Fiction Story · pikiran2saya · Unfinished Love

Unfinished Love (part2)

(click here and Read Unfinished Love part 1)

Ternyata benar, selama 2 hari + 22 jam Gray sama sekali tidak menghubungi Lara Dan baru sekarang Gray menghubungi Lara Via telepon di pagi buta. Sementara mata Lara masih sepet, Gray sudah segar bugar, Lara tahu kalau Gray sudah mandi. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Mandi pagi atau mandi subuh adalah kewajiban baginya. Jadi tidak heran kalau sekarang Gray memaksa Lara untuk segera bangun dan bangkit dari tempat tidurnya.

“Tumben Nong, dikasih tau 2 hari jangan ngehubungin bener-bener ga ngehubungin..” Kata Gray tenang

“Aku ga punya waktu buat sakit hati. Kemarin aku cuma menjaga hati aku dari kamu kok. Supaya ga marah-marah..” Jawab Lara kesal. Siapa yang tidak kesal di telepon pagi-pagi buta lalu langsung di tantangin begitu.

“Ciyeee.. Pengangguran nih sensi amat…” Goda Gray.

Lara tidak menjawab. Dia menarik selimutnya kembali. Kekurangan kegiatan dan kekurangan olahraga membuatnya sulit tertidur di malam hari. Tadi malam dia baru bisa tidur jam 1 pagi dan sekarang sudah harus menghadapi Gray yang sedang “lucu-lucunya”. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah tidur yang tenang.

“Daripada kamu ga ada kegiatan gitu, aku tau apa yang harus kamu lakukan..”

“Aku lagi ada kegiatan Gray, aku lagi tidur..” potong Lara gendok

“Ihhh lucu dehhh.. Nong daripada kusut-kusutan gitu coba kamu telepon temen-temen kamu. Ajak mereka hang out, besok weekend kan. Temen-temen kamu yg kerja di Jakarta juga pasti pada pulang. Kamu harus lebih cheer up, sekarang kamu udah bebas melakukan apa yang kamu sukai loh. Kenapa nggak mulai lagi dari lari pagi di sabuga 22 keliling seperti dulu. Lari, temen-temen, pasar tradisional dan masak. Inget. 4 hal itu yang bikin kamu bener-bener hidup..”

Lara tertegun. Penjelasan panjang Gray tadi berhasil membuat Lara terbangun. Lara benci karena Gray selalu benar tentang segalanya. Lara benci ketika Gray mengungkapkan kejujuran. Lara benci karena dia tidak bisa seperti Gray dan akhirnya hanya bisa bersembunyi dibawah ketiak Gray.

“Kenapa sih kamu selalu bener Gray?” Ucap Lara pelan sekali.

“Udah ga usah diingat-ingat. Bisa bikin kamu merasa terintimidasi..” Kata Gray besar kepala.

“Tuuuuuutttt~” Tanpa kata-kata perpisahan Lara langsung menutup telepon dari Gray. Pagi itu Gray benar-benar membuat Lara muak. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Mengambil kaos oblong dan celana olahraga plus kaos kaki. Sepatu yang sejak Lara tiba di Bandung masih di dalam dus, dia keluarkan kemudian dia pakai.

Lara menatap dirinya sendiri di dalam cermin. Kemudian dia mengikat rambutnya. Sudah lama sekali dia tidak lari seserius ini. Selama di Makassar dia hanya sempat fitness sekali seminggu dan ikutan Car Free Day di daerah Losari yang alih-alih menjadi sehat, malah berujung wisata kuliner makanan tak sehat namun nikmat.

“Hati-hati, pengangguran itu sensitif Gray..” Kata Lara berbisik kepada dirinya di dalam cermin. Akhirnya dia geli sendiri kemudian langsung beranjak keluar kamar dan segera bergegas ke Track Lari Sasana Budaya Ganesha.

* * * * *

“To : Gray
Gray, aku ikutin saran km utk ketemu tmn2 aku, sore ini di PVJ, Jadi sebaiknya km juga memenuhi janji kamu utk nemuin aku paling tdk seminggu sekali. Aku udah hampir 2 minggu disini dan km msh blm nongol..”

Parijs Van Java di Akhir pekan memang sangat tidak ramah terhadap pengguna smart phone, sulit sekali mendapatkan sinyal untuk sekedar berinternet ria atau chatting. Jadi akhirnya sms atau telepon lah satu-satunya cara untuk menghubungi orang-orang di kontak orang-orang. Dan itulah sms Lara untuk Gray yang isinya kurang lebih ancaman.

