Fiction Story · pikiran2saya · Unfinished Love

Unfinished Love (part1)

Suasana kota Bandung pagi hari di bulan Desember, dingin dan mendung. Sudah 2 hari ini hujan tidak berhenti turun sebentar gerimis lalu lebat, lalu gerimis lagi lalu lebat, dan pagi ini giliran gerimis. Lara membuka jendela kamarnya dan udara pagi yang menusuk masuk melalui teralis jendela kamarnya yg membentuk bunga beserta dahan-dahannya. Wangi hujan bercampur tanah tercium begitu tajam, membuat Lara yang baru bangun langsung segar seketika. Lara memandangi tetesan-tetesan hujan yang menjatuhi rumput-rumput jepang di halaman belakang rumahnya.

Baru dua hari dia pulang ke rumahnya lagi setelah hampir empat tahun dia tinggal di Sulawesi dan hanya sempat pulang untuk berlebaran saja, Lara adalah tipe workaholic akut, dan keputusannya untuk resign kali ini benar-benar keputusan terbesar dalam hidupnya. Membuat keluarganya shock setengah mati, karena dulu untuk menyempatkan pulang selain di waktu lebaran saja Lara tidak mau, waktunya terlalu sempit dan banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan begitu katanya. Dan sekarang dia kembali ke rumahnya tanpa pekerjaan dan belum tahu setelah ini apa yang hendak dia lakukan.

“Nong udah bangun?” tanya Mama Lara memanggil nama kesayangannya.

“Udah ma, kenapa?” Lara balik bertanya

“Ke pasar yuk nong, udah lama nih kita nggak hengot bareng..” ujar Mamanya sok gaul.

Tanpa harus diminta dua kali, Lara langsung melompat dari tempatnya berdiri, menyambar jaketnya dan sekarang dia sudah berada di sebelah Mama, menarik lengan Mama untuk bergegeas ke pintu depan. tidak ada hal lain yang dia sukai selain pasar dan track lari. Mama akhirnya hanya bisa menuruti semangat anaknya yang terlalu menggebu-gebu itu. Dia mengambil dompet dan payung untuk melindungi mereka berdua dari hujan yang masih belum berhenti juga. Dan kini mereka berdua berjalan keluar kompleks sambil berpayungan berdua. Mesra.

“Udah lama kita ga kayak gini ya Ma, ” Ujar Lara sambil cekikikan.

“Kamu sih abisnya susah banget diajakin pulang. Pikirannya kerjaaaaan terus. Emangnya betah banget ya di Makassar?” Tanya Mama

“Ngga gitu juga sih Ma, ya males aja ma, capek kalau pulang tuh, kerjaan Lara banyak banget. Kalau pulang tanggung..” Jawab Lara

“selaluuu aja alasannya kayak gitu..” ucap Mama.

“yeee fakta kok”

“terus sekarang kenapa memutuskan untuk bener-bener berhenti? Mama curiganya kamu mau ambil beasiswa ke Luar Negeri atau kerja di  luar Negeri.. Haduh kalau kayak gitu bisa-bisa mama ketemu kamu cuma 10 tahun sekali alesannya nanti kerjaan, tugas.”

“HAHAHAHAHAH nggak kok maaaaa.. Tenang aja. Lagipula bagus kan itu, totalitas..”

“Idih.. Nah Terus kenapa?”

“nggak apa-apa, Lara udah merasa aja ini saatnya untuk pulang.. Ngga ada misi terselubung kok Ma, serius. kayak waktu Lara bilang sebelum resign sama Mama dan papa, Lara nggak terlibat hutang maupun aliran sesat. Hahahaha..” tawa Lara meledak lagi, menyisakan bibir mengkerut Mamanya.

* * * * *

Sore hari yang masih mendung namun tanpa hujan, Lara berbaring di atas tempat tidur ditemani handphonenya. Dia sedang chatting dengan pacarnya, Gray seorang produser acara yang berjudul “Jelajah Indonesia” di sebuah stasiun TV swasta. Profesi Gray inilah yang akhirnya membuat Lara jarang sekali bertemu Gray. Selain Gray harus keliling untuk mencari tempat yang pas untuk di masukkan ke acaranya, seumur hidup Gray juga dihabiskan di Jakarta. Masuk akal sekali bukan jika dalam satu tahun Lara betemu Gray  tidak sampai 4 kali setahun, apalagi dulu ketika Lara masih di Sulawesi.

Klaranda V : “Kamu harus bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi dalam hidup aku ini..”

Mahameska “Gray” S : “Tanggung jawab sebelah mana nya ya nong?”

Klaranda V : “Kamu bikin aku resign dari pekerjaan aku dan membuat aku sekarang cuma tidur-tiduran di tempat tidur. Padahal kamu sendiri juga kan tau, aku tuh sakit badan kalau ngga ada yang dikerjain..”

Mahameska “Gray” S : “Pokoknya kamu nggak akan nyesel nong. Belum ada seminggu kamu pulang ke rumah, biarkan dulu keluarga kamu melepas rindu sama kamu. Mereka udah terlalu lama kamu tinggal.. Aku juga. Kalau kamu di Bandung, aku pastiin kita bakal ketemu paling tidak seminggu sekali ya..”

Klaranda V : “So you better have a plan for us, or for me. Karena kalau nggak, aku mungkin udah pergi kesana dan cekik kamu. Aku nggak mau jadi beban negara dan beban keluarga aku dengan menjadi seorang pengangguran..”

