curhatsampah · hot issue · pikiran2saya · superhotcurhat

The Chronicle of Indonesian Government : AFTER BLACKBERRY now HOLLYWOOD MOVIES…

Saya Cinta Indonesia, tapi saya mau pindah kewarganegaraan boleh ya? Kan orang-orang bilang mencintai bukan berarti memiliki.

say goodbye to Hollywood.. peeeepppsss!!

 

What happened to the World?

Belakangan ini banyak berita yang kurang enak, bukan cuma di Indonesia tapi di semua belahan dunia. Yang paling santer adalah revolusi di Afrika Utara dan Beberapa Negara di Arab. Sedih karena bentrok yang terjadi bukan lagi perang antar-negara tapi sudah menjadi perang saudara. Rasanya perang melawan penjajah akan terasa jauh lebih worth it daripada  perang dengan saudara satu negara sendiri.

Tidak berbeda dengan di Jazirah Arab, di Indonesia sekarang banyak sekali berita miring. Berita-berita ini hanya saling menutupi satu sama lain tanpa kita ketahui bagaimana kabar penyelesaiannya. Setelah kabar tentang bentrok  sana-sini yang berlatar belakang Agama, kemarin saya melihat twit teman saya yang berisi bahwa kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada film Hollywood di Bioskop
Tema ini bahkan jadi Trending Topic di Twitter. Saya tidak heran, orang Indonesia memang paling jago bikin Trending Topic. Sangat mudah ikut heboh. hihihi. Tapi intinya banyak pro dan kontra tentang Hal ini. Bagaimana dengan saya? Saya Kontra. paling tidak sampai detik ini. 😀

Untuk yang belum benar-benar membaca sumber nya bisa dicek di detik.com disini

Kalau secara wacana, Hal ini sebenarnya baik. Tentu saja, tidak sedikit loh sebenarnya program pemerintah dan Undang-Undang yang pro rakyat hanya saja disini terlalu banyak orang sok pintar yang mebodoh-bodohi rakyat kecil. Ah oke bukan itu intinya. Mungkin kenaikan pajak ini juga niat awalnya mulia. Kas negara akan semakin banyak dan uang-uang itu bisa dipergunakan untuk subsidi silang. Dan sisi positif lainnya adalah Hal ini bisa jadi turning point para pekerja film Indonesia. Istilahnya mereka akan mendapatkan lebih banyak keuntungan dan film mereka ditonton. Itu sama hal nya dengan kita membantu saudara kita sendiri. Manfaat yang bisa saya lihat baru dua poin ini saja. Kalau ada yang mau menambahkan silahkan sekali.

Salah satu Trit di kaskus ini menjadi referensi saya juga. Entah karena trit ini atau bukan, hanya saja saya lihat TS nya kena bata. hehehe. Padahal TS ini baik hati. dia tidak nyolot loh , *hiks

Banyak yang pro mengatakan kalau film-film Hollywood itu menjajah kita, maka mereka setuju kalau Film-film hollywood ini tidak diedarkan lagi.

Seumur hidup saya menonton film Hollywood, saya pribadi tidak pernah merasa terjajah. Kalau memang film mereka jauh lebih bagus dari film kita sendiri ya mau bagaimana lagi? saya sendiri hanya penikmat film. Saya tidak akan memaksakan diri sok Cinta produk dalam negeri meninggalkan film Hollywood dan beralih nonton Film bokep berkedok Horor karena saya takut dijajah. Padahal film Hollywood itu mengajarkan banyak sekali hal yang baik. Hampir semua film Hollywood berakhir bahagia, mengingatkan kita bahwa kebaikan selalu menang. Bahkan film sekelas American Pie dan Zohan pun punya nilai moral. Meskipun ada seorang tokoh film mengatakan “Tugas filmmaker itu membuat film yang bagus. yang bertugas Tugas mendidik dan mengajarkan nilai moral itu Guru..” . Itu kan pendapatnya dia, kalau saya sendiri suka dengan film yang punya “sesuatu” di dalamnya. Tidak perlu seberat Laskar pelangi film-film Cinta seperti When Harry Meet Sally atau Serendipity pun memberikan saya “sesuatu” . Apakah “sesuatu” itu? banyak. Tapi yang sering saya perhatikan adalah tentang hubungan antar-manusia *ceileh

Kalau pajak nya dinaikan akan bagus sekali untuk kas negara..

