curhatsampah

Seseorang yang (TIDAK) Harus Diajarkan Menabung

Saya tipe orang yang paranoid. Takut menghadapi masa depan maka sebisa mungkin saya berusaha mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kalau sedang waras saya jadi sering berpikir, hal ini malah membuat saya menjadi orang yang pesimis dan negatif thinking. -,-

Bisa dibilang saya mungkin terlalu serius menghadapi segala hal, karena saya ingin semua hal berjalan lancar seperti apa yang saya bayangkan. Tapi sebenarnya ini malah membuat saya tidak pernah siap menghadapi kemungkinan-kemnungkinan terburuk yang telah terjadi -.-

Masa depan bisa jadi semua hal. Bisa itu berupa pekerjaan yang sedang saya lakukan, Beberapa hal penting yang terjadi dalam hidup saya, ataupun dalam masalah keuangan.

Saya tumbuh bukan sebagai anak yang selalu datang ke Mc. Donalds setiap happy meal mengeluarkan mainan terbaru nya atau anak yang memakai tas dorong ketika saat itu tas dorong menjadi tren. Saya tidak pernah menyesali itu semua sih. Karena mamah saya sejak dulu mendidik saya -secara tidak langsung- untuk mempunyai barang sesuai dengan kebutuhan dan kalaupun mau punya sesuatu, saya harus usaha sendiri. Dan ya, apa yang bisa dilakukan anak umur 10 tahun? Menabung.

Tabungan saya selalu lebih banyak dari teteh saya. Disaat tabungan saya masih satu pertiga dari penuh, tabungan teteh saya sudah dijebol. šŸ˜€ Satu hal yang saya ingat tentang diri saya ini. Saya tidak pernah tidak punya uang. Namun bagian terburuknya, saya tidak pernah mempunyai barang yang saya inginkan.

Kalau tidak salah saya pernah bilang kalau saya adalah seorang anak yang tidak memiliki ketertarikan terhadap apapun – kecuali makanan, hhohoho – keadaan nya tidak terlalu jauh seperti saat itu, Saya ingin sepatu baru, tapi saya sangat sayang sekali kalau harus mengeluarkan tabungan saya selama bertahun-tahun itu untuk kebutuhan Tersier, maka saya berpikir “ah, kalau tidak punya sepatu baru juga tidak apa-apa kok. Sepatu saya yang ini masih bagus juga..” Mungkin kalau ini buku PPKn kalimat ini adalah kalimat dari seorang anak yang terpuju. Tapi bagi saya tidak begitu di kehidupan nyata.

Sampai umur saya dua puluh-an saya masih seperti itu. Kalau Teteh saya punya semua barang mulai dari tas,sepatu,baju, hingga silicon case yang lucu-lucu. Saya malah tidak punya apa-apa LOL. Tapi anehnya uang saya juga tidak bertambah secara signifikan. Kalaupun tidak berkurang, jumlahnya diam di tempat atau hanya bertambah sedikit sekali. Atau ujung-ujungnya habis karena dipakai biaya jalan-jalan. Yap begitulah. Ujung-ujungnya uang saya selalu lari ke bioskop, restoran atau dvd.

Kalau teteh saya dan Ka’ Poldo bilang, saya pelit. Sebenarnya tidak begitu juga sih. Saya hanya takut nanti saya tidak punya uang. Kalau saya bilang begitu lalu mereka akan bertanya
“terus punya uang buat apa?”
“Buat dikumpulin”
“Kalau udah ngumpul?”
“Dibagi-bagiin sama orang..”
Saya hanya menjawab sekenanya, meskipun saya sambil berpikir kalau ucapan mereka benar juga sih.. Tapi untuk mengakui mereka benar. Gengsi donk. šŸ˜€

Mamah saya juga sering mengatakan kepada saya, pakailah uang tepat pada pos-pos nya. Kalau uang itu harus dipakai ya pakai. Jangan punya uang banyak tapi hidup seperti kekurangan. Padahal mamah saya tidak sadar pikiran-pikiran salah kaprah ini tumbuh karena dia juga -,-

Ucapan mereka benar sih. Mamah pernah bilang kalau uang itu dipakai, maka uang lain akan masuk. Tapi kalau kita tidak memakai uang itu, Uang kita tetap saja segitu tidak bertambah. Karena rejeki kita hanya segitu saja. Kalau dipikir2 benar juga sih, Tidak ada cerita orang yang jadi Milyarder karena menabung (saja).

Seperti orang yang punya hutang, entah kenapa selalu ada rejeki untuk membayar hutang tersebut (selama hutang nya masih dalam batas kewajaran dan sesuai kemampuan kita) seperti tante saya yang tidak mempunyai penghasilan tetap, dan dia punya cicilan motor anaknya, Saat cicilan itu masih berjalan, tante saya selalu bisa membayar cicilan setelah semua kebutuhan sehari-hari terpenuhi, tapi ketika cicilan nya habis, uang nya pun tidak pernah jadi terkumpul, Dan entah kemana sebenarnya uang itu. Itu hanya misteri Tuhan.

Kesimpulan sok tahu yang saya ambil sendiri adalah pakailah uang sesuai dengan kebutuhan kita. Dan tepat kepada pos-pos nya. Ketika kita punya Hutang dan cukup uang, mungkin itu rejeki yang diberikan kepada kita untuk membayar hutang. Karena katanya namanya hutang adalah tanggung jawab kita mengenai kepentingan orang lain. Nah bagian ini saya masih sulit mengamalkannya. LOL

Mungkin sebagian orang harus diajarkan untuk menabung. Sedangkan saya harus diajarkan bagaimana cara menggunakan uang. Huahahahahaaha. Mudah-mudahan saya semakin berubah jadi lebih baik dan selagi masih muda dan tidak terlalu sulit untuk mengubah pikiran berlebihan ini. Sehingga saya dan orang-orang di sekeliling saya bahagia #cikiciwww..

Saya akan memikirkan setengah masa kini, dan setengah lagi masa depan. Dan kalau dipikir-pikir saya juga capek sih memikirkan masa depan yang belum tentu akan jadi buruk atau belum tentu akan jadi baik juga. Hahaha. Saya takut sementara yang lain tidak bahkan tidak memikirkan dan tidak ada tindakan sama sekali. Mungkin saya harus meniru mereka. Hahahaha. Hidup itu hanya perlu dijalani dengan baik bukan? Melakukan hal yang kita suka dan terutama menggunakan uang kita untuk kepentingan dan kesenangan kita. Future may never come. ( Kalimat ini hanya supaya orang-orang tidak pelit lagi kok.. :ā€> )

Save your money wisely šŸ™‚

ā™”ā™„ā™”ā™„ nya ā™”ā™„ā™”ā™„

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s