curhatsampah

At A Random Place, This Stranger Has Changed Me..

Seperti yang pernah saya katakan, ternyata tidak mudah sekali menjadi seorang istri, sekaligus seorang anak, adik dan karyawan teladan *ceileh* .. Jujur, rasanya sulit sekali membagi perhatian kepada suami, pekerjaan dan beberapa tugas-tugas rumah dari Mamah saya.

Kalau begitu wanita adalah seorang multitasking sejati. Sudah kodratnya seperti itu. Saya harus bisa seperti itu. Itu hanyalah tugas saya sebagian kecil saja. Paling tidak untuk saat ini. Tahu tidak apa tugas terberat saya setelah ini? Bukan, bukan mengambil Kitab Suci ke Barat. Itu sudah dilakukan oleh biksu Tong Sam Cong dkk dan berhasil.. Tugas saya selanjutnya adalah menjadi seorang IBU. Yes.. Ibu, Mama, Mother, Mommy, Ambu, Indung, si Mbok or whatever you call it..

Memang sih hingga tulisan ini saya ketik di bebe saya, saya belum mendapatkan kabar apapun tentang kehadiran seorang Nia atau Fajar Junior. I’ve tested it, dan hasilnya negatif. Tanggapan saya dan Fajar yah biasa saja. Masih belum saatnya itu kata Fajar.

Kalau ditanya ingin punya anak atau tidak. Pasti donk jawabannya ingin. Jika pertanyaan berikutnya adalah ‘Kapan?’ Maka jawaban yg akan saya berikan adalah.. Diam dalam bahasa swahili. Karena kata Teteh Dewi seorang penulis tidak boleh diam seribu bahasa..

Saya bingung. Saya merasa tidak siap. Merasa tidak siap secara mental dan finansial. Ini adalah tugas berat yg harus saya emban. Mungkin lebih berat dari tugas mengambil kitab suci ke barat dan bertemu siluman-siluman aneh di perjalanan. Bagaimana beratnya? Abstrak. Ghaib. Karena saya belum pernah merasakannya.

Lalu muncullah pertanyaan bernada miring. Kalau tidak siap terus kenapa menikah? Yee saya kan tidak siap menjadi ibu bukan tidak siap menjadi seorang istri. Weeee..

Saya galau. Galau layaknya abg yang baru putus cinta.

Tapi kemudian saya kembali meyakinkan diri saya kembali. Ini adalah sebuah tugas mulia. Dan katanya fase inilah yang membuat kita (para perempuan) merasa lengkap menjadi perempuan seutuhnya, iya fase menjadi seorang ibu. #eaaaa

Sempat sih ada beberapa kalimat yang bagi saya sih sejujurnya tidak mengenakan. Tentang apakah saya sudah siap atau belum? Tentang masalah finansial Saya bahkan pembahasannya jauh ke masalah susu sampai pendidikan anak.. Ya awloohh kata-kata itu benar-benar tidak membuat saya merasa baikan. I feel more awful. Saya merasa semakin takut dan semakin tidak siap. Saya tahu mereka tidak sepenuhnya salah. Saya juga tahu kalau seorang anak nantinya harus diberikan makanan, penghidupan yang layak, sekolah yang layak dan kelak hidupnya harus lebih baik dari saya. Itu sudah kewajiban saya sebagai orangtua nantinya. Saya dan suami saya harus siap memberikan itu semua jika saya memang ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya….

Ketika saya merasa sangat terpojok dan terpuruk dalam waktu bersamaan. Saya bersyukur punya seorang suami yang selalu siap membesarkan hati saya. #eaaaaa.. Ketika saya meragukan diri saya sendiri lalu dia bilang “‘Kan semuanya juga ga ada yang langsung pinter. Kalau kita takut kapan siapnya..” Ehm jelas sekali seperti ketika saya takut untuk menikah.

Kemudian saya akhirnya menyadari, kalau Tuhan memberikan titipan berupa seorang anak, maka dia tidak akan memberikannya dan menelantarkannya. Tuhan sudah mempersiapkan segalanya. Dia menitipkan anak beserta rejekinya. Percayalah seorang anak tidak akan menyulitkan kita sama sekali, karena anak adalah rejeki bagi kita. It sounds cliche but it’s true..

“Tuhan itu kalau ngasih kita anak, dia udah ngasih sama rejeki-rejeki nya. Jadi tinggal tugas kita sebagai orangtua yang jemput rejeki nya.. Kamu ga usah takut, semua udah ada yang ngatur..” Begitu kata Fajar.