Iya bagus sekali untuk kas negara tapi kas nya mau dipakai untuk apa dulu? Kalau untuk menambah gaji anggota DPR yang sudah full fasilitas dan gaji nya sudah sangat besar itu hati saya agak tidak ikhlas nih :D. Bukannya saya pesimis, tapi sya memang tidak percaya kepada pemerintahan saat ini. Jangan jauh-jauh  ke Dirjen pajak yang setiap hari melihat uang-uang upeti yang yah kalau diambil dikit ga akan ada yang nyadar. Petugas kelurahan di tempat saya tinggal saja langsung heboh dan sok mengukur sana-sini lalu minta upeti ketika rumah nenek saya hendak dijual. Bahkan mempersulit Tante saya yang memang berwajah oriental katika mengurus surat Ahli waris. Apalagi nama kakek saya Hoe In Siang jelas-jelas nama orang Chinneese semakin lah surat itu dipersulit. Yeah typical Pegawai Negeri. Intinya, kalau PNS kelas teri saja sudah berani terang-terangan tanpa takut dimarahi oleh atasannya, apa kabar dengan PNS kelas kakap nya? apalagi dengan yang kelas Paus pembunuh? :p

Tidak ada yang bermasalah membayar pajak asalkan penggunaannya tepat sasaran, paling tidak bisa dirasakan oleh seluruh rakyat. sekarang jangankan untuk merasakan positif feedback dari pajak-pajak yang kita bayarkan. dengan melihat berita korupsi di TV sja kita sudah tahu kan uang-uang itu dipakai untuk apa, untuk siapa? Itu baru yang ketahuan. Belum yang tidak ketahuan. jadi kalau menurut saya, sangatlah wajar jika rakyat biasa seperti saya ini selalu berburuk sangka terhadap pemerintah yang kerjaan nya minta naik gaji terus tapi hasil kerja nya tidak ada yang terlihat :p

Negara maju seperti Jerman memasang tarif pajak yang cukup tinggi untuk barang Impor. Kita sebaiknya bisa bercermin dan belajar

seorang agan yang posting disitu menanggapi dengan cukup wise. Itu Jerman. Kita Indonesia. Jerman Negara maju. Kita negara berkembang. lalu kemudian ada pernyataan lagi, justru itu kita harus belajar dari mereka.. Dia mengatakan bahwa untuk belajar menjadi seperti Jerman dalam kasus pajak Impor  ini harus diiringi dengan perbaikan mental para pejabat nya. YES!! ini setuju Bangettt.. kita juga harus belajar ya kan? 😉

Eh, tapi kan bagus mungkin ini usaha pemerintah biar Impor barang ke Indonesia tidak terlalu membabi buta, Jadi orang luar ga semena-mena sama Indonesia..

Maaf sekali saya harus membangunkan orang yang mempunyai pikiran seperti ini dari tidurnya. Life is not as beautiful as you think baby.. especially here in Indonesia. Kalau memang ini tentang pengendalian impor barang, kenapa untuk film yang istilah nya tidak terlalu vital harus dibuat rumit? sementara Pemerintah masih impor beras,kedelai dan cabe dari luar negeri tapi para petani disini masih miskin. Harusnya kalau memang sudah bisa Impor, berarti petani sudah sebegitu sibuknya dan tidak mampu lagi menerima permintaan konsumen barulah minta pertolongan oranglain, ya Impor itu. Artinya? Kalau permintaan banyak, petani juga pasti kaya-kaya donk. Bukannya kaya, petani bahkan sampai pengrajin tempe pun gulung tikar.

kebijakan ini  bagus untuk perfilman Indonesia. Insan Film Indonesia pasti akan bahagia menyambutnya…

Benarkah?

