curhatsampah

So What.. if We do DIE-t?

Teteh saya berjalan menuju timbangan yang ditaruh di kolong rak baju. Sudah 4 hari dia sakit flu. Sepertinya dopping tolak angin sudah tidak mempan lagi sampai akhirnya dia terkapar tak berdaya dengan kepala yang rasanya seperti dilindas setum. Itu kata dia loh. Tapi analogi yang wajar mengingat wajahnya yang memang mirip aspal.

Teteh : “semoga 52… semoga 52..”

mata nya saat itu tertutup. Serius berdoa seolah-olah saat itu adalah pembacaan vonis untuk Gayus Tambunan dan berharap Gayus dihukum mati. Artinya? sama-sama tidak mungkin.

Saya : “Hah? 52? emang asalnya berapa?”

Jelas, saya merasa terancam kalau sampai berat badan nya jadi 52 kilogram. Saya semangat menurunkan berat badan, asalkan ada saingan. Namun jelas saya harus menang.. HAHAHAHA

Teteh : “58..”

Saya : “-___________-“

Teteh : “Ah shit, tetep donk. capek-capek nih sakit kalau berat badan ngga turun juga..”

Saya : “HUAHAHAHAHAHAHA… lagian ngarep banget.. orang sakit nya gitu doank”

Oh terang saja saya bahagia. Posisi saya masih aman. Saya masih memimpin dengan perolehan berat badan yang lebih kecil. Saya bersyukur dalam hati, lalu tumpengan – masih dalam hati juga.

Teteh : “Ah tapi ngga kok, ini badan udahberasa ringan. Ini pasti beratnya sama daki aja..”

Saya : “anjrit jorok…”

Ya, kami berdua memang menginginkan tubuh yang langsing seperti iklan di tipi-tipi yang sangat-sangat merusak standar saya sebagai seorang wanita. Bukan hanya ingin terlihat bagus oleh orang lain, tapi dengan jahat nya toko-toko tidak semuanya menjual pakaian dengan ukuran standar manusia biasa. yang ada hanya ukuran wanita-wanita kurus. Kalaupun ada yang menjual pakaian ukuran normal, harganya biasanya mahal.. #nangis

Jika ada yang menghakimi saya dengan ‘ih ngapain capek-capek pengen kurus’ atau ‘ribet banget sih, kayak gue donk santai menikmati hidup’ . Baiklah kalau memaksa, ini cara saya menikmati hidup kok, sumpah.. Lagipula saya punya rencana akhir tahun ini, saya harus menyewa pakaian nya dan yah sama hal nya dengan toko-toko jahat yang tadi saya sebutkan, tempat penyewaan pakaian ini tidak lebih baik hati kok. Jika saya tidak mengikuti standar ukuran pakaian yang ready stock di tempat penyewaan itu, maka saya harus membuat pakaian nya sendiri, dan apa? Dan saya harus mengeluarkan biaya berapa kali lipatnya dari harga sewa pakaian ini. Nah itulah. Jadi jangan selalu memprotes orang-orang yang berusaha menurunkan berat badan mereka. Sebagian besar dari mereka membutuhkan pakaian yang cukup di badan mereka.

Kecuali jika kalian menemukan cewek yang ukuran pakaiannya S female dan masih mengeluh tentang ukuran tubuhnya, kalian boleh memasung mereka, menjahit mulut mereka atau memborgol tangan mereka supaya mereka tidak memasang status apapun tentang keluhan mereka dan berat badan mereka. Orang-orang seperti inlah yang sering membuat saya merasa saya ini sebesar Gajah Afrika dan porsi makan saya sebanyak babi australia.

Kembali ke tempat dimana Saya dan teteh saya melakukan percakapan, tidak lama kemudian terdengar panggilan surga. Panggilan Mamah yang sudah selesai membuat sarapan spesial. Nasi Goreng Cumi. Kami berhamburan ke dapur dan lupa akan niat tulus ikhlas kami akan penurunan berat badan. Selalu seperti itu berulang-ulang. Niat kami terpatahkan dengan wangi masakan Mamah.

“Ah, mulai besok aja dietnya. Obat Dr. Wilbert nya mash ada ini kan?”

That’s our favorite words. Almost everyday. LOL

♡ N ♡

Advertisements

2 thoughts on “So What.. if We do DIE-t?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s