Saya ingat ketika saya sedang takut-takutnya menerima kenyataan bahwa saya sudah menikah kemudian saya akan-harus punya anak, saya dipertemukan dengan sesorang. He is a totally stranger, in a random place but he answer my galauness (baca : kegalauan). saya sangat bersyukur karena Tuhan masih memperhatikan saya dan tidak membiarkan saya tersesat..

Tanggal 14 Oktober ketika saya hendak mengadakan resepsi kedua di Makassar tanggal 16 Oktober, Saya bertemu dengan bapak ini di pesawa Merpati dengan Nomor penerbangan berapa saya lupa . Dari Jakarta Tujuan ke Makassar, Yang jelas saya ikut penerbangan pertama pukul 5 pagi. Saya duduk di seat untuk tiga orang. Fajar menempati seat yang dekat jendela, saya di tengah dan si bapak ini duduk tepat di sebelah kanan saya.

Kalau melihat dari perawakan bapak ini sudah wajar kalau saya merasa sangat tidak insecure. Bapak ini mempunyai tubuh yang besar, kulit yang gelap dan wajah yang tegas. Saya sudah takut kalau-kalau dia ini adalah pembajak pesawat. HAHAHAHA.. oke mungkin saya sudah harus mengurangi nonton film Hollywood sekarang.

Sepanjang perjalanan dia asik mendengarkan musik dari earphone nya, dan saya juga asik ngobrol dengan Fajar. tapi ketika Fajar sudah mulai tewas terkapar, saya pun jadi garing sendirian. Tidak ada bb, tidak ada majalah atau buku yang dengan tololnya saya simpan di atas kabin saya akhirnya cengo. Lalu si Bapak ini mulai mengajak saya bicara.

“Mau kemana dek?” Tanya si Bapak itu. Saat inilah saya mulai takut. Takut dia tiba-tiba menghipnotis saya lalu membuat saya membeberkan semua rahasia dalam hidup saya. *Oh maaf salah setting, Itu acara Uya Kuya* Intinya saya takut. maksudnya siapa sih jaman sekarang di dunia ini yang tidak takut disapa oleh seorang orang asing bertubuh besar dan muka seram seperti itu. Namun karena tidak ada pilihan lain dan saya sudah lulus Pelajaran PPKn dengan nilai outstanding maka saya harus mengamalkan nilai-nilai Budi Pekerti dengan menjawab pertanyaan bapak itu

“Ke Makassar Pak.. hehehe” Jawab saya garing

“Sama siapa aja? Banyakan ya kayaknya?” Ujar si Bapak yang kayaknya sih sudah sejak tadi memperhatikan ke-rempongan keluarga saya. dan saya juga awalnya tidak terlalu nyaman dengan ke-kepo-an dia *bahasanya mulai gaul*

“Iya, itu di kursi depan mamah saya dan uwak saya, sebelahnya Kakak saya sama pacarnya.. Bapak sendiri mau kemana?” Saya mulai ikut-ikutan Kepo.

“Saya mau ke Makassar, mau ketemu anak saya. dia Kuliah lagi ngerjain skripsi katanya butuh bimbingan saya dulu..” oww.. too much information ya pak. pikir saya saat itu. Kemudian saya Meng-Ooh-kan jawabannya .

“Adek orang Makassar?”

“Bukan Pak, suami saya yang orang Makassar, saya kesana mau ada acara resepsi disana, kemarin acara nikahannya udah di Bandung sih. hehehe” Kini sekarang saya yang ikut-ikutan too much information LOL

“ooh, jadi ini semua keluarga dibawa kesana ya..” Muka bapak-bapak itu tetap cool meskipun saya sudah tertawa garing. membuat saya semakin garing.

Itulah perkenalan singkat saya bersama si Bapak ini, saya tidak tahu namanya. Dia juga tidak mengetahui nama saya tapi saya dan dia bisa ngobrol hampir sepanjang sisa perjalanan saya. It’s kinda amazing for me. Ngobrol dengan seorang stranger yang pada akhirnya bisa melegakkan hati saya. Bukan suami saya, bukan Mama saya yang saat itu bisa membuat perasaan saya tenang 😀

Dia banyak menceritakan tentang dirinya sendiri. Saya tidak peduli karena saya senang mendengarkan kisahnya dan saya juga tidak perlu capek-capek menyiapkan cerita untuk saya bagikan. Dia menceritakan kalau dia tinggal di sebuah apartemen di Jakarta. Sendirian. Istrinya tinggal di Daerah Sulawesi manaa gitu saya lupa. Daerahnya sih cukup familiar, tapi saya lupa. Anaknya ada 3 orang. Yang pertama mungkin sebesar saya atau lebih tua, karena dia sedang skripsi sekarang. Dan adiknya baru masuk kuliah sementara yang terakhir masih SD.

