang pasti beresiko. Dia tidak mau hanya menjadi seorang anak yang kerjaanya menghabiskan uang orangtua dan pacarnya tanpa tahu tujuan hidupnya kemana. Lagipula umurnya sekarang sudah hampir 25 tahun. Dia harus mulai mandiri dan harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri. Yang terpenting dia harus bisa bangkit setelah merasa terpuruk akibat meninggalkan pekerjaannya.

“janji ya, kamu harus ada di samping aku terus..” Ujar Lara.

Gray tersenyum lalu mengangguk .

“As Always your majesty..”

……. Bersambung

Advertisements

4 thoughts on “Unfinished Love (part4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s