Fiction Story · pikiran2saya · Unfinished Love

Unfinished Love (part3)

(click here and Read Unfinished Love part 2)

“Nong, Gray jadi kesini sore ini?” Tanya Mama sambil mengupas bawang di dapur.

“Kalau udah ngomong sama Mama sih kayaknya jadi” jawab Lara.

“Kamu jemput dia?” Tanya Mama.

“Iyalah Ma, kalau nggak dijemput bisa-bisa bakal terjadi Bandung Lautan Api part 2..” Jawa Lara.

Mama tertawa terbahak-bahak. Mama sangat menyukai Gray, itu bisa terlihat jelas di mata Mama ketika membicarakan Gray atau sedang mengobrol dengan Gray. Mama tahu betul meskipun Lara dan Gray berjauh-jauhan, Gray sangat melindungi Lara selama ini. Gray membuat Lara bahagia. Gray membuat Lara kembali ceria setelah kelulusan kemudian Lara “kabur” ke Sulawesi. Setelah 6 bulan tinggal disana, Lara sudah bisa kembali menceritakan kegiatannya dengan semangatnya yang baru. Ternyata alasannya adalah Gray. Tapi sampai saat ini Mama masih belum tau alasan kenapa dulu Lara “kabur”.

Pukul 4 tepat, Lara sudah sampai di stasiun Bandung. Sebenarnya Lara sendiri bingung, disaat sudah ada Travel yang jelas-jelas lebih cepat, Gray masih lebih memilih Kereta Api. Selain hal ini, masih banyak keanehan-keanehan Gray lainnya yang hingga kini tidak Lara mengerti.

Dari peron, Lara bisa melihat Gray dengan jelas. Dia memberikan cengiran lebar dan dia melambaikan tangannya kepada Lara. Setiap bertemu Gray, hati Lara selalu berdetak lebih kencang. Mungkin ini adalah seni Dari Long Distance Relationship, perasaannya selalu sama dengan ketika pertama kali bertemu. Lara menghampiri Gray dengan bersemangat. Gray yang saat itu memakai kaos berwarna biru putih dan celana jeans biru dongker membuat Gray yang berkulit agak gelap terlihat bersih sekali. Badannya sekarang sedikit berisi daripada 6 bulan yang lalu. tidak sekerempeng dulu.

“kenapa ngeliatin mulu? aku tau aku ganteng..” Gray mengacak-acak poni Lara

“udah..udah.. kelakuaannnnn.. udah 27 tahun juga ih” protes Lara

Mereka kemudian berjalan ke parkiran mendekati mobil Lara, Salah satu keanehan Gray lagi adalah dia lebih suka naik kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Untuk kerja masih oke lah naik kendaraan pribadi, tapi kalau sedang berlibur begini apa asyiknya naik kendaraan pribadi? pikir Gray. Pernah suatu ketika saat pertama kali ke Bandung, Gray bersikeras ingin naik becak dari stasiun ke Rumah Lara, sementara Rumah Lara di daerah Setiabudhi. Bukan hanya jauh, tapi jalanannya juga menanjak, mana ada tukang becak yang mau menarik mereka berdua. Gray bersikeras dan tidak percaya dia mengira Lara sengaja melakukan itu karena Lara ingin naik Taksi. Akhirnya mereka naik taksi diwarnai dengan aksi diam seribu bahasa dari Gray. Namun sampai di rumah Lara, Gray langsung nyengir kuda. Kini giliran Lara yang manyun.

“Maaf yah, aku kira jalanannya ngga sejauh dan se-nanjak ini..” Kata Gray saat itu.

“Liat sendiri kan kamu, kalau kita naik becak kita bukan cuma mau bikin betis Mang becak nya meletus tapi Mang Becak nya udah keburu mati di jalan..” Ujar Lara sewot. Gray tersenyum manis lalu mengacak-acak poni Lara lalu mencium pipinya.

“maaf ya Nong..” Dan seketika itu Lara memaafkan Gray lagi. Kalah

Malam itu di Meja makan Lara selain ada Mama, Papa, Flo adik Lara ada tambahan anggota yaitu Gray. Mama memasak masakan favorit Gray, yaitu Ayam suwir dan sambal Goreng kentang. Gray makan dengan lahapnya. Obrolan di meja makan itu berkisar antara bagaimana keadaan Gray, kesibukan, pekerjaan, acara TV nya dan apa yang akan Gray lakukan setelah ini. Papa Lara adalah orang yang paling kritis yang pernah Lara kenal, untunglah Gray yang sering travelling dan gemar membaca selalu bisa menjawab semua pertanyaan Papa.