From : Gray
sabar ya. Abang lagi cari uang segede pintu disini. So take your time, kamu pasti tidak akan menyesal udah mengikuti saran aku.”

Jawab Gray singkat. Untunglah setelah Lara mendapatkan sms itu ketiga sahabatnya semasa SMA datang. Ada Femmy, Indy dan Gita. rasa bahagia langsung membuncah dari dada Lara. Sudah lama sekali Lara tidak menemui ketiga sahabatnya ini terakhir adalah Lebaran 2 tahun lalu, itupun sebentar sekali karena Lara harus ke Majalengka untuk bersilaturahmi dengan keluarganya yang lain.

Dimulai denga bertukar kabar, lalu mereka mulai menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupan mereka selama mereka tidak bertemu hampir 2 tahun lamanya. Suara tawa mereka tak jarang membuat beberapa meja menengok dengan tatapan sinis. Tapi mereka tidak peduli, karena mereka sangat menikmati pertemuan ini. Mereka yang masih berusia 24-25 tahun seperti kembali menjadi Anak SMA yang masih 16 tahun. Lara pun kini tidak memedulikan kalau dia sekarang adalah seorang pengangguran. Sampai Femmy menanyakan hal itu.

“Ra, elo serius udh resign?” Tanya Femmy.

Lara mengangguk santai sambil mengunyah nasi dan ayam kremes yang dia pesan sebagai menu makan siangnya.

“Gue kira temen-temen di facebook lo bercanda loh waktu dadah-dadahan gitu.” Ucapan Gitta diamini oleh Indy.

“Serius kok itu. Makanya gue sekarang bisa ketemu sama elo-elo juga.” Jawab Lara asal.

“Bukannya gitu Ra, abisnya kan elo tuh kayaknya cinta banget sama kerjaan lo, gile aja, dari sejak lulus udh kerja disitu dan ga pindah-pindah, kebayang atasan lo udh percaya nya kayak apa sama lo. Dan elo dengan entengnya resign..” Kata Gitta..

Nggak enteng kok itu, butuh waktu setahun buat memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu, jawab Lara dalam hati.

“Iya sih, udah gape banget gue sama semen.. Hahaha.. Tapi yaudah lah, lagian nyari apa juga gue disana. Keluarga gue disini. Pacar gue juga di pulau Jawa, kerjaan gue disana cuma kantor-kosan doank..” Jelas Lara

“Tapi penghasilan berbanding lurus donk sama pengorbanan lo..” Kata Femmy

“Bukan cuma Lurus Fem, tapi kurva nya meningkat sangat tajam.. Hahahahaha” Goda Gita..

“Bencong lo semua..” Kata Lara gendok.

Lara kembali larut dalam lamunannya. Suara tawa dan obrolan sahabat-sahabatnya terdengar samar-samar. Dia mengingat kembali tiap kejadian yang dia alami selama di Sulawesi. Berat sekali meninggalkan kantor beserta pekerjaan-pekerjaan itu. Semua orang tahu kalau Gaji Lara di perusahaan itu sangat bombastis, Lara seorang yang rajin, innovatif dan tidak banyak Tingkah Karirnya langsung melesat dalam waktu 4 tahun. Tapi gaji-gaji itu tidak membuat Lara puas karena sebenarnya bukan itulah yang dia inginkan. Ada sebuah ruang hampa di hidupnya yang Lara sendiri tidak tahu harus dia isi dengan apa.

Lara kembali tidak yakin dengan pilihannya. Dia merasa sangat aman bekerja di perusahaannya dulu. Memang benar Lara tidak mencintai pekerjaannya, tapi mendapatkan gaji setiap bulan dan mengirimi orangtua serta adiknya setiap bulan adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Dia sangat takut setelah ini, beberapa bulan setelah dia resign semua tabungannya habis lalu dia tidak bisa membahagiakan orangtua dan adiknya lagi. Mungkin benar kata Gray kalau dia terlalu lama berada di zona aman namun tanpa gairah apa-apa.

Suara bising teman-temannya larut bersama suara obrolan tamu-tamu di Kafe siang itu. Dia tidak menyimak sama sekali. Semua pikirannya larut bersamaan. Lara hanya menyuap dan menyuap makan siangnya sementara matanya lurus menatap meja dan makannya.