Mahameska “Gray” S : “Alah drama, emangnya aku ngga tau isi rekening kamu ada segimana banyak. Sok-sok bilang jadi beban. Udah ah aku meeting dulu ya, kayaknya besok aku mau ke Lampung. 2 hari aja dan kayaknya bakal sibuk sekali. jadi sebaiknya kamu nggak BBM atau sms aku kalau gak mau sakit hati karena kemungkinan besar gak akan aku balas..”

Klaranda V : “.__.”

Itulah Gray, lelaki yang sudah 3 tahun dipacari oleh Lara, dingin namun di dalam hatinya penuh kasih sayang. Dia romantis dengan caranya sendiri, itu pikir Lara. Dan Lara yakin tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan Gray, Perjalanan Karir Lara selama 4 tahun di sebuah produsen Semen terbesar di Indonesia timur juga tidak lepas dari peran Gray. Gray lah yang paling bisa membuat Lara bangkit lagi ketika dia sudah menyerah dengan pekerjaannya dan merasa ingin kembali pulang.

Namun lain lagi dengan tahun lalu, Gray yang justru meyakinkan Lara untuk resign dan segera kembali ke rumahnya. Lara sang workaholic akut perlu satu tahun untuk memutuskan kalau dia harus berhenti dari pekerjaannya yang sudah dia jalani selama 4 tahun. Di usia 25 tahun dia adalah manager, wanita dan punya penghasilan dan bonus yang hampir sama dengan orang yang sudah mengabdi selama 15 tahun di perusahaan itu.

Lara kembali membayangkan kejadian setahun yang lalu saat Gray mengajaknya ke sebuah tenda pisang epe di pinggiran pantai losari. Gray yang saat itu ada tugas di Toraja sengaja pergi ke Makassar duluan karena ingin menemui Lara meskipun hanya 3 jam lamanya. Karena dia hanya punya waktu bebas 15 jam sementara waktu perjalanan toraja-makassar adalah 8 jam dan pagi hari nya dia harus sudah kembali ke Jakarta. Ini adalah salah satu ke romantisan Gray bagi Lara.

“Kamu harus berhenti Nong..” Gray menatapnya serius

Lara bingung, dia tidak tahu kemana arah pembicaraan Gray. Ini salah satu keahlian Gray juga, main tebak-tebakan. Jika Lara tidak mengerti maka dia akan semakin bahagia. Dan membuat Lara semakin bingung adalah kebahagiaan baginya. Bahagia itu sederhana bagi Gray.

“please kali ini jangan bikin aku bingung. mending langsung to the point karena kita nggak banyak waktu yah..”

“pekerjaan kamu. Kamu harus segera resign..”

“HUAHAHAHAHAHAHAHA.. ngomong opo tho nduk?” goda Lara, dia tahu pasti Gray sedang bercanda, pasti.

“aku bilang kamu harus berhenti dari pekerjaan kamu, pulang..”

Lara diam, dia tahu kalau kali ini Gray serius. Tawa nya berhenti seketika. Namun dia tidak tahu apa tujuan Gray mengatakan hal seperti itu tanpa sebab. Perasaan belakangan ini Lara tidak pernah ada masalah dengan pekerjaannya, baik dengan atasan, teman kerja atau pekerjaan-pekerjaannya yang menumpuk itu.

“kenapa?” tanya Lara. Dia tahu kalau Gray adalah seorang perencana yang andal, pasti ada sesuatu dibalik permintaan Gray ini.

“Aku tahu kamu tidak menikmati pekerjaan kamu ini Nong, Kamu kayak zombie sebenarnya. Datang ke kantor kerja selama 8 jam, terus kamu tambah lembur 4 jam, pekerjaan kamu selesai lalu kamu digaji. Dan itu terjadi berulang selama 4 tahun ini

Kamu merasa ga, apakah ada sedikiit aja aktualisasi dalam diri kamu? selain gaji kamu yang spektakuler itu. Lagipula aku juga tahu kok kamu ngga bangga dengan gaji kamu itu. Apalagi kamu tinggal disini, biaya hidup nya relatif murah dan kerjaan kamu cuma bolak-balik kantor-kosan aja…”

Lara terdiam mendengarkan penjelasan Gray sambil agak tersinggung karena dia sudah dikatai zombie.

“kamu tersinggung? kalau tersinggung berarti kamu sendiri juga tahu kalau kata-kata aku tadi bener. Aku cuma pengen membuka mata kamu aja kok Nong, semua pilihan kamu itu aku hargai. Aku cuma kasihan aja sama kamu tiap hari pulang jam 8 malem tanpa tahu apa yang kamu cari. Life is too short to do something that you don’t like. Kamu masih muda Nong..”

“kamu jahat Gray..”

Itu kata-kata terakhir Lara sebelum akhirnya Lara mendiamkan Gray selama seminggu, namun karena tidak tahan akhirnya Lara sendiri yang menghubungi Gray duluan. Lara selalu kalah oleh Gray..

……. Bersambung

Advertisements

13 thoughts on “Unfinished Love (part1)

      1. Nahh!! Bener ka! Aku ga kepikiran buat ngejelasin itu.. 😐
        Mudah2an nanti kl aku masukin di yang berikutnya nggak jadi awkward.. Btw makasih udh merhatiin, tar aku perbaiki 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s