Mari kita lihat lebih dekat lagi. Kembali ke poin diatas tentang betapa saya suka film Hollywood daripada Hantu Goyang Karawang. Apakah kita sudah benar-benar siap menyambut seluruh Theater dipenuhi dengan film Indonesia? kalau Film Indonesia nya bagus sayapun ikut berbahagia. Tapi bukankah kebanyakan Film Indonesia ini tidak jauh dari genre Komedi-Bokep atau Horor-Bokep dan sisanya Film bertema Cinta yang kebanyakan ceritanya tidak jauh lebih spesial daripada FTV di SCTV. Kalau saya jujur belum siap. Apa jadinya kalau anak-anak muda seperti saya ini  *halah* terus dijejali film bokep ber Horor ini? Yah ujung-ujungnya orang-orang tidak akan pernah tahu film bagus itu yang seperti apa.

Lalu apakah orang-orang akan tetap pergi ke Bioskop? Saya tidak tahu, Kalau saya pribadi jawaban nya mungkin tidak. Saya tidak mau mengeluarkan uang meskipun hanya 10 ribu untuk film sekelas Hantu goyang Karawang yang hanya pamer toket itu, apalagi untuk nonton di Bioskop sekelas Blitz? Rasanya tidak Worth it saja kalau uang saya dihabiskan untuk menonton film yang begitu-begitu. :p

Jika orang-orang sudah tidak niat lagi nonton di bioskop, lalu akankah ada orang yang mau menonton film-film nasional itu? Kalaupun ada, tidak akan sebanyak sekarang. Kebijakan ini tidak akan cukup membantu film nasional untuk bangkit. banyak loh kendalanya dijelasin di Timeline nya Joko Anwar Tanggal 19 februari ini tepat disaat saya menulis postingan ini. Mpu nya film aja bingung mau muter dimana film-film nya dia kalau nanti orang-orang udah males ke Bioskop. Nah kita mau sok tahu dengan bilang kalau ini turning point nya film nasional. For sure, pemerintah tidak akan se-peduli itu terhadap dunia film. terhadap kemiskinan saja tidak peka. Apalagi sama film. :p

Sama Halnya dengan Industri Musik

Kalau akhirnya film Hollywood ini akan benar-benar di stop selama-lama nya di Indonesia maka nasibnya tidak jauh berbeda dengan keadaan penikmat musik masa kini. Dimana sudah tidak ada lagi grup band bule di TV, tidak ada lagi Alicia Keys di MTV, tidak ada lagi band sekelas U2 di acara klip dalam negeri atau bahkan minimal boysband sekelas Backstreet boys, atau westlife deh kalau BSB terlalu WAW. sekarang sisanya hanya ada Aura Kasih , Armada dan SM*SH.

Perasaan jaman dulu, anak-anak SMA se alay apapun tetap akan tahu backstreet Boys itu siapa? bahkan hampir semua cewek pada masa itu tahu backstreet boys dan ketampanan Nick Carter yang melegenda. Kalau sekarang yang mereka tahu itu hanyalah wali dan mungkin Justin Bieber karena JB hanyalah satu-satunya penyanyi klimis yang mereka tahu saat ini mereka tidak tahu ada banyak sekali yang seperti itu di Amrik sana. Yang video clip nya tidak tayang di Indonesia. Untunglah radio masih memutarkan lagu-lagu bule, meskipun wajah2 mereka baru diketahui belakangan.

Yah akan seperti itulah keadaan perilman nanti. Selera orang Indonesia akan jatuh kepada Film bokep-Horor atau komedi Jorok. Untuk kalangan ekonomi menengah keatas tidak akan terlalu banyak masalah karena arus informasi sekarang sudah sangat cepat. Akhirnya yang jadi korban ya rakyat-rakyat kelas bawah *no offense* hanya saja saya tidak menemukan anak gahoooolll di deretan penonton inbox. Analogi nya akan sama seperti itu.

Oke, saya suka sekali menonton film. Saya tidak takut kalau sampai tidak bisa menonton film yang saya sukai. DVD bajakan tidak akan pernah mati. Semua hal bisa kita download dari Internet. Selama masih ada orang Indonesia, dan selama aparatur  negara seperti ini, terutama polisi. Maka bisa saya pastikan koleksi film di movie room atau vertex akan selalu lengkap. Sya akan terus bisa menonton.

Tapi sayangnya ini bukan hanya tentang saya atau penikmat film lainnya. para konsumen mungkin hanyalah sebagian kecil  dari pihak yang merasa dirugikan. dalam satu Bioskop saja, ada ratusan orang yang menggantungkan hidup disitu. Mulai dari manajer sampai cleaning service. Di dalam berita pun sudah dibahas tentang hal ini. katanya sekitar 10ribu pekerja bioskop terncam PHK 😦

Dear pemerintah, Kalau pemerintah memang tidak sanggup menanggulangi masalah pengangguran dengan menciptakan banyak lapangan kerja yang layak, paling tidak jangan menambah masalah dengan membuat puluhan ribu orang ini kehilangan pekerjaan dan menjadi masalah baru. Saya tidak tahu apakah pemerintah benar-benar peduli dengan rakyat iya memang ini pertanyaan retoris. Jawabannya bisa jadi tidak peduli, atau yah lumayan peduli tapi tidak banyak.

Ini mungkin cermin dari orang-orang yang jaman kuliah nilai nya bagus-bagus tapi tidak pernah paham betul dengan apa yang dipelajari nya. Tidak peka dan pura-pura buta-tuli. Mereka bilang pajak yang berlaku sekarang untuk film luar ini lebih murah dibanding dengan film nasional, kalau memang itu salah satu masalah dan pemerintah begitu care nya dengan film nasional, kenapa tidak turunkan saja pajak untuk film nasional? pasti mereka tidak mau, karena bukan itu yang mereka inginkan

Saya tidak pernah merasa pemerintah benar-benar peduli kepada rakyatnya. Masalah film ini hanya sedikit bukti dari ketidakmampuan pemerintah menyelesaikan masalah-masalah cetek yang ada. Contoh kecil saja misalkan ada pemerintah yang mau membangun Taman kota dan menjadikan Ibu Kota lebih Indah solusi nya? menggusur perkampungan yang ada disitu untuk dijadikan Taman kota. Itu bukan solusi sama sekali. Kalau gitu doank semua orang pasti bisa. tapi yang harus dipikirkan adalah bagaimana nasib korban penggusuran itu nanti, mereka tinggal dimana dan sebagainya, Setelah mereka punya jawaban bagus untuk permasalahan tersebut, baru itulah solusi.

Mereka bukan bodoh, karena saya yakin meskipun tidak sedikit yang ijazahnya palsu mereka adalah lulusan terbaik dari sekolah terbaik yang sekolahnya pun mungkins ampai S3. Mereka itu jahat. mungkin itu kata-kata yang tepat. Saya tidak yakin kalau mereka benar-benar peduli dengan rakyat, Jangankan untuk memberikan pekerjaan yang layak, ketika kita mempunyai usaha sendiri saja untuk mengurusi surat-surat nya pun mahal nya bukan main, belum lagi pungli lalu jatah untuk aparat sekitar dan lain-lain.

Padahal PR mereka masih banyak sekali. Masalah korupsi, Bencana alam, kasus Century, lalu kasus Hak Asasi Manusia, gizi Buruk, Kesehatan,  pendidikan dan masih sangat banyak lagi. Sekarang mereka mengurusi pajak film dulu. Pengalihan isu? bisa saja. beberapa diantara mereka terlalu jahat dan licin untuk kita bayangkan.