“Nginep dimana malam ini Gray?” Tanya Mama.

“Kayaknya di kosan temen, tante. Abis telat booking hotel, yang daerah sini udah fully book semua..” Jawab Gray.

“Terus kamu kesini ada acara apa? Sengaja main? Atau ada urusan kantor?” Tanya Papa

“Sengaja kesini Oom, Jadi Gray ada rencana untuk minta izin oom sama tante untuk ngajak Lara tunangan..” Jawab Gray dingin, santai, bahkan sambil menyiapkan sendok yang kini sudah penuh dengan nasi dan lauknya yang siap dia suapkan.

“Uhukk..Uhukk..” Lara tiba-tiba tersedak, Saluran pernafasannya bekerja tidak sinkron dengan tenggorokannya saat mendengarkan kabar mengejutkan itu. Nafasnya tiba-tiba tercekat ketika dia hendak menelan makan malamnya. Ini benar-benar diluar dugaan.

Gray yang duduk di samping nya dengan tenang menyodorkan air putih sambil menepuk-nepuk punggung Lara. Flo di seberang meja terlihat cekikikan melihat tampang Lara yang masih shock.

Lara jelas shock karena Gray tidak pernah memberitahukan tentang masalah ini kepadanya. Bahkan Lara sendiri tidak yakin kalau Gray akan mengajaknya ke tingkat hubungan yang lebih serius karena Gray dan Lara tidak pernah sekalipun membahas masalah ini. Apalagi Melihat gelagat Gray yang begitu mencintai pekerjaannya yang selalu keliling dari satu kota ke kota lain membuat Lara yakin kalau dia terus bersama Gray dia akan menjadi perawan tua, karena Gray belum siap berkomitmen dan masih suka bersenang-senang. Dan Lara salah, untuk kesekian kalinya.

“Gimana kira-kira Oom? Apa saya dikasih izin?” Tanya Gray

“Kalau Oom sih terserah anaknya aja, kalian udh sama-sama dewasa dan kalian sendiri juga yang jalanin..” Jawab Papa bijak.

“Kalau Lara sih udah pasti mau Oom.. Hahaha..” Canda Gray sambil menyenggol lengan Lara yang masih belum bisa mengatakan apa-apa.

Semua orang di meja tertawa, kecuali Lara. Pikiran Lara kembali kalut, antara bingung dan bahagia.

“sok tahu..” Jawab Lara sambil membalas senggolan tangan Gray.

* * * * * *

Pukul 8 lebih 15 menit setelah makan malam dan sesi ramah-tamah selesai, Lara dan Gray duduk di Bale-bale di halaman depan rumahnya. Udara malam itu cukup dingin, namun rasanya udara sedingin itu bisa sedikit menyejukkan pikiran Lara yang sekarang sedang panas-panasnya karena tingkah laku Gray.

“Gray kenapa sih kamu suka banget nyiksa aku..” Kata Lara membuka percakapan.

“Nyiksa apa?” Tanya Gray sambil memainkan Handphone nya.

“Tadi waktu makan malam..” Jawab Lara ketus

“Ya ampun Nong, keselek segitu doang ga akan bikin kamu mati. Lagian kalau kamu sampe hampir mati juga aku dulu pernah ikut PMR kok jadi tau gimana cara pertolongan pertama pada orang keselek..” Ujar Gray.

“Astagaaaaa… Kok aneh yaaaa gue bisa tahan 4 tahun sama orang kayak gini..” Lara mengerang.

“Hahahaha.. Nong.. Nong santaaaii.. Kenapa sih kamu kayaknya sensi banget sejak pulang kesini. Bikin kamu jadi sensian gini bukan rencana aku loh setelah bikin kamu resign..” Kata Gray.

“rencana..rencana.. rencanaaa aja yang kamu omongin, kamu bikin rencana buat diri kamu sendiri bukan buat kita. Kamu terus-terusan bikin rencana sementara aku sendiri gak tahu apa yang mau kamu lakuin. Ini tuh tentang kamu dan aku loh bukan tentang kamu doang” Akhirnya amarah Lara terlepaskan semua.