Dia menceritakan kalau dia sudah 10tahun tinggal di Jakarta, pulangnya paling hanya sekitar sebulan sekali itu juga kalau tidak ada kerjaan. Saya jadi semakin penasaran dengan kisah hidup si Bapak ini.

“Terus bapak sendiri dulu memutuskan untuk pindah ke jakarta saat itu udah dapet kerjaan apa cuma modal nekat sambil belum tahu apa yang mau dikerjakan disini?”

“Cuma modal nekat. Ya saya cuma cari kerjaan-kerjaan apa aja yang ada. Awalnya kerja serabutan terus akhirnya saya lari ke rongsokan terus karena saya ga mau terus-terusan seperti itu saya mulai main tambang dan terus mengalami peningkatan. Dari yang awalnya dulu saya cuma tinggal di kontrakan kecil pinggiran kota sambil naik metro mini setiap hari, muka yang sudah seram ini jadi semakin seram karena mainan di jalan terus, Akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk pindah terus akhirnya kontrakan yang agak lebih besar sampai akhirnya saya bisa tinggal di Apartemen dan punya kendaraan sendiri..”

Setelah itu dia menjelaskan tentang betapa tidak efektifnya tinggal di Apartemen karena banyak biaya perawatan dan tektek bengek dan betapa tidak enaknya tinggal di jakarta. Dia bilang sangat tidak nyaman, saya sempat menyela mungkin kalau banyak uang Jakarta menjadi tempat yang sangat nyaman karena kamu bisa dengan mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan? Dia tetap bersikukuh Bahwa Jakarta bukan tempat yang nyaan untuk ditinggali. Untuk bekerja mungkin iyah karena seperti kita ketahui perputaran uangnya sangat..sangat cepat.

“Saya selalu salut loh Pak dengan orang Non-Jawa (Pulau Jawa) yang sering saya lihat sih mereka berani buat keluar dari daerah mereka terus usaha atau sekolah di jawa atau di daerah lainnya. Malah lebih banyak dari mereka sukses. Sukses nya sih relatif ya cuma banyak sekali perubahan baik dalam hidup mereka terutama masalah finansial. Mereka-mereka itu berani sekali.” Puji saya tulus.

Saya benar-benar tulus dan serius ketika mengatakan itu. Karena itulah yang saya lihat sendiri dari Fajar. Kalian mungkin tidak tahu betapa nekat dan gila nya dia ketika melihat penampilannya yang selalu santai dan flat. Itulah diferensiasi dari cowok-cowok Sunda gebetan saya dulu dan cowok-cowok non-sunda (Santai, saya juga orang sunda..no offense LOL) Nyali mereka. Mungkin letak geografis juga mendukung pembentukan sifat-sifat ini, jadi yah sudahlah :p

Oke lanjut cerita

“Iya, karena pilihannya hanya bertahan. Karena di kampung nya sendiri juga tidak ada apa-apa. Makanya kalau ingin perubahan kita harus bertahan..” jawab si Bapak ketika mendengarkan pujian saya.

“Terus pekerjaan bapak sekarang apa?”

“Saya konsultan pendidikan”

“Udah lama?”

“Nggak juga mungkin baru jalan 1 tahun lebih. Dulu setelah saya main di tambang, terus saya jadi Staf ahli DPR itu pake seleksi dan saya lulus, saya nggak lama disana. Karena saya cuma pengen tahu apa sih yang mereka kerjakan disana. ternyata yah begitu seperti yang sudah saya duga. Mereka itu tidak pintar. Yah mungkin secara konsep mereka ngerti tapi secara praktek nya O besar..” Mungkin bapak ini membicarakan Anggota Dewan Yang Terhormat karena yah kita tahu lah kinerja sebagian besar dari mereka seperti apa..

Intinya sih demi aktualisasi diri akhirnya dia membuka konsultan pendidikan itu bersama dua rekannya. Akhirnya percakapan saya lanjutkan ke bagian anak-anaknya. Anaknya yang sedang skripsi itu kuliah di Universitas Hasanuddin Sastra Jepang. Lalu pebincangan kami mengalir dengan sendirinya. Dia banyak menceritakan tentang pahit getir perjuangannya Selama di Jakarta dan meninggalkan keluarganya di Sulawesi.

“Dulu orangtua saya pernah bilang ‘kalau kamu mau usaha untuk anak kamu, jangan pernah takut. Karena Tuhan akan memberikan jalannya..” Ucap si Bapak. “Awalnya saya nggak ngerti maksudnya apa sampai saya dihadapakan sama sebuah kejadian”

Saya tetap menyimak ceritanya dia.