Kalau di Mesir oarang bersatu padu  untuk menurunkan Husni Mubarak, di Tunisia rakyat ingin menurunkan Ben Ali dari kursi kepresidenan. Dan rakyat-rakyat ini masih punya sedikit bayangan tentang siapa yang bisa menggantikan kedudukan presidennya. Paling tidak mereka tahu, siapa yang harus mereka turunkan. Kalau disini, meskipun ada gerakan revolusi pasti mereka bingung karena tidak tahu siapa yang bisa mengganti posisi presiden yang Pro Rakyat, bahkan rakyat tidak bisa fokus, terlalu banyak yang harus diturunkan dari kursi pemerintahan. kalau memang ingin revolusi yang benar-benar serius :p beda dengan tahun 1998 dimana semua orang menginginkan hal yang sama dan tahu siapa yang ingin mereka turunkan.

Oooops.. sudah terlalu Out of  topic. Yah inilah negara yang berkoar-koar mendambakan AFTA, Pasar Global dan semacamnya. Kemarin blackberry, lalu Twitter, lalu sekarang Film Hollywood. Mungkin orang-orang juga terlalu reaktif, tapi kalau tidak seperti itu bisa jadi malah para orangtua itu makin sok tahu hihihih :”>. Rasanya orang Indonesia ini lebih baik hidup di jalan Majapahit saja. lebih cocok jadinya. Tanpa ancaman Blackberry, Twitter sampai film Hollywood. Maunya sih pasar bebas, tapi tontonannya nanti Hantu Goyang Karawang dan musik nya adalah Bukan Bang Toyib dari Wali #muntahdarah.

Oh, ya Kalau sampai wacana ini benar-benar menjadi kenyataan selama-lamanya, pasti ada kok manfaat bagi orang lain. Mungkin penjualan dvd bajakan akan semakin membabi-buta, yang artinya Mamang-mamang DVD mulai dari BIP sampai Kota kembang akan laku keras. Bisa jadi karena persaingan ketat harga dvd pun akan jatuh, nanti bisa-bisa kita mendapatkan dvd di movie room hanya 2500 rupiah saja!!! *ngarep*

Tapi tetap saja, tidak sebanding dengan 10ribu orang yang akan kehilangan pekerjaannya. Hingga detik ini saya masih tidak setuju. Terlalu banyak yang harus dikorbankan. tidak cukupkah pembodohan melalu sinetron terhadap masyarakat? kenapa disaat kita mau sedikit tontonan bagus di Bioskop malah jadi sulit begini. Jangan-jangan momen ini akan dimanfaatkan Mischa untuk melakukan aksi jahatnya terhadap masyarakat dengan membuat “Cinta Fitri the Movie” atau  kita harus menghabiskan sisa hidup kita dengan mengelus dada karena ternyata “Putri yang Ditukar The Movie” masuk sampai sekuel ke 18!!

Amit-amit ya aloh. Sudah cukup lah saya gaptek jangan ditambah dengan tontonan sampah..  kasihan orangtua saya sudah capek-capek membesarkan saya…

mudah-mudahan para pintar itu mau berbaik hati dan mempergunakan otak pintar mereka sedikit saja untuk hal ini. Irfan Bachdim pasti akan sangat menyesal telah di naturalisasi jadi WNI disini. Ga ada film Hollywood meeeennn!!

Advertisements

2 thoughts on “The Chronicle of Indonesian Government : AFTER BLACKBERRY now HOLLYWOOD MOVIES…

  1. yahh..gini deh pemerintah sok nasionalis tapi pke cara yg ngangkat alis *halah
    walaupun kk bukan penikmat bioskop..tapi ngelarang film Hollywood di bioskop Indonesia kayaknya berlebihan deh..hihi

    1. ada update berita terbaru. katanya sih bukan pajaknya yang dinaikin.. ah tapi apapun lah alasannya tetep aja ga bikin film holiwud kembali dan mash tetap mengancam bioskop akan bangkrut *hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s