“Woooiii laper neng, makannya sambil diem aja..” Ujar Gita sambil menepuk bahu Lara pelan, namun cukup membuat Lara kaget.

“kanget wooii.. ” jawab Lara “ampir aja keselek nih..”

“Kepikiran si Gray terus nih dia, kesian padahal udah satu pulau tapi sampe hari gini masih belum ketemu..” Kata-kata Femmy barusan berhasil membuat tawa membahana lagi diantara mereka.

“Ah, gak tau deh gue kalau sama Gray, dia itu kayak Jelangkung soalnya. Kalau butuh dia ga pernah ada, tapi giliran gue pengen sendiri suka tiba-tiba dateng..” Jelas Lara.

“Hahaha.. bisa aja lo Ra, cinta ga lo sama dia? ngomongnya gitu amat..” Ujar Indy

“Hah, Ya cinta lah gue… Gila aja selama 4 tahun kalau ga cinta apa tuh namanya sampe gue tahan banget sama kelakuan dia yang ajaib gitu..” jawab Lara.

“Eh, ngomong-ngomong cinta, kalian inget ga sama cinta pertamanya Lara? Si Damma? Tinggi, item terus wangi itu..” ucap Femmy.

Semua mengangguk, Lara juga. Tidak mungkin Lara tidak ingat dengan seseorang yang pernah tinggal di dalam hatinya selama 3 tahun penuh dan membuat Lara tidak pernah membuka hatinya untuk siapaun juga. Dia hanya menunggu Damma untuk mengatakan bahwa Damma juga menyukainya, Dan itu tidak pernah terjadi bahkan hingga kini. Setelah hampir 8 tahun Lara tidak pernah tahu tentang keberadaan Dama, Bahkan di dunia Facebook atau Twitter.

“kenapa emangnya dia?” Tanya Gitta.

“Dia ternyata satu kantor sama gue. Parah banget gue baru tahu, katanya sih dia kerja disitu udah setahun. gue baru ‘ngeh aja minggu lalu pas outting, semua divisi kan ikut. Tapi emang sih dia bagian lapangan makanya gue gak pernah liat dia..” Jelas Femmy.

“Hahaha, kayak gimana dia sekarang?” tanya Lara

“sama aja item, tinggi tapi agak gemukan sekarang ga sekurus waktu SMA..” jawab Femmy

beberapa saat kemudian Femmy dan Gitta pamit ke WC, Lara dan Indy mengambil handphone masing-masing mengecek apakah ada sms atau notifikasi lain yang masuk, karena mereka berempat tidak menghiraukan Handphone mereka sama sekali setelah berjam-jam ngobrol.

“Ra..” panggil Indy pelan.

“Yess…” jawab Lara sementara matanya tidak lepas menatap layar Handphone nya.

“lo gak apa-apa kan?” tanya Indy

DEG! jantung Lara serasa berhenti tiba-tiba, nafasnya tercekat namun dia berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mantan teman sebangku nya ini pasti sedang mengira-ngira bagaimana perasaan Lara sekarang. Indy-lah yang paling tahu tentang Lara, bahkan ketika mereka semua sudah lulus SMA dan sibuk dengan dunia kuliah masing-masing, Indy tetap menyediakan kupingnya untuk Lara curhati setiap Malam. Bahkan tak bosan-bosannya Indy mendengarkan tangisan Lara ketika Lara diberi tahu Damma kalau Damma baru saja punya pacar. Indy tahu Lara tidak baik-baik saja.

‘apa-apa‘ apanya?” Lara pura-pura bodoh.

“Yaudah bagus deh kalau lo nggak apa-apa..” Kata Indy tidak mau memperpanjang pembahasan tentang Damma ini, karena Indy tahu dia akan membuka luka hati Lara. Karena jika itu terjadi Indy tahu kalau dia tidak bisa menemani Lara seperti dulu, karena sudah terlalu banyak yang berubah dari mereka. Termasuk kedekatan mereka.

Lara memainkan Handphone nya, mata nya asik menatap layar handphone nya dan jemarinya dengan lincah mengetik keypad Handphone nya sementara pikirannya melayang-layang. Dia berusaha senatural mungkin, karena dia tahu kalau Indy sedang memperhatiaknnya

‘Damma.. ya Tuhan’ Lara menghela nafas panjang, sementara sejak tadi Indy memperhatikan Lara dari sudut matanya.

……. Bersambung

Advertisements

One thought on “Unfinished Love (part2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s