“Dulu beberapa tahun yang lalu. Waktu usaha saya masih sedikit agak sulit, istri saya kecelakaan lumayan parah. Terus anak saya yang paling besar baru mau masuk kuliah. Dia terus menelepon saya, dia tanya saya apa dia jadi kuliah? Saya bilang ‘udah tenang, kamu pasti kuliah. Daftar saja dulu. pesan tiket pesawat bareng sama teman-temanmu’ Habis itu dia daftar dan nyiapin semuanya buat dia kuliah. Semakin dekat ke hari H, dia telepon saya lagi nanya sama saya apa uangnya ada, mungkin dia ragu. Saya bilang ‘yaudah bayar aja itu uang tiket pesawatnya sama buat kontrakan disana, nanti bapak transfer uangnya.”

Saya terus menyimak ceritanya dia. Saat itu saya melihat spirit seorang bapak yang punya keyakinan penuh untuk menyekolahkan anaknya. Bahkan sampai di last minute.

“Saat itu saya sendiri juga bingung harus cari uang kemana. Saya ngga ada uang sama sekali. Tapi di dalam hati saya yakin kalau anak saya ini harus kuliah. Terus tiba-tiba datang telepon dari Pemda Wakatobi katanya ada rombongan mau ke Jakarta dan minta dianter. Bayaran yang akan saya terima  itu pas dengan kebutuhan anak saya. Cukup untuk tiket saya Pulang-Pergi mengantarkan uang dan membekali keluarga saya disana, yah untuk kebutuhan sehari-hari.

Saat itu saya sadar, mungkin ini yah maksud orangtua saya dulu, kalau saya berjuang untuk anak jangan pernah takut jangan pernah hilang kepercayaan. Tuhan pasti memberikan jalan dan kemudahan.. ”

Seketika itu saya bisa merasakan mata saya panas dan agak berkaca-kaca, Mungkin kalau saat itu saya tidak malu oleh seluruh penumpang pesawat, saya sudah langsung menangis meraung-raung sambil bersujud. Dalam hati saya berpikir, coba saya punya ayah seperti ini.

“Betul juga ya Pak, namanya orang mau usaha pasti dikasih jalan..” Ucap saya. dan akhirnya setengah jam kemudian kami sampai di Makassar kemudian saya berpamitan kepada Bapak itu tanpa tahu siapa namanya.

Pertemuan saya dengan Bapak ini saya bilang luar biasa. Saya hanya bisa berbaik sangka kalau Tuhan sengaja mengirimkan Bapak ini untuk saya. Supaya saya tidak berkecil hati lagi. Tidak underestimate kepada diri saya sendiri dan lebih bersemangat lagi. Ah kalau saya ingat-ingat lagi kejadian ini saya sering berdecak kagum sendiri. Saya bisa bertemu dengan orang asing yang mau membagikan pengalamannya sendiri tanpa diminta dan bisa membuat saya berbesar hati kembali. Tuhan masih memperhatikan saya 🙂

Dan detik itulah saya sadar, ketakutan saya selama ini mungkin terlalu berlebihan. One day saya akan menjadi seorang ibu dan sekali lagi itu adalah tugas yang mulia *ceileh*Lagipula saya tidak perlu menghadapinya sendiri kan? Saya punya seorang suami yang baik hati dan harus bertanggung jawab. Hohoho

kemudian saya berpikir lagi, Ketika Tuhan menitipkan seorang anak kepada kita kelak. Tuhan pasti tahu bahwa kita sudah siap dan pastinya Dia sudah mempersiapkan segalanya. Yah hanya Tuhan yang tahu pasti. disini saya hanya bisa menunggu dan berharap semoga keluarga saya terutama keluarga kecil yang baru saya bina ini selalu diberikan yang terbaik dan diridhoi oleh-Nya. Amin 🙂

 

Advertisements

4 thoughts on “At A Random Place, This Stranger Has Changed Me..

  1. well, having baby its a choice (katanya), kalo belum siap yahh nunggu siap aja kali ya. beda sm sarah jessica parker dg Mr.Big di sex and the city. mereka komit ga mau punya anak tp menjalani hidup dengan happy, toh msh bisa urus ponakan atau anak temen. eniwey when u’ve got positive text me darling 🙂

    1. Unfortunately we live in indonesia. Aku ga mau berakhir tua tanpa anak atau ketika tua nanti dan aku sakit-sakitan anakku masih kecil-kecil.. Bhihihihihik.. Yah mudah2an, hal yang membahagiakan ini akan datang di waktu yg tepat.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s