Gray menghela nafas panjang. Dia menaruh handphone yang sejak tadi tidak lepas dari tangannya di sis kirinya. Gray menatap Lara begitu dalam. Tatapan seperti inilah yang sering membuat Lara meleleh. Gray yang berbadan tegap dengan kulit kecokelatan terbakar matahari karena pekerjaannya banyak di lapangan membuat Gray tampak sangat ‘laki-laki’ apalagi potongan rambut nya yang baru semi mohawk dengan bagian atas yang tidak terlalu gondrong dan bagian samping yang tidak terlalu botak membuat Gray cukup Fresh namun tidak terlihat urakan.

“Lara, aku sayang sama kamu..” Kata Gray perlahan.

DEG! jantung Lara serasa berhenti, rasanya seperti anak SMP yang baru ditembak oleh kakak kelas idamannya. Gray jarang sekali mengatakan hal-hal manis seperti ini sehingga kalau ada momentum yang romantis begini rasanya Lara ingin langsung menghampur dan menggali lubang sedalam mungkin. Malu.

“Aku ingin lebih serius sama kamu. Kamu juga tahu umur kamu dan aku sudah bukan ABG lagi, sudah saatnya kita melangkah ke tingkat yang lebih tinggi..” Jelas Gray

“Tapi kamu kan bisa konfirmasi dulu sama aku Gray” Kata Lara pelan.

“konfirmasi sama kamu untuk apa? untuk menerima penolakkan dan kemudian kamu bilang ‘nanti..’ ‘nanti..’ ‘nanti..’ Aku tahu kamu takut mengambil langkah seperti ini. Aku kenal kamu sekali Nong.. Aku nggak mau kalau kita cuma wasting time, pacaran ala ABG yang nggak jelas tujuannya kemana..

Kamu sendiri juga tahu kan selama 4 tahun kita pacaran intensitas pertemuan kita kayak gimana coba? Ngga lebih dari satu bulan kalau diakumulasikan Nong. Kamu sama aku begitu fokus sama pekerjaan kita masing-masing. Aku cuma pengen selalu ada di samping kamu. Menyemangati kamu, meyakinkan kamu dalam setiap langkah yang kamu ambil. Dan bikin kamu menjadi seorang yang pemberani. Kamu gak usah takut Nong..” Kata Gray panjang lebar.

Lara adalah seorang wanita yang air matanya sangat dangkal, sehingga kalau ada momen sedih atau sedikit mengharukan, Lara akan langsung meneteskan air mata. Kali ini air mata Lara langsung meleleh dan dia langsung memeluk Gray.

“Aku takut, sekarang aku gak punya pekerjaan..” bisik Lara.

“Itu tugas aku Nong mencari nafkah untuk keluarga. Mungkin penghasilan aku nggak sebanyak gaji kamu waktu kerja di Makassar, tapi aku janji kalau aku bakal menuhin semua kebutuhan kamu.” kata Gray sambil mengusap-usap kepala Lara.

“Tapi aku juga ga mau membiarkan kamu banting tulang sendiri, aku pengen bantu kamu nanti.. Aku tetep pengen jadi wanita yang mandiri Gray, kerja bukan cuma untuk cari uang, tapi aku pengen punya nilai..”

“nilai di mata siapa? Kamu sudah tak ternilai di mata aku Nong..”

“Kamu pernah bilang tentang aktualisasi diri kan, I feel alive when I do something apalagi kalau bermanfaat dan bikin orang-orang puas..” Kata Lara

“Iya.. Iya, We’ll Find a way yah. Kita akan berkomitmen nanti. Yang penting sekarang kamu harus setuju untuk menata masa depan kamu dengan aku. Cuma aku.”

Lara mengangguk pelan. Kali ini untuk kesekian kali nya dia harus percaya kepada Gray, hampir semua keputusan besar yang diambilnya dalam rentang 4 tahun ini selalu ada campur tangan Gray. Dia tidak boleh takut lagi karena akan selalu ada Gray di sisinya mulai sekarang dan selamanya.

……. Bersambung

Advertisements

4 thoughts on “Unfinished Love (part3)

  1. Ini saya yang salah baca atau memang keliru, di bagian pertama, mereka udah pacaran selama 3 tahun “Itulah Gray, lelaki yang sudah 3 tahun dipacari oleh Lara, dingin namun di dalam hatinya penuh kasih sayang.”, tapi kok di sini jadi 4 